IMG-LOGO
Nasional

Had Zina Dijalankan, Bukti Sultan Tak Kebal Hukum

Sabtu 1 Desember 2018 20:30 WIB
Bagikan:
Had Zina Dijalankan, Bukti Sultan Tak Kebal Hukum
Tadarus Islam Nusantara di Unusia Jakarta
Jakarta, NU Online
Sulitnya pembuktian zina menjadikan hukum tersebut hampir hanya menjadi sebuah teori saja. Praktis, hampir tak pernah ada had berupa cambuk bagi yang belum menikah dan rajam bagi yang sudah menikah itu dilaksanakan.

Namun, hal ini pernah terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh. Tak tanggung-tanggung, pelaku zina tersebut adalah putra mahkotanya sendiri sehingga ia harus meregang nyawa akibat lemparan batu padanya.

"Putra mahkota Sultan Iskandar Mahkota Alam (Sultan Iskandar Muda) dirajam sampai mati karena berzina," jelas Mohd Syukri Yeoh Abdullah, Guru Besar Universitas Kebangsaan Malaysia pada Tadarus Islam Nusantara dengan tema Manuskrip Nusantara dalam Diskursus Budaya Melayu di Griya Gus Dur, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, pada Jumat (30/11) malam.

Sebelumnya, katanya, hudud (hukuman) itu memang tidak berlaku meskipun ada ketetapan hukumnya. Hal itu bisa terjadi mengingat tidak ada hakim (qadli) sampai Sultan Iskandar Muda memerintah.

Di masanya, datang Syekh Fairuz, seorang ulama dari Baghdad yang hijrah ke Aceh setelah 11 tahun di Lebanon. Kepergiannya dari Baghdad itu mengingat gejolak politik yang terjadi di sana.

Peristiwa tersebut, terang Syukri, menunjukkan keadilan seorang putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah itu. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa sultan bukanlah orang yang kebal akan hukum.

Kegiatan yang dipandu oleh Ketua PKIN Idris Masudi itu dihadiri oleh Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Mastuki HS, Filolog Adib Misbahul Islam, Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabaroh Al-Nahdliyah (MATAN) DKI  Jakarta Ali M Abdillah, dan dosen-dosen serta mahasiswa pascasarjana Unusia. (Syakir NF/Muiz)

Bagikan:
Sabtu 1 Desember 2018 23:45 WIB
Syekh Al-Azhar: Juru Dakwah Harus Utamakan Akhlak
Syekh Al-Azhar: Juru Dakwah Harus Utamakan Akhlak
Syekh Samman Ahmad (kiri) saat mengisi Kiswah di PWNU Jatim.
Surabaya, NU Online
Ada pemandangan berbeda pada kegiatan Kiswah atau Kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah di mushalla Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Karena Syekh Samman Ahmad dari Kairo, Mesir turut serta pada kegiatan yang biasanya diisi oleh KH Marzuki Mustamar tiap Sabtu malam. 

Kehadiran Syeikh Samman Ahmad merupakan rangkaian dari dakwahnya di Indonesia, termasuk di Pondok Pesantren Al-Hikam Depok.

Syekh Samman mengatakan watak Islam yang berhasil dalam mengembangkan dakwah di seluruh dunia yaitu menerapkan konsep tawassuth atau moderat, jalan tengah, serta tasamuh (toleran).

“Untuk menarik perhatian masyarakat, para juru dakwah harus mengutamakan akhlak yang baik,” kata Syekh Samman, Sabtu (1/12) malam. 

Dalam pandangannya, sukses dakwah dalam perjalanan Islam di Indonesia, dilakukan dengan menghadirkan Islam yang ramah dan murah senyum. “Bukan wajah Islam yang garang atau marah,” jelas Syekh Samman yang diterjemahkan oleh KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim.

Hal itu telah menjadi ciri khas ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah yang berkembang di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Selain itu Syekh Samman mengatakan Islam saat ini mendapat banyak serangan, baik dari kelompok kanan maupun kiri. Sehingga menjadikan wajah Islam kurang menarik dan seram. 

“Nah, di sinilah pentingnya kita mengedepankan wajah Islam wasathan yakni Islam yang mengambil jalan tengah, moderat dan toleran,” ungkap dosen Universitas Al-Azhar Kairo Mesir tersebut.

Mengutip Ibnu Katsir, bahwa umat Islam dijadikan Allah sebagai umat terbaik dan mulia karena nabinya. “Nabi Muhammad SAW dihadirkan sebagai sosok mulia yang mengedepankan akhlak yang baik,” tuturnya di hadapan jamaah yang memadati mushalla.

Syekh Samman Ahmad mengucapkan terima kasih karena diterima di PWNU Jatim. Dan dirinya juga menyampaikan bahwa saat ini, pentingnya untuk menyampaikan dakwah Islam yang moderat dan adil. 

“Kehadiran kami di sini, semoga mendapat ridha dan mendapat ganjaran dari Allah SWT,” tutupnya. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)

Sabtu 1 Desember 2018 21:30 WIB
Kepala BNPB Apresiasi Kinerja NU Peduli
Kepala BNPB Apresiasi Kinerja NU Peduli
Kepala BNPB Willem Rampangilei
Jakarta, NU Online
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei mengapresiasi kerja-kerja NU Peduli yang aktif melakukan penanganan dampak bencana, khususnya di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah.

Hal itu seperti terungkap dalam video Kepala BNPB: Pemerintah Merasa Sangat Terbantu.

"Assalamualaikum warrahmatulllahi wabarakatuh. Saya Willem Rampangilei, kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Dalam kesempatan ini saya memyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada NU Peduli yang telah bekerja keras di daerah bencana yaitu yang terakhir adalah di NTB (meliputi) Lombok, Sumbawa dan Sumbawa Barat, dan Sulawesi Tengah meliputi Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Mountong," kata Willem dalam video tersebut.

Menurut Willem, kehadiran NU Peduli betul-betul dirasakan oleh masyarakat. "Pemerintah merasa sangat terbantu dengan kehadiran NU Peduli ini," imbuhnya. 

Untuk diketahui NU Peduli proaktif melakukan penangan usai kejadian bencana alam gempa bumi Nusa Tenggara dan Sulawesi Tengah. Gempa bumi NTB dengan dampak terbesar terjadi Ahad 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 SR. Gempa bumi susulan terjadi ribuan kali termasuk yang berkekuatan 7 SR.



Sejak pekan pertama, NU Peduli terjun membantu warga terdampak dengan memberikan bantuan logistik, tenda, air bersih, pakaian, psikososial, layanan kesehatan. Memasuki masa pemulihan, selain bantuan logistik juga membangun hunian sementara bagi warga terdampak. Tak hanya itu bantuan pembangunan rumah ibadah, pondok pesantren dan madrasah juga dilakukan.

Tak berbeda dengan penanganan di NTB, di Sulawesi Tengah NU Peduli juga memberikan bantuan bagi warga dan daerah terdampak. Hal itu sesuai dengan prinsip bahwa bagi NU bencana alam di mana pun terjadinya, NU ikut berbelasungkawa dan terpanggil untuk memberikan bantuan. Di Sulawesi Tengah bencana selain disebabkan oleh gempa bumi juga likuifaksi dan tsunami.

Di lapangan, NU Peduli merupakan gabungan dari lembaga-lembaga dan badan otonom (Banom) NU. Para relawan berasal dari lembaga dan Banom tersebut, sementara pengumpulan dana (fundraising) dilakukan oleh NU Care-LAZISNU sebagai lembaga NU yang memiliki wewenang melakukan penggalangan dana.

Saat ini, baik NU Peduli NTB maupun Sulawesi Tengah masih terus bergerak membantu warga terdampak. Penanganan bencana NU Peduli mengikuti ketentuan pemerintah di mana dilakukan hingga enam bulan setelah kejadian. (Kendi Setiawan)

Sabtu 1 Desember 2018 21:0 WIB
Nabi Muhammad, Sosok yang Tak Pernah Habis Dipelajari
Nabi Muhammad, Sosok yang Tak Pernah Habis Dipelajari
Foto: KH Muhammad Nur Hayid

Jakarta, NU Online
Saat menjadi pembicara pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Majid Raya Baitul Makmur yang dikeloala Pemprov DKI Jakarta, Ahad (1/12), KH Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid) mengungkapkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok teladan dan panutan yang tak akan pernah habis dikaji dan dipelajari. Ia mengajak umat Islam khususnya para generasi muda untuk menjadikan Rasulullah teladan dan panutan dalam bergaul dan menjalani kehidupan di dunia ini.

"Kalau kita ingin selamat di dunia dan di akhirat serta dicintai Allah dan Kanjeng Nabi, maka ayo kita berkomitmen, berniat menjadikan sang junjungan Muhammad SAW sebagai uswah dan teladan terbaik. Kalau kita bisa, dijamin surga dunia dan akhirat pasti akan ada dalam genggaman," tegas Pengasuh Pesantren Skill Jakarta ini.

Salah satu cara paling mudah untuk bisa meneladani Rasulullah sepenuh hati adalah dengan mengerti dan memahami sosok beliau serta sejarah kehidupan perjuangannya. Oleh karenanya, membaca sejarah dalam sirah nabawiyyah, maupun dan sunah dan hadits beliau serta membaca Al-Qur'an adalah keniscayaan yang harus dilakukan.

"Sebab, kalau ingin tau siapa Rasulullah, bagaimana akhlak Rasulullah, ya kita harus baca Al-Qur'an dan hadits serta sunah-sunah beliau. Maka momentum peringatan Maulid Nabi yang kita gelar tiap tahun ini sejatinya adalah waktu yang pas untuk kita mengecek diri kita sudahkah seiring bertambahnya umur kita menjadi lebih baik dan bisa meneladani Rasulullah?. Artinya kita semakin dekat dengan Allah dan cinta rasul-Nya," terang pengurus Komisi Dakwah MUI pusat ini.

gus Hayid juga menegaskan jika umat Islam bisa memaknai berulangnya peringatan Maulid Nabi dengan komitmen untuk menjadi lebih baik dan lebih taat kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah, maka umat Islam akan bisa merasakan indahnya kerinduan kepada sang pujaan Rasulullah SAW.

Namun jika peringatan maulid hanya dijadikan seremonial belaka, maka sangat disayangkan karena pasti hanya akan menambah kegersangan demi kegersangan kegiatan yang kita lakukan.

"Wujud paling sederhana kalau acara maulid punya efek dalam kehidupan kita adalah sudahkah diri kita terus dan selalu memperbanyak bacaan shalawat kepada kanjeng nabi? Lalu diri kita menjadi pribadi yang terus ingin mencontoh dan meneladani kanjeng nabi. Bersikap lemah lembut dan penuh cinta serta menjauhkan diri dari sikap kasar, dzalim, caci-maki dan perilaku hoaks. Kalau kita bisa merasakan efek ini, sungguh kita lah orang yang sedang dirindukan Kanjeng Nabi Muhammad SAW," pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG