IMG-LOGO
Esai

Lafal Tauhid dan Tradisi Meniru pada Seni Kaligrafi

Selasa 4 Desember 2018 13:15 WIB
Bagikan:
Lafal Tauhid dan Tradisi Meniru pada Seni Kaligrafi
Oleh Didin Sirojuddin AR
التقليد فى الخط وسيلة من وسائل التجويد

Artinya, "Meniru kaligrafi termasuk salah satu sarana untuk mempercantik tulisan."

Belakangan ini lafal tauhid menjadi perbincangan publik. Saya jadi teringat pada tradisi taqlidul khat (تقليدالخط) yang populer di kalangan kaligrafer.

Taqlid yang berarti meniru/menjiplak/mengimitasi/mereplika digunakan sebagai sarana belajar-mengajar kaligrafi dengan mencontoh karya guru oleh murid-muridnya secara bergiliran atau semata meniru untuk menyamai karya aslinya.

Banyak kata pilihan yang sering ditiru, salah satu yang populer dan banyak diidolakan adalah kalimat tauhid:

لاإلـــه إلااللـه محمـــدرســـول اللـه

Kalimat tauhid dengan Khat Tsulus yang indah ini mula-mula ditulis oleh Muhammad Syafiq, kaligrafer kelahiran Istanbul 1235 H/1820 M, wafat 1297 H/1880 M, yang ditiru oleh Abdul Muta'al Muhammad Ibrahim.

Sekian tahun kemudian, Sami Afandi (lahir di Istanbul 1253 H/1838 M) menirunya yang ditiru lagi oleh  Ahmad Arif Al-Falbawi (perbatasan Bulgaria, 1246 H/1830 M-1327 H/1909 M), lalu ditiru lagi oleh Ismail Haqqi (lahir di Istanbul 1289 H/1873 M).

Peniruan berlangsung terus tanpa henti karena kalimat tersebut merupakan "deklarasi prinsip" setiap Muslim. Bahkan,  sebagiannya dijadikan masyaq  untuk latihan murid. Variasinya berkembang bersama kata-kata idola lain seperti lafal basmalah berikut ini:

بســــــــــــم الله الرحمن الرحيــــــم

yang ditulis oleh Mustafa Raqim, lalu ditiru oleh Abdul Aziz Al-Rifa'i, ditiru lagi oleh Abbas Al-Baghdadi sampai seluruh kaligrafer menirunya.

Ada yang menarik tentang masyaq/مشق yaitu lembar "coret-coretan guru" yang ditiru murid-muridnya untuk memperlancar tulisan. Dr Afif Al-Bahnasi mendifinisikan masyaq (jamaknya  amsyaq/أمشاق) sebagai berikut:

سلاسة الخطوط وسرعتها وامتدادها

Artinya, “Kelancaran tulisan, kecepatannya, dan memanjangkan tarikannya).”

Masyaqal khatta (مشق الخط) berarti "menulis khat secara lancar". Guru khat zaman dulu  mempergilirkan selembar masyaq kepada murid-muridnya karena belum ada alat pengganda seperti fotokopi di zaman now.

Kata guru, kira-kira begini: "Miiid, Hamid, tirulah tulisanku sampai sama persis. Kalau selesai, kasihkan sama Mustafa, kemudian kepada Fatimah. Terus tiru lagi oleh yang lainnya ya."

Masyaq coretan tangan guru pun ditiru atau dijiplak habis oleh semua muridnya sampai mantap sempurna atau persis 100 %.

Masyaq  terhubung dengan kata masyaqqah/مشقة yang berarti "kesulitan" karena kaligrafi itu sulit (الخط أمرصعب), "Setiap permulaan juga sulit" (Every beginning is difficult) sebagai pintu gerbang ke "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (فإن مع العسر يسرا).

Yang terpenting, masyaq adalah sarana belajar-mengajar kaligrafi yang mewariskan tradisi taqlidul khat/تقليد الخط (yaitu meniru/menjiplak kaligrafi) yang kini berkembang di kalangan khattat Timteng dengan teknologi komputer yang canggih.

Menurut ahli pendidikan kaligrafi Mesir, Fauzi Salim Afifi, "Meniru karya para khattat besar termasuk tahap pertama namun sekaligus pula tahap terakhir belajar kaligrafi," karena ketika mulai belajar, kita meletakkan lembaran contoh latihan para master kaligrafi di depan mata kita kemudian menirunya dari huruf alif hingga ya yang dilanjutkan kepada huruf-huruf sambung.

Tahap berikutnya, murid meniru penuh karya gurunya lalu pindah kepada karya-karya guru yang lain sehingga tangannya "Menemukan teknik dan karakter guru-guru tersebut bahkan jadi bagian dari karakter mereka."

Di kampus-kampus seni rupa Indonesia, hal sama terjadi ketika dosen menugaskan mahasiswa untuk meniru 10 karya pelukis besar seperti Picasso, Salvador Dali, Monet, Renoir, Rembrandt, Da Vinci, Van Gogh, Mat Rothko, Johan Pollock, Wassili Kandinsky, dan lain-lain dengan tujuan agar tangannya akrab dan senyawa dengan karakter lukisan mereka.

Para khattat besar dan pelukis maestro semuanya telah pernah menempuh cara-cara saling tiru  tersebut. Maka, meniru bukan barang tabu. Bila ingin maju, harus belajar dengan meniru.

Dari file riwayat, dikenal para murid hebat seperti Abdullah Zuhdi, Sayid Al-Rifa'i, Muhammad Arif, Ismail Haqqi, Jalaluddin, Mir Imad Al-Huseini, Hamid Al-Amidi, dan lain-lain meniru para guru seperti Hafizh Usman, Mustafa Raqim, Mustafa Izzat, Muhammad Syafiq, Muhammad Sami, Muhammad Mu'nis, dan lain-lain sehingga para murid tadi menjadi guru yang ditiru kembali oleh murid-murid lain berikutnya seperti Muhammad Ja'far, Muhammad Ridwan, Muhammad Mahfuzh, Sayid Ibrahim, Najib Hawaweni, Muhammad Husni, Muhammad Abdul Kadir, Muhammad Al-Syahat, Muhammad Al-Haddad, Hasyim Muhammad Al-Baghdadi, dan lain-lain.

Akhirnya murid-murid ini pun menjadi guru-guru yang ditiru lagi oleh orang yang berusaha mempercantik tulisan mereka sekarang, esok, dan esoknya lagi. Tradisi ini menjadi semacam tradisi sanad dalam lingkup ilmu hadits.

إذن فالتقلــيد وســـيلة من وســائل التجويد

Dengan demikian, meniru merupakan salah satu sarana meningkatkan “kecantikan”.

*) Penulis adalah pengurus Lembaga Kaligrafi (Lemka) dan pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi. Maestro kaligrafi ini juga mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Bagikan:
Jumat 30 November 2018 2:0 WIB
Banser dan sepatu Hansip
Banser dan sepatu Hansip
Banser Hasbulloh
Oleh Abdullah Alawi 

Hasbulloh dia punya nama,  tinggal di desa Cimerah, Tasikmalaya. Lahir di tanah perjuangan KH Zainal Musthafa, pahlawan santri yang berdiri tegak melawan penjajah.

"Leuwih hade balik ngaran daripada kudu seikerei (lebih baik baik pulang tinggal nama daripada harus menunduk ke arah Tokyo, seikerei).”

Hasbulloh, 38 tahun sudah menjadi Banser. Sebelumnya, 12 tahun aktif di Pemuda Ansor yaitu sejak 1970 hingga 1982. Namun, bukan berhenti sama sekali karena ia memilih aktif di Banser, salah satu badan otonom di GP Ansor. Pada tahun yang sama, ia diminta RT setempat untuk menjadi anggota Pertahanan Sipil (Hansip) atau sekarang Linmas. Ia menyanggipinya. 

“Saya tentara NU merangkap tentara RT,” kata Hasbulloh.   

Kedua aktivitas itu bertahan di bahunya hingga kini. Dan khusus untuk Banser, ia tak mau pensiun.  

Usianya kini 74 tahun. Namun, masih segar. Pendengaran dan penglihatannya masih normal. Ia tinggal sendirian karena istrinya telah meniggal lima tahun lalu. 

Usianya makin tua sebetulnya menjadi pertimbangan pengurus GP Ansor Tasikmalaya untuk tidak melibatkannya dalam kegiatan. Sekali waktu pernah ada kegiatan Ansor tanpa memberitahunya. Bukan malah senang, Hasbulloh malah besar. Akhirnya kegiatan-kegiatan apa pun diberi tahu. 

Bagi Hasbulloh jika tak ada kegiatan NU dan sebangsanya, sepertinya hidup terasa hampa. Gatal. Ia akan menjadi makhluk yang menopang dagu di kediamannya.

Menjadi Banser sebetulnya bukan kegiatan yang bergelimang uang. Untuk pergi ke kegiatan Banser, sering tak mempunyai uang sepeser pun. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk berangkat. 

Pada peringatan Hari Santri Nasional tahun ini, 22 Oktober lalu, dia mendapat jatah jaga di Cipasung. Untuk pergi ke pesantren itu, ia harus meminjam uang kepada anaknya sebesar 20 ribu rupiah. 

Uang itu habis untuk untuk membeli bensin motor teman sesama Banser yang ditumpanginya. Beruntung, sepulang acara itu, ia diberi uang 25 ribu oleh panitia. Setelah membayar lunas kepada anaknya, ada sisa  ribu rupiah. 

Apa sebetulnya yang membuat dia bertahan di Banser. Sebetulnya hanya dia dan Tuhan yang tahu. Namun, pengakuannya adalah karena turut serta dengan kiai. Dengan menjaga kegiatan-kegiatan NU menjadi bagian dari ladang amalnya. 

Hasbulloh, jangankan seperti kalian, berusaha membangun rumah atau membeli kendaraan, untuk membeli sepatu Banser pun tidak mampu. Sepatu yang digunakannya dalam bertugas selama ini, adalah sepatu Hansip. 

Jika Saudara ingin tahu apakah di hatinya ada kalimat tauhid, la ilaha illallah muhammadur rasulullah, belahlah dada makhluk yang saban malam tahajud ini!



Kamis 29 November 2018 3:0 WIB
Sontog Akherat Santri Sunda
Sontog Akherat Santri Sunda
Oleh Warsa Suwarsa

Ghirah jika diterjemahkan secara lugas berarti gairah atau semangat keislaman umat Islam di Indonesia merupakan salah satu keinginan umat agar ajaran ini benar-benar tegak berdiri dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sebagai akibat karena selama tiga puluh tahun lebih, selama masa Orde Baru berkuasa tidak sedikit kebijakan pemerintah waktu itu yang dinilai oleh beberapa kelompok kurang memihak atau adaptif kepada golongan legalis, kelompok yang sampai saat ini masih memiliki keyakinan hukum Tuhan harus benar-benar dijadikan sebagai hukum positif di Indonesia.

Tetapi, jika diteliti secara runut dan obyektif, pemerintah Orde Baru sebenarnya hendak menempatkan Islam dan ajarannya pada hal yang seharusnya, pada kedudukan yang semestinya di mana Islam dan ajarannya berhabitat. Hal-hal yang bersentuhan dengan umat tetap dijaga dan dilestarikan, umat masih diberi keleluasaan dan kebebasan menyelenggarakan pengajian mingguan (di masyarakat Sunda dikenal dengan sebutan minggonan), khitanan massal diselenggarakan setiap tahun, tahlilan, yasinan, dan upacara-upacara perpaduan antara tradisi kebudayaan dengan Islam tetap dipertahankan. Artinya, ikhtiar umat Islam dalam menjaga dan melestarikan ajaran di bidang sosial tidak dihalang-halangi oleh pemerintah selama tidak menyentuh ranah politik.

Di tahun 1980-an, keluar satu gerakan, menurut beberapa anggotanya gerakan tersebut dilakukan untuk mengembalikan kembali umat kepada ghirah Islam di Indonesia. Munculnya gerakan ini merupakan berawal dari wacana atau narasi semakin melemahnya kekuatan dan peran umat Islam dalam ekonomi dan politik. Bagi mereka kondisi umat Islam di Indonesia seperti ini diartikan sangat bertolak belakang dengan prediksi profetik Rasulullah; tentang kebangkitan umat Islam di abad 15 Hijriyah. Narasi ini dikemukakan oleh mereka, kelompok legalis  yang masih tetap memperjuangkan sisa-sisa pemikiran (diskursus) tentang dasar negara.

Harus diakui secara jujur, gerakan kaum legalis ini memasuki kampus-kampus hingga ke sekolah-sekolah lanjutan asas. Wacana yang diembuskan oleh mereka antara lain: Islam Kaffah, Islam Kontemporer, Islam Paripurna, dan sebutan-sebutan lainnya yang tampak lebih progresif misalnya: hukum jahiliyyah, thogut, hingga kata-kata kafir disematkan kepada kata yang telah digagas oleh wali songo yaitu rakyat. Sebetulnya, apa yang telah mereka wacanakan bahkan didakwahkan dengan penuh semangat sama sekali tidak pernah menyentuh dan menyoal Islam secara kaffah karena mereka hanya menyentuh secuil saja dari ajaran Islam, mereka hanya memokuskan dakwah dan ajakan di ranah politik. Buktinya, ketika gerakan yang mereka gagas memiliki satu tujuan: menegakkan negara agama di Indonesia. Dan ketika tujuan mereka sampai saat ini tidak tercapai pun tokoh Islam, ajarannya, dan umatnya tetap eksis sampai sekarang. Pondok pesantren tidak kehilangan para santrinya, bahkan umat Islam di Indonesia tetap dapat melaksanakan ibadah harian dan perayaan keislaman lainnya dengan tenang.

Tahun 1990-an hingga pasca-Reformasi  merupakan milieu panggung pementasan kaum legalis di Indonesia. Ormas dan gerakan seperti Neo NII, HT, dan Kelompok Tarbiyah (IM) telah memiliki kader-kader inti sampai ke pelosok. Kaderisasi dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau melalui acara-acara keislaman. Aktivitas mereka di masyarakat sangat halus, masjid-masjid dikuasai dengan bungkus kajian Islam, Remaja Masjid, Rohis, hingga Pesantren Kilat. Kader inti diciptakan, selanjutnya diberi tugas oleh para murabbi untuk mengajak dan menyebarluaskan kembali isu-isu yang mereka bahas dalam halaqah-halaqah.

Dalam kegiatan seperti di atas inilah isu strategis tentang penegakan Islam dalam hukum positif diindoktrinisiasi kepada generasi muda. Strategi jitu mereka adalah dengan membenturkan antara peradaban Barat sebagai musuh dengan Islam. Padahal mayoritas umat saat itu kebergantungan kepada produk Barat sangat tinggi. Diakui atau tidak, ajaran Islam yang mereka dakwahkan untuk mencocok generasi muda dilakukan dengan penuh kepura-puraan.

Sementara itu, di kelompok tradisional, di tahun 90-an, pondok pesantren di perkampungan mulai menggelora kembali. Di kampung penulis, salah seorang kiai muda alumni Pondok Pesantren Al-Masthuriyah dan Pondok Pesantren Panjalu mengajak untuk mendidik dan membina para generasi muda. Shalawatan, manaqib, Barjanzi, dan membaca puji-pujian dikumandangkan kembali secara intensif. Para remaja diberikan kesempatan mengaji dan mengkaji kitab-kitab kuning. Ajaran Islam yang memiliki sifat tradisional, namun dapat menjawab tantangan zaman ini merupakan salah satu bentuk counter terhadap semakin maraknya gerakan kaum legalis seperti NII di kampung penulis.

Santri kalong, sebutan untuk anak-anak kampung yang mengikuti pengajian mulai meramaikan dan memenuhi pengajian remaja setelah maghrib dan subuh. Kitab-kitab klasik dikaji kembali. Tradisi pesantren yang pernah dialami oleh penulis diperkenalkan kembali kepada anak-anak, remaja, dan masyarakat secara nyata. Satu strategi yang sangat berbeda secara diametral dengan apa yang dilakukan oleh kaum legalis. Cara dan metode ajakan yang sering dilakukan oleh kaum legalis yaitu melakukan dakwah personal atau berkumpul di rumah-rumah. Mereka sering menisbatkan strategi seperti itu pernah dilakukan oleh Rasulullah pada periode Makiyyah.

Kiai muda itu sering mawanti-wanti kepada anak-anak dan remana, bahwa Islam bukan sekadar persoalan formal saja, Islam justru lebih menuntun dan menuntut umat agar memerhatikan pertanda atau ayat yang nyata ada di alam ini (kauniyah). Secara sederhana dapat disimpulkan, Islam merupakan ajaran yang tidak menyusahkan umatnya. Kita tidak perlu dipusingkan hingga stres oleh persoalan-persoalan yang sebetulnya hanya mengejar tujuan duniawi, politik dan kekuasaan. Jika kita percaya sepenuhnya kepada Allah, Islam dan ajarannya tetap akan tegak jika dipraktikkan sesuai dengan hati nurani manusia.

Para santri juga dibiasakan memakai celana pendek, panjangnya beberapa senti di bawah lutut. Di kalangan pondok pesantren Sunda, model celana ini disebut “sontog akherat”. Setelah menunaikan shalat ashar, para santri berduyun-duyun ke sawah untuk menangkap belut (ngurek). Sebulan sekali para santri itu diajak mengunjungi tempat-tempat yang benar-benar terkoneksi dengan jiwa mereka, memiliki keindahan alam.

Hemat kami waktu itu, Islam dan ajarannya akan mewujud menjadi hal yang menyenangkan ketika dipraktikkan dalam keseharian dengan mengakomodasi unsur-unsur yang ada di masyarakat (budaya dan tradisi). Persoalan-persoalan politik umat sebetulnya dapat diselesaikan oleh umat sendiri. Bagaimana caranya? Harus sesuai dengan pakem kehidupan di mana kita tinggal. Bukankah para pendahulu negeri dan para founding father telah memberikan contoh kepada kita?


Penulis adalah guru MTs Riyadlul Jannah, Cikundul, Sukabumi, Jawa Barat


Rabu 28 November 2018 20:30 WIB
OBITUARI
TGH Anwar, Ulama Tegas dan Lurus dari Lombok
TGH Anwar, Ulama Tegas dan Lurus dari Lombok
Masyarakat mengantar jenazah TGH Anwar ke pemakaman
Ribuan umat Islam dari berbagai daerah di Lombok Barat dan Kota Mataram terus berdatangan mendoakan dan mengantarkan TGH Muhammad Anwar bin Marzuki (MZ) ke tempat pemakaman keluarga yang masih berada dalam kompleks Pondok Pesantren Daarunnajah, Desa Duman, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Selasa (27/11). 

TGH Anwar wafat Selasa (27/11), pukul 05.30 WITA di RSUP NTB. Menurut penuturan istrinya, Hj Rosdiana, almarhum dibawa ke RSUP Senin (26/11) sore karena tensi darahnya meningkat. Di rumah sakit sempat mengalami muntah-muntah. Pemakaman dilangsungkan pukul 16.30 WITA setelah putra tertuanya Hamdan Asburi Nasser yang menetap di Jakarta tiba.

TGH Anwar meninggalkan sembilan orang putra-putri yaitu Titin Nusrawati Zaiyyana, Hamdan Asburi Nasser, Auni Islihatun Diniyati, Lailin Fajriatun Mardiati, Laziza Iklima Khairatun, Fadli Ahmadi Fauzan, M.Tajun Thoyib, M. Sadid Faizin dan Haririn Hawarina. Delapan orang sudah berkeluarga.   

Satu persatu, termasuk yang datang berkelompok langsung melakukan shalat jenazah dan mendoakan. Mereka yang datang adalah baik yang mengenal beliau sebagai jamaah, para santrinya, sahabat dan teman perjuangan. Terhitung sejak pagi, ada 30 kali shalat jenazah berlangsung di Masjid Baiturrahman, Desa Duman.  

"Beliau itu orangnya tegas, lurus, teliti dan jreng,” kata TGH Hasanain Juwaini, sekretaris PB Nahdlatul Wathon (PBNW) Pancor saat melawat ke rumah duka. Ia berpesan kepada putra-putri almarhum supaya saling membantu dan bekerjasama untuk memajukan pondok pesantren yang ditinggalkan. 

Waktu TGH Anwar menjabat sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi NTB, TGH Hasanain yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haramain Narmada ini ditunjuk sebagai sekretarisnya. 

Kesan serupa disampaikan oleh H Zainudin yang berasal dari Rensing, Sakra, Lombok Timur. "Beliau itu bukan saja menguasai empat mazhab tapi juga ilmu nahwu, syaraf, fiqih, hadits dan tafsir. Selain itu beliau juga mengikuti isu-isu Islam kontemporer,” kata pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Agama Kota Mataram ini.

"Tuan Guru itu orangnya enak diajak ngobrol dan diskusi. Bicara apa saja nyambung. Kata-kata beliau yang terus saya ingat, 'Seorang sopir tidak mungkin dipercaya menjadi sopir kalau dia tidak dianggap mampu menjadi sopir,'” tutur H Zainudin.

Ia mengatakan nasihat TGH Anwar itu ia dapatkan ketika ia berkonsultasi akan niatnya menjadi kepala madrasah.    

Suhaimi, penjaga kantor PW PPP NTB juga menuturkan kesannya tentang almarhum TGH Anwar. Ia mengenal TGH Anwar sejak muda karena diminta menjaga kantor PPP NTB sampai sekarang. 

“Beliau meminta saya tinggal di Kantor PW PPP sejak saya masih muda tahun 1982. Waktu itu saya diberikan gaji lima belas ribu rupiah. Setelah saya kawin saya diberi dua puluh ribu rupiah. Setelah itu terus dinaikkan. Orangnya walaupun tegas dan keras tapi perhatian kepada anak buah," kenang Suhaimi yang datang bersama istrinya ke rumah duka.

Istri Suhaimi juga menuturkan, “Tuan Guru itu kalau sudah datang waktu shalat, selalu minta disediakan dan rapikan tempat shalat. Beliau itu kemana-mana sering mampir ke kantor untuk shalat." 




TGH Muhammad Anwar, Pendiri dan Pengasuh Pesantren Darunnajah, Desa Duman, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat meninggal dunia, Selasa (27/11). Almarhum meninggal dunia dalam usia 68 tahun, karena sakit yang ia derita sejak Ramadhan tahun ini.

TGH Muhammad Anwar adalah seorang tokoh NU NTB yang berpengaruh dan membina jamaah pengajian sampai ke pelosok-pelosok kampung. Sejak muda ia dikenal aktif di NU. 

Dalam banyak pertemuan dan diskusi, TGH Anwar terlihat kharismanya sebagai seorang tuan guru dan ulama yang kaya pengalaman, serta luas jaringan. TGH Anwar adalah sosok yang unik. Menyelesaikan sekolah formalnya di SMK Kusuma, Cakranegara, Kota Mataram, sebuah sekolah yang mayoritas siswanya beragama Kristen. Menurut cerita Tuan Guru Anwar ketika masih hidup, dia masuk SMK Kusuma ketika itu karena sekolah-sekolah umum sudah menutup pendaftaran siswa baru.

Ia terlambat mendaftar karena sempat tinggal beberapa lama di Bali, sehingga masuklah ia ke SMK Kusuma milik orang Kristen. Namun ia berhasil menjadi tuan guru dan membangun pesantren. (Yusuf Tantowi/Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG