IMG-LOGO
Daerah

Pringsewu Glontorkan 1,2 M Terjemahkan Al-Qur’an ke Bahasa Lampung

Selasa 4 Desember 2018 20:0 WIB
Bagikan:
Pringsewu Glontorkan 1,2 M Terjemahkan Al-Qur’an ke Bahasa Lampung
FGD Penerjrmahan Al-Quran ke Bahasa Lampung
Pringsewu, NU Online
Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu, Lampung  Bekerjasama dengan UIN Raden Intan Lampung dan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI melakukan program penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Lampung. Pembiayaan program ini dianggarkan dari APBD Kabupaten Pringsewu sebesar 1,2 Milyar atau sekitar 0,1 persen dari total APBD kabupaten tersebut pada tahun 2019 yakni 1,2 Triliun.

Bupati Pringsewu H Sujadi mengungkapkan hal ini saat hadir pada Focus Group Discussion (FGD) tentang Kajian Terjemahan Al-Qur’an Berbahasa Lampung di Aula Pertemuan Kolam Renang Paris Kelurahan Pajaresuk Kecamatan Pringsewu, Selasa (4/12).

Bupati yang juga seorang ulama ini mengatakan, program yang ditargetkan selesai pada 2020 ini merupakan salah satu program unggulan serta upaya Pemda setempat untuk membangun kabupaten berjuluk Bumi Jejama Secancanan Bersenyum Manis ini.

“Diumur Pringsewu yang memasuki 9 tahun 8 bulan dan 4 hari ini, Pringsewu terus menerus membangun baik fisik maupun non fisik dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan Pringsewu. Kami sudah menyiapkan dana, dan kami harapkan terjemahan Al-Qur'an ke Bahasa Lampung ini dapat bermanfaat bagi putra-putri kita. Dan ini merupakan amal jariyah bagi kita,” kata Mustasyar PCNU Pringsewu ini.

Sementara itu Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama H Muchlis Muhammad Hanafi menjelaskan, penerjemahan Al-Quran ke dalam satu bahasa bukanlah pekerjaan yang mudah. Upaya ini harus dilakukan melalui berbagai tahapan diantaranya pemilihan kata yang sesuai dan tepat dengan menyesuaikan perkembangan bahasa dan realitas masyarakat saat ini.

Pada kesempatan tersebut Rektor UIN Raden Intan Lampung H Moh Mukri menilai upaya yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Pringsewu merupakan salah satu bentuk solusi agar masyarakat dapat lebih memahami Al-Qur’an

“Penerjemahan Al-Quran dianggap sebagai solusi agar masyarakat dunia dari berbagai lapisan, termasuk (masyarakat) Lampung, dapat dengan mudah memahami dan menggali informasi yang terkandung dalam Al-Qur’an,” katanya.

Hadir pada FGD tersebut sejumlah pejabat terkait di lingkungan Pemda Kabupaten Pringsewu, para dosen UIN Raden Intan Lampung, para pimpinan pondok pesantren di Pringsewu dan tokoh agama setempat. (Red: Muhammad Faizin)
Bagikan:
Selasa 4 Desember 2018 23:45 WIB
Belajar Agama Tanpa Guru Bisa Konslet
Belajar Agama Tanpa Guru Bisa Konslet
Gus Boby Mahbub Zaki (di atas panggunga)
Kendal, NU Online
Ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits tanpa diikuti pemahaman yang memadai bisa menjadi blunder. Ibarat listrik rumahan yang disambungkan langsung ke saluran bertegangan tinggi, seseorang yang belajar agama tanpa perantara guru, bisa konslet.

Menurut Mahbub Zaki, wasekjen PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW), dalam mempelajari agama seseorang memerlukan perantara guru. Lebih tegas lagi, guru itu haruslah memiliki pemahaman yang mumpuni dan silsilah keilmuan yang jelas rujukannya. 

"Diriwayatkan dalam hadits bahwa sanad itu sebagian dari agama. Maka, tanpa wasilah, tanpa perantara guru yang sanadnya jelas, belajar langsung dari Al-Qur’an dan Hadist itu seperti listrik di rumah kita yang disambungkan langsung ke Sutet. Listrik konslet dan rumah kita bisa terbakar," terang Mahbub Zaki yang akrab disapa Gus Boby.

Dikatakan Gus Boby, sanad dalam belajar agama itu penting. Tanpa silsilah dan rujukan keilmuan yang jelas, siapa pun bisa mengajarkan sesuka hati. Menurut mantan ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah ini, banyak orang merasa sudah cukup ilmu agamanya hanya bermodal belajar dari internet. 

"Kalau dulu orang belajar agama dari kiai, dibela-bela mondok selama bertahun-tahun di pondok pesantren, sekarang orang belajar dari internet. Sementara di internet siapa pun bisa omong. Tak perlu repot-repot mondok, bikin video ceramah agama, dijulukilah ustadz. Ustadz Youtube dan Santri Mbah Google lagi jadi fenomena baru. Islam di sosial media isinya marah-marah dan menerbar permusuhan,” terang Gus Boby.
 
Pernyataan itu disampaikan Gus Boby ketika memberikan sambutan dalam Haflah Khotmil Qur’an dan Wisuda Santri Tahfidz angkatan ke-6 Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Istiqomah Desa Penaruban, Weleri, Kendal, baru-baru ini. Sebanyak 35 santri putra dan putri yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan juga provinsi lain diwisuda dari ponpes asuhan Kiai Ali Shodiqun.  

Gus Boby yang juga wakil sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah ini mengatakan, para wali murid santri tidak perlu khawatir mendidik anaknya di pondok pesantren NU yang jelas-jelas berhaluan Ahlussunnah waljamaah. 

"Tadi sama-sama kita dengar, para santri memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon. Jadi bapak-ibu tidak perlu khawatir, di sini santri dididik untuk mencintai tanah airnya. Santri tenanan tidak akan jadi teroris,” terangnya.

Belajar di pondok pesantren, katanya, para santri tidak hanya diajari cara membaca kitab tapi juga diajari cara berperilaku. Pengasuh pesantren setiap habis shalat akan mendoakan para guru-guru dan juga para santrinya. 

“Di pesantren para santri tidak hanya ditadris, tapi juga mendapatkan tarbiyah. Insyaallah setiap bakda shalat, para santri akan didoakan. Ketika para santri tertidur, pengasuh pondok akan menyambangi para santrinya, membenarkan letak tidurnya yang mungkin kurang pas. Ini yang tidak didapatkan di sekolah-sekolah umum," pungkasnya. (Muhammad Sulhanudin/Kendi Setiawan)



Selasa 4 Desember 2018 23:30 WIB
Pesantren Tiang NU Menegakkan NKRI
Pesantren Tiang NU Menegakkan NKRI
Ketua PWNU Jateng, KH Muzammil
Kendal, NU Online
Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Muzammil mengatakan pesantren merupakan tiang Nahdlatul Ulama. Selama masih ada pesantren yang mengajarkan Islam Ahlussunnah wal jamaah Annahdliyyah, bendera NU masih akan tetap berkibar. Dan selama NU ada, maka bendera NKRI juga akan tetap tegak berdiri.

"Kita patut bersyukur di sini masih ada pesantren Tahfidzul Qur'an. Kita tidak bisa membayangkan jika tidak ada pesantren bagaimana kita bisa belajar ilmu agama. Sementara di luar sana masih banyak yang butuh siraman-siraman rohani, kita tidak boleh hanya berdiam diri," kata Kiai Muzammil saat memberikan sambutan pada Haflah Khotmil Qur'an dan Wisuda Santri Tahfidz angkatan ke-6 Pesantren Tahfidzul Qur'an Al Istiqomah Desa Penaruban, Weleri, Kendal, Jawa Tengah, belum lama ini.

Di pesantren asuhan Kiai Ali Shodiqun itu, Kiai Muzammil juga mengatakan negara akan diberkahi ketika empat hal ini dilaksanakan. Pertama, ajaran alim ulama diamalkan. Kedua, pemerintah berlaku adil. Ketiga, yang berkelebihan harta mau bersedekah. Keempat, yang miskin mau mendoakan yang lain. 

"Manakala empat hal itu dijalankan secara proporsional sesuai fungsi dan perannya masing-masing, Insya Allah Indonesia akan aman dan tenteram," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu Kiai Muzammil yang belum lama ini diamanahi memimpin NU Jawa Tengah memohonkan doa restu dari tokoh NU dan masyarakat Kendal. "Pengurus NU itu ibaratnya full timer. Yang punya NU itu para alim ulama, para pengasuh pondok pesantren, dan semua Nahdliyyin. Mohon doa restu semoga NU bisa  memberikan lebih banyak manfaat untuk masyarakat luas," ungkapnya.

Sementara itu, Gus Subkhan Aan Agoesta yang menyampaikan mauidhoh hasanah mengatakan selama masih ada pesantren yang menjadi tiangnya NU, negara ini masih akan tegak berdiri. Di pesantren para santri tidak hanya diajari ilmu agama, tapi juga dididik untuk mencintai negaranya. Santri yang tenanan mondoknya, tidak akan menjadi teroris. (Muhamad Sulhanudin/Kendi Setiawan)


Selasa 4 Desember 2018 23:15 WIB
Akhlak yang Baik Bisa Dilatih dengan Berdzikir
Akhlak yang Baik Bisa Dilatih dengan Berdzikir
Gus Subkhan Aan Agoesta (di atas panggung)
Kendal, NU Online
Akhlak merupakan tindakan spontan yang dilakukan tanpa melalui kontrol pikiran. Namun baik buruknya akhlak seseorang bisa dilatih hingga menjadi kebiasaan. 

"Apa yang anda katakan ketika tersandung. Mengucapkan innalillah atau malah mengumpat? Kata-kata yang keluar dari mulut kita waktu tersandung itu reflek, bukan mikir dulu mau mengucapkan apa. Ekspresi spontan yang muncul itu akhlak. Bedanya akhlak yang baik dan buruk," kata Gus Subkhan Aan Agusta.

Menurut pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Banjarejo Blora ini, setiap orang bisa melatih dirinya untuk menanamkan akhlak yang baik. Dimulai dari hal sederhana dengan mengucapkan basmalah setiap kali akan melakukan sesuatu. 

"Mau pakai baju baca bismillah. Keluar rumah baca bismillah. Semuanya diawali dengan bismillah, termasuk mau melakukan yang tidak terpuji sekalipun," tegasnya.

Dikisahkan Gus Subkhan, seorang karibnya yang dulu gemar meminum minuman keras suatu ketika mendapat ijazah dari kiai. Kepada karibnya itu, sang kiai memintanya untuk membaca basmalah setiap setiap kali akan minum. Tambah minum lagi baca basmalah. 

Walhasil, karibnya itu sama sekali tak merasakan mabuk meski sudah banyak botol minuman dia habiskan. Kemudian dia cari cara lain, minuman dia bungkus untuk diminum di tempat lain. Tapi begitu dibuka dan baru mencium baunya saja perutnya sudah mual. Singkat kata akhirnya kawan itu berhenti minum minuman keras hingga sekarang.

Dari peristiwa itu, menegaskan bahwa akhlak seseorang bisa dilatih untuk menjadi kebiasaan. Mula-mula diucapkan dengan lisan, diulang secara terus menerus perlahan akan meresap dan akan menjadi kebiasaan. 

"Syaratnya, dalam belajar perlu istiqamah. Ada kemauan, lakukan secara konsisten. Mulai dari hal yang sederhana, baca basmalah," lanjutnya.

Akhlak menurut Gus Subkhan cermin dari keimanan dan ketakwaan seseorang. Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah dengan misi utama untuk mengajarkan akhlak yang terpuji. 

"Nabi Muhammad itu akhlaknya Al-Qur'an. Ucapan dan tindak tanduk beliau cerminan dari akhlak yang diajarkan dalam Al-Qur'an," terangnya.

Pernyataan Gus Subkhan itu disampaikan dalam mauidhoh hasanah Haflah Qur’an dan Wisuda Santri Tahfidz angkatan ke-6 Ponpes Tahfidzul Qur’an Al Istiqomah Desa Penaruban, Weleri, Kendal, baru-baru ini. Sebanyak 35 santri yang berasal dari berbagai daerah diwisuda dari ponpes asuhan Gus Ali Shodiqun.

"Insyaallah santri yang telah menghafal Al Qur'an ini sebagai wujud keimanan dan ketakwaan yang kuat," terang Gus Subkhan.

Untuk menjadi waliyullah, menurut Gus Subkhan kita sebagai umat Muhammad bisa mencontoh tiga hal. Pertama, berharap pada Allah bahwa semua yang dilakukan karena mengharap ridha-Nya. Kedua, berharap pada hari akhir bahwa dalam mengharapkan hasil akhir, ibarat petani yang berharap panen, kita perlu bertindak agar yang diharapkan terwujud. Ketiga, perbanyak dzikir karena akan menjaga diri kita dari hal-hal yang tidak baik. 

"Dzikir itu ada yang diucapkan, ada yang dilakukan dalam hati. Fisik kita sedang bekerja, tapi hati kita senantiasa berdzikir. Saat nyawa dicabut kita sedang berdzikir, insya Allah khusnul khotimah," pungkas Gus Subkhan. (Muhamad Sulhanudin/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG