IMG-LOGO
Daerah

Sejumlah Ibu PKK di Kalimantan Tengah Latihan Pimpin Tahlil

Sabtu 1 Desember 2018 6:30 WIB
Bagikan:
Sejumlah Ibu PKK di Kalimantan Tengah Latihan Pimpin Tahlil
Sekadau, NU Online
Beberapa ibu pengajian rutin yang terhimpun dalam Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Permata Babussalam, Desa Tanjung, Kecamatan Sekadau Hilir, Sekadau, Kalimantan Tengah  mengadakan pengajian dengan tema khusus. Yakni yakni latihan memimpin pembacaan Yasin dan tahlil, Jumat (30/11).

Pengajian ini diselenggarakan agar masyarakat khususnya kaum ibu dapat melaksanakan kegiatan Yasin dan tahlil yang selanjutnya akan diadakan rutin setelah shalat Jumat. 

“Diharapkan dengan adanya kegiatan latihan pembacaan Yasin dan tahlil ini selanjutnya akan dibentuk pengajian rutin yang akan diadakan secara bergiliran dari rumah ke rumah,” kata Suhaimina. Sehingga silaturrahim dapat terjalin di antara kaum ibu di kawasan tersebut, lanjutnya.

Istri Ustadz Nur Soleh ini pun berpesan agar kaum ibu yang ikut dalam kegiatan tetap semangat mengikuti program yang telah dicanangkan selanjutnya.

“Juga mampu mengamalkan agama Islam sesuai dengan nilai keilmuan sebagai dasar dalam melakukan ibadah,” ungkapnya. 

Hadir sebagai pengisi materi, Ustadz Bagus Fitrianto yang kini menjabat selaku Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Sekadau. (Ibnu Nawawi)
Bagikan:
Sabtu 1 Desember 2018 22:0 WIB
IPNU dan IPPNU Kalimantan Barat Gelar Dialog Kebangsaan
IPNU dan IPPNU Kalimantan Barat Gelar Dialog Kebangsaan
Pontianak, NU Online
Sebagai rangkaian dari Latihan Kader Utama (Lakut), Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar dialog kebangsaan. 

Tema yang diangkat adalah Meningkatkan Nasionalisme Pelajar terhadap Pengaruh Paham Radikalisme. Kegiatan diselenggarakan di aula Kencana Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalbar, jalan Dr Sudarso Pontianak. Jumat (30/11).

Kegiatan dihadiri utusan dari Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalbar, pelajar muda, Pimpinan Pusat IPPNU, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalbar serta Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) provinsi setempat.

Akbp Munizar selaku Kasubdit Direktorat Intelejen Keamanan Polda Kalbar memaparkan radikalisme yang berkembang di zona Kalbar. 

“Keberadaannya harus diminimalisir dengan keikutsertaan dari kalangan pelajar generasi muda dengan mengikuti kegiatan organisasi yang berdampak positif,” katanya. Dan tentunya tetap menjaga empat pilar kebangsaan sebagai keutuhan negara dan bangsa Indonesia tercinta, lanjutnya.

Dalam pandangannya, radikalisme adalah paham atau keyakinan yang bisa menjadi benih penyebab seorang berbuat teror atau aksi terorisme. “Ajakan jihad yang dilakukan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab selalu mengajak orang lain yang pengetahuannya minim akan agama untuk dijadikan objek sasaran pelaku teror,” ungkapnya.

Endah Sugiarti memberikan sudut pandang secara garis prosesi kaderisasi. Bahwa IPNU dan IPPNU sebagai tombak awal untuk menanamkan rasa nasionalisme. “Yakni dengan yang biasa kita kenal dalam pengkaderan sebutan hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagian dari iman,” jelas Pimpinan Pusat IPPNU ini.

Dalam pandangannya, generasi muda tidak cukup melihat dari casing atau penampilan luar terkait masalah beragamanya. “Karena masih banyak yang minim akan pengetahuan tentang agama, meski penampilannya meyakinkan,” ujarnya. 

Dalam diskusi sekalipun harus diimbangi dengan pengetahuan agama dan umum yang dapat berjalan selaras dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuaan Republik Indonesia. “Dan tentunya perbanyak  membaca sebagai upaya menangkal radikalisme dengan tidak membagi informasi dalam gadget di media sosial kita,” katanya.

Dirinya kemudian menyampaikan data survey membuktikan bahwa wilayah paling harmonis adalah Kalbar yakni 72.4 Persen. “Namun sangat disayangkan lebih harmonis adalah wilayah Nusa Tenggara Timur yang 82,4 persen lebih minim radikalisme,” ungkapnya.

Ia membayangkan jika kegiatan di setiap level organisasi masih konsisten dalam menebar kebaikan seperti IPNU dan IPPNU, akan mampu bergandengan serta dapat berdampingan dengan apatur pemerintahan keamanan dengan pihak kepolisian daerah. 

“Maka segala aktifitas yang berakar dari pelajar di sekolah umum dan negeri seperti Rohis atau biasa disebut rohani Islam akan dapat tercegah,” urainya. 

Karena dampak dari anggota Rohis yang hanya bersanad pada sumber google tanpa guru dapat berpengaruh negatif. “Dan bahayanya lagi mereka bisa menyebar ke tingkat perguruan tinggi dengan mengikuti pendidikan karakter,” keluhnya. Sedangkan tutor yang ada di dalamnya hanya mengandalkan al-Qur'an terjemahan tanpa mengetahui asbabun nuzul, lanjutnya.

Cara efektif untuk generasi muda NU bagaimana mampu masuk ke rumah mereka untuk menyelamatkan dan mengajak ke jalan yang lebih baik. “Tentunya kita harus mampu dan peka terhadap informasi yang berkembang. Jangan sampai akar tersebut tumbuh berkembang menjadi pohon yang akan mengganggu sistem tatanan negara yang heterogen ini terpecah belah,” tandasnya. (Ulil/Ibnu Nawawi)

Sabtu 1 Desember 2018 20:0 WIB
Jalin Kebersamaan, IPNU-IPPNU dan PMII Unwaha Gelar Maulid Bersama
Jalin Kebersamaan, IPNU-IPPNU dan PMII Unwaha Gelar Maulid Bersama
IPNU, IPPNU dan PMII Unwaha Jombang gelar kegiatan bersama
Jombang, NU Online
Perjalanan organisasi Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kerap dinilai tak mesra alias tak harmonis. Kedua organisasi tersebut sama-sama lahir dari NU.

Hal ini diakui Ketua Pengurus Komisariat (PK) PMII Wahab Hasbullah, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Eka Bhakti Setiawan. "Banyak anggapan di luar sana, bahwa PKPT dan PMII selalu berselisih dan tidak harmonis," katanya, Sabtu (1/12).

Namun anggapan itu dibantah oleh kedua organisasi kemahasiswaan itu. Bahkan keduanya bersinergi menggelar kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid al-Haromain Unwaha Tambakberas, Jombang, Sabtu (1/12) sebagai bentuk dari kemesraannya.

"Acara ini bukti hubungan antara PKPT dan PMII bisa menyatu dan semakin harmonis," ujar dia.

Hal yang sama juga sebagaimana diungkapkan Ketua PKPT IPNU Unwaha, Moch. Saiful Anwar. Dengan gelaran Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikemas dengan diba' dan mauidzah hasanah ini, diharapkan tak ada lagi anggapan miring terkait hubungan PKPT IPNU-IPPNU dengan PMII. 

"Selain mengajak para mahasiswa bershalawat mengharap syafaat dari Nabi Muhammad SAW, hal ini dapat pula mempererat hubungan antara kedua organisasi ekstra kampus yang kerap kali dianggap berselisih," ucapnya.

Hadir pada kesempatan ini sejumlah anggota dan pengurus dari masing-masing organisasi. (Brenda Aprillia/Syamsul Arifin/Muiz)
Sabtu 1 Desember 2018 19:0 WIB
Ini Langkah PCNU Jombang Majukan Jamiyah dan Sejahterakan Jamaahnya
Ini Langkah PCNU Jombang Majukan Jamiyah dan Sejahterakan Jamaahnya
foto: ilustrasi
Jombang, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur KH Salmanudin Yazid Al-Hafidh pada berbagai kesempatan menyampaikan terkait komitmen PCNU untuk memajukan jam'iyah (organisasi) serta kesejahteraan jamaahnya (nahdliyin). 

Di antara langkah yang dimaksud adalah segenap Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dengan jumlah 21 MWCNU harus punya kantor. Hal itu untuk memudahkan melakukan komunikasi dan koordinasi antarpengurus. "Semua MWCNU dalam 5 tahun ini harus punya kantor semua," ucapnya di Jombang, Sabtu (1/12).

Saat ini diakuinya dari 21 MWCNU setidaknya masih ada 4 MWCNU yang belum memiliki kantor. Namun demikian, pada 2019 mendatang 3 kantor MWCNU ditargetkan rampung. Di antaranya MWCNU Plandaan, Tembelang, dan Wonosalam.

"Saat ini dari 21 MWC tinggal 4 MWC belum punya kantor," ujar Gus Salman sapaan akrabnya.

Keberadaan kantor menurutnya sangat urgen. "Kalau tidak punya kantor, akan sulit dalam melakukan koordinasi dan konsolidasi. Makanya harus punya kantor," ucapnya.

Selanjutnya, selain masing-masing MWCNU memiliki kantor, di setiap MWCNU pula harus didirikan Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU). Pendirian BMTNU dimaksudkan untuk membantu menjembatani perekonomian warga NU. Warga NU, kata dia, nantinya bisa menabung serta pinjam modal usaha.

"Dan semua MWCNU harus memiliki BMTNU, saat ini sudah ada 10 MWCNU yang punya BMTNU. Sampai 2022 nanti semua MWCNU harus punya BMTNU," ungkapnya.

Melalui sejumlah BMTNU di setiap MWCNU itu juga, timpalnya, setidaknya PCNU nanti memiliki dana abadi untuk membiayai operasional kegiatan PCNU dan berbagai lembaganya. 

"Saya berharap PCNU ke depan memiliki dana abadi untuk membiayai operasional dan program PCNU. Karena dengan dana abadi ini PCNU bisa mengembangkan organisasi," tuturnya.

Kemudian dalam bidang kesehatan, PCNU menargetkan ada 5 Klinik Pratama yang didirikan di bawah koordinasi 5 MWCNU. Meski khusus hal ini diakuinya cukup alot. Terbukti sejak merencanakan pendirian Klinik tepatnya pada akhir tahun 2016 lalu baru ada 1 Klinik yang sukses berdiri di bawah naungan MWCNU Jombang.

"Baru pada tanggal 25 November 2018 Klinik Pratama MWCNU Jombang diresmikan oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuqi Mustamar," tuturnya.

PCNU di Kota Santri ini juga mengupayakan menyentuh warganya yang berlatar belakang petani. Para petani NU bisa mendapatkan pupuk organik cair (POC) dan nutrisi organik cair (NOC) untuk meningkatkan kualitas pertaniannya.

"PCNU Jombang melalui Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) mengembangkan pupuk organik, dan saat ini sudah mulai ada yang panen dan cukup berhasil," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG