IMG-LOGO
Humor

Mengaku Menerima Wahyu Allah

Ahad 2 Desember 2018 17:0 WIB
Bagikan:
Mengaku Menerima Wahyu Allah
Gua Hira, tempat Muhammad menerima wahyu untuk pertama kali. Foto: Screenshoot YouTube
Muhammad diangkat Allah sebagai nabi dan rasul terakhir saat usianya 40 tahun. Kemudian Muhammad ‘mendeklarasikan diri’ di hadapan masyarakat Arab bahwa dirinya adalah seorang yang diutus untuk menyampaikan risalah Allah. Di awal-awal, ada yang percaya dan beriman kepada Muhammad. Tapi lebih banyak yang menentangnya, bahkan memusuhinya.

Alasan mereka yang menolak kerasulan Muhammad pun bervariasi. Mulai dari faktor ekonomi hingga iri hati. Mereka tidak rela kalau yang menjadi pembawa risalah Tuhan adalah Muhammad. Maka kemudian muncul nabi-nabi palsu, orang-orang yang mengaku mendapatkan wahyu dari Allah. Baik pada saat Nabi Muhammad maupun sepeninggalnya.

Salah satunya adalah Mukhtar as-Sakafi. Mukhtar dikenal sebagai seorang yang mencampuradukkan konsep agama untuk tujuan politik. Ia mengklaim bahwa pemikiran-pemikirannya soal agama tersebut berasal dari Allah. 

Cerita soal Mukhtar yang mengaku kalau dirinya menerima wahyu dari Allah ini sampai di telinga Abdullah ibnu Umar, putra Umar bin Khattab. Ibnu Umar merupakan sahabat Nabi Muhammad saw. yang cerdas dan memiliki sikap hati-hati. Ia masuk Islam ketika masih anak-anak, sebelum usia baligh.

Ibnu Umar hanya memberikan respons santai tapi menukik ketika ada seseorang yang melapor kepadanya tentang Mukhtar tersebut. Mula-mula, Ibnu Umar menjawab kalau klaim Mukhtar itu adalah benar. Ibnu Umar lantas mengutip salah satu firman Allah QS. Al-An’am ayat 121 tentang hal itu.

“Klaimnya benar, karena Allah berfirman, ‘Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya,” jawab Ibnu Umar yang mengibaratkan Mukhtar sebagai teman setan. (Muchlishon)

Kisah ini disadur dari buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasdelen, 2014)
Bagikan:
Rabu 28 November 2018 12:30 WIB
Gus Dur dan Pilpres 2004
Gus Dur dan Pilpres 2004
Menjelang kampanye pemilu presiden putaran pertama tahun 2004 silam, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menanggapi sejumlah hal terkait partai politik maupun aktivis-aktivis parpol yang ada di dalamnya.

Kala itu, Gus Dur diwawancarai oleh seorang wartawan. Wartawan tersebut bertanya kepada Gus Dur dari mulai PPP dengan Hamzah Haz-nya hingga Amin Rais yang saat itu menjadi salah satu kontestan pilpres.

Wartawan: “Gus, mengapa kampanye PPP selalu rame?”

Gus Dur: “Sebab tiap suami membawa empat istri.”

Wartawan: “Mengapa sampai kapan pun Bulan Bintang tak akan menang?”

Gus Dur: “Karena masih ada matahari.”

Wartawan: “Menurut Anda, partai-partai mana saja yang sealiran?”

Gus Dur: “Keadilan Sejahtera, Damai Sejahtera, dan Buruh Sejahtera.”

Wartawan: “Menurut Anda, jabatan apa yang cocok untuk Pak Amin Rais?”

Gus Dur: “Kepala Bulog, biar seneng terus ngurusin Rice.”

Wartawan: “Kemarin Anda sudah berkunjung ke SBY, di mana sekarang SBY berada?”

Gus Dur: “Sampean ini piye toh, dari dulu SBY (Surabaya) ya ada di Jawa Timur.” 

(Ahmad)


*) Disarikan dari buku Gus Risang, ‘Humor Gusdurian’ (2011)
Rabu 28 November 2018 7:25 WIB
Orang Pintar dalam Pilpres
Orang Pintar dalam Pilpres
Semasa hidup dan pasca tak lagi menjabat Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tak lepas perhatian dari sengkarut perpolitikan tanah air, termasuk pemilihan presiden (pilpres).

Beberapa hari menjelang pemilihan presiden, Gus Dur didatangi sejumlah wartawan. Mereka hendak mewawancarai Gus Dur perihal pilpres yang suasananya sedang memuncak.

Seorang wartawan bertanya, “Menurut Anda, untuk saat ini partai politik mana yang memiliki peluang besar untuk menang, Gus?”

“Wah, saya juga nggak ngerti tuh, soale kan pemilihan sekarang dilakukan langsung oleh rakyat, jadi ya kita lihat saja nanti,” jawab Gus Dur enteng.

“Oh iya Gus, mengapa dalam setiap kampanye, mereka, parpol-parpol itu senang sekali membodohi rakyat,” tanya wartawan lagi.

“Soale kalau pintar, rakyat nggak bakalan mungkin milih parpol-parpol itu. Orang pintar kan milih T*lak *ngin,” seloroh Gus Dur membuat tawa para wartawan pecah. (Ahmad) 


*) Disarikan dari buku Muhammad Wahab Hasbullah, 'Ngakak Bareng Gus Dur' (2010)
Selasa 6 November 2018 3:0 WIB
Peci Santri
Peci Santri
foto ilustrasi
Dalam kehidupan pesantren,  guyonan sesama santri menjadi hal biasa. Bahkan tak jarang pula, diantara santri saling 'ngerjain' temannya dengan maksud bercanda.

Suatu hari di sebuah warung kopi sebelah pesantren, beberapa santri menikmati kopi dan sarapan pagi. Kang Mamat, seorang santri yang lama tidak ke warung, datang dengan penampilan memakai sarung dan peci butut agak kusam.

Setelah pesan wedang kopi dan nasi pecel, kang Mamat duduk bersama santri lainnya. Mereka saling ngobrol dan menikmati sajiannya. Obrolannya pun ringan mulai dari soal kegiatan santri sehari-hari sampai guyonan yang menyegarkan.

"Kang Mamat, pecimu kok antik," tiba-tiba Agus nyeletuk.

"Iya tho, meskipun terlihat kusam, peci ini sangat berharga bagiku," Sahut Mamat.

"Peci kumut-kumut begitu, emange kenapa kang?," ucap santri lainnya.

"Ya gak kenapa-kenapa sih, kalau kamu minat silakan beli 200 rbu,!" jawab mamat berkelakar.

"Walah, peci begitu 200 ribu, siapa yang mau," tanya Agus agak jengkel.

Tanpa menjawab, kang Mamat mengeluarkan uang yang terselip dalam pecinya untuk membayar kopi dan nasi uduk.

"Seandainya kamu tadi mau bayar 200 ribu, kamu masih untung 100 ribu. Karena ini ada 300 ribu hehehehe," kata kang mamat sambil menunjukkan uang dalam lipatan pecinya.

Agus dan santri lain yang sedang jajan di warung, hanya tersenyum sambil melongo melihat 'ulah' Mamat.

Memang, santri seringkali menjadikan peci sebagai dompet untuk menyimpan uang. Karena, Santri suka memakai sarung yang tidak ada sakunya. Dibalik lipatan peci tersimpan uang secara rapi dan aman. (Qomarul Adib/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG