IMG-LOGO
Internasional

Pesan Habib Jindan saat Maulid Nabi di Jerman

Rabu 5 Desember 2018 23:0 WIB
Bagikan:
Pesan Habib Jindan saat Maulid Nabi di Jerman
Maulid Nabi di Jerman
Bremen, NU Online
Hari Sabtu, 1 Desember 2018 yang lalu menjadi kebahagiaan yang sangat besar dan sebuah pengalaman yang sangat langka dirasakan oleh jamaah Muslim di kota Bremen, Jerman. Peringatan Maulid Nabi Shallallahu alahi wassalam yang dihadiri mencapai 150 Orang oleh majelis taklim Maulid Amsterdam dan jamaah Indonesia dari berbagai kota di Jerman dan beberapa warga Muslim Turki, Afrika, Jerman dan Yaman. Sebagai inti acara adalah mauidhah hasanah oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan yang dilakukan secara online.
 
Kebahagiaan ini juga yang menjadi pesan sambutan yang disampaikan oleh Muhammad Husein Al-kaff selaku wakil ketua Tanfidziyah PCINU Jerman. Ia mengutip penggalan dari Surat Yunus ayat 58 yang berarti "Katakanlah: 'Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.'"

Ia menekankan bahwa rahmat dan nikmat yang terbesar adalah terlahirnya manusia teragung sepanjang masa, yakni Nabi Muhammad Saw. Peringatan Maulid ini menjadi cara kita mengekspresikan kebahagiaan kita dengan banyak bershalawat, bedzikir, berdoa dan mendengarkan nasihat dari para ulama.

Sambutan juga disampaikan sebelumnya oleh tuan rumah, Gery Vidjaja yang juga Mustasyar PCINU Jerman dan ketua Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB). Ia beliau menyampaikan pentingnya peringatan Maulid Nabi sebagai syiar Islam untuk kita sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar kita, di mana di dalamnya kita dapat lebih mengenal dan mengenalkan Rasulullah.
 
Acara yang merupakan kerja sama dari Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB) dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman ini dimulai setelah shalat ashar berjamaah dengan pembacaan Asma’ul Husna yang dipimpin oleh Habib Salim bin Husein Al-Atas. Acara berlanjut dengan pembacaan Al-Fatihah yang dipimpin oleh Syaikh Umar Jaelani sebagi pembuka pembacaan Maulid Simtudduror Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Lantunan nasyid dan qasidah yang dibawakan oleh Puji Luna dan Grup Nasyid Pemuda Bremen yang dipimpin oleh Fadhlan Vidjaja, putra keempat dari Gery Vidjaja, turut mengiringi.

Pembacaan Maulid ditutup dengan doa dilanjutkan dengan pementasan teater oleh anak-anak yang tergabung dalam TPA Ar-Raudhah Bremen tepat menjelang waktu maghrib.

Menjadi inti acara tersebut adalah Mau’idhah Hasanah yang disampaikan oleh Al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan setelah shalat Maghrib. Pesan-pesan yang disampaikan beliau adalah kehadiran Rasulullah untuk mempersatukan dan mengeratkan kasih sayang antaranggota masyarakat dengan akhlak yang mulia, jauh dari permusuhan. Sehingga, acara Maulid Nabi ini diharapkan juga menambah kasih sayang dan mengeratkan hubungan persaudaraan di antara kita.

"Rasulullah adalah tauladan kita. Beliau shallallahu alaihi wassalam selalu mengajak kita untuk berkasihsayang dan menjaga akhlak. Beliau adalah pemimpin para pejuang. Bahkan ketika marah pun beliau tetap menjaga akhlak dan kasih sayang. Beliau marah karena ingin menyelamatkan manusia, bukan untuk memaki, menyumpah dan jerumuskan orang," papar Habib Jindan.

Marahnya Rasulullah indah, lanjut Habib Jindan. Marah Nabi dengan akhlak mulia. Jadi kalau ada di antara orang yang mengaku pejuang tetapi suka memaki-maki orang lain dengan dalih membela agama atau membela Rasulullah, sesungguhnya dia bukan membela agama, bukan membela Rasulullah.

"Syaitan sifatnya ingin selalu menjerumuskan manusia ke neraka, sedang Rasulullah ingin menyelamatkan manusia. Jadi hendaknya kita selalu berkasih sayang, mendoakan saudara kita termasuk mendoakan orang yang berbuat maksiat agar kita semua selamat dan dapat berkumpul bersama Rasulullah di akhirat kelak," pesannya. 

Sementara itu Habib Husein menyampaikan kerinduan dari para jamaah Eropa mendengarkan nasihat dan tausyiah dari para habaib dan kiai dari Tanah Air. "Saat ini kami hanya bisa mendengarkan lewat jalur online, menjadi harapan dan mimpi kami tahun depan Habib Jindan bisa hadir bersama kami di Jerman dan Eropa," kata Habib Husein.

Maulid Nabi Muhammad Saw 1440 H akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi PCINU Jerman, KMIB Bremen dan seluruh jamaah yang hadir. Setelah shalat Isya acara ditutup oleh Gery dengan lantunan nasyid berirama burdah dalam bahasa Jerman yang liriknya diubah berisi asas-asas Ahlussunnah wal Jamaah yaitu Islam (Fikih), Iman (Aqidah) dan Ihsan (Tasawuf). Sesi ini dengan bantuan Tobias, seorang mualaf Jerman yang menikah dengan orang Indonesia. Juga dilakukan pemutaran video tentang Maulid Nabi oleh anak-anak TPA Ar-Raudhah Bremen.

Acara ditutup dengan pembagian bunga mawar kepada tamu undangan dan ramah tamah sambil menikmati jamuan khas Indonesia, berupa nasi kuning, rendang dan lauk pauk lainnya. Di dalam diskusi saat makan malam muncul sebuah gagasan agar Majelis Akbar Maulid Nabi Saw di Eropa dapat diadakan secara rutin tiap tahunnya selama 4-5 kali di bulan Rabi’ul Awal di Belanda, Belgia dan Jerman. (Muhammad Husein Al Kaff/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Rabu 5 Desember 2018 0:30 WIB
Cuitan Dubes Arab Saudi Bertentangan dengan Tugasnya
Cuitan Dubes Arab Saudi Bertentangan dengan Tugasnya
Dubes Arab Saudi Osamah Muhammad Al-Suaibi
Jakarta, NU Online
Anggota Areas Beyond National Jurisdiction (ABNJ) Program, Zaki Mubarok Busro menilai Duta Besar Arab Saudi untuk Republik Indonesia Osamah Muhammad Al-Suaibi telah melakukan hal yang dapat mengganggu hubungan baik dengan Indonesia karena sebagai seorang diplomat, dia seharusnya melakukan pendekatan dan menjaga hubungan baik dengan pemerintah Indonesia dan Ormas Islam terutama NU. 

Hal itu disampaikan Zaki terkait cuiten Osamah melalui twitter menuliskan bahwa perkumpulan massa di Monas pada Ahad (2/12) lalu merupakan balasan atas pembakaran bendera sebulan lalu. 

“Cuitan Dubes Osama tidak menggambarkan langkah yang bijak dalam menanggapi situasi di Indonesia dan malah semakin memperkeruh situasi yang berkembang. Dengan kata lain, beliau telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan tugas seorang duta besar,” kata Zaki dihubungi dari Jakarta, Selasa (4/12) sore.

Peraih gelar Master of International Law and International Relations di University of New South Wales tahun 2007 mengatakan sangat mendukung langkah PBNU yang menyampaikan protes keras atas cuitan Dubes Osamah. Menurut Zaki Dubes Osamah telah melakukan dua kesalahan. 

“Pertama, melakukan penilaian yang bertentangan dengan fakta hukum dan fakta di lapangan. Kedua, mencampuri urusan dalam negeri negara akreditasi atau negara di mana dia ditempatkan yaitu Indonesia," papar Zaki.

Ia menyebutkan secara umum ada lima tugas seorang diplomat sewaktu ditempatkan di suatu negara. Kelima tugas tersebut adalah meningkatkan hubungan bilateral dengan negara akreditasi; berfungsi sebagai representasi atau perwakilan, di mana diplomat mewakili negaranya di acara acara resmi. 

“Mereka memperjuangkan kepentingan negara pengirim melalui negosiasi atau lobi, mengirimkan laporan situasi yang berkembang di negara akreditasi, dan melindungi warga negara yang bersangkutan,” imbuh alumni Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang sekarang sedang menempuh pendidikan PhD di University of Wollonggong, Australia. 

Di atas semua tugas itu, lanjut Zaki, menurut Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik dan Konsuler, diplomat harus menghormati hukum negara di mana dia ditempatkan. Bahkan secara etika, beberapa negara menerapkan aturan agar diplomat juga menghargai budaya dan adat istiadat negara setempat.

Dengan menyebut pembakar bendera HTI sebagai jamaah al-munharifah maka Dubes Arab Saudi telah menggeneralisir seolah-olah pelaku sebagai representasi dari golongan sesat. "Padahal pelaku tidak mewakili organisasi dan GP Ansor bukanlah jamaah yang dituduhkan. Secara hukum, Dubes Osama tidak menganggap GP Ansor sebagai Banom PBNU yang diakui secara resmi oleh pemerintah," katanya.

Sebelumnya diberitakan PBNU memprotes keras cuitan Osamah. Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa twit Dubes Saudi mengandung dua kesalahan, yakni menyatakan bendera tauhid dan organisasi sesat. Kiai Said menyebut dua hal ini yang menjadi keberatan PBNU.

"Itu yang kami tidak terima," katanya di Gedung PBNU lantai 3, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (3/12) sore. (Kendi Setiawan)

Selasa 4 Desember 2018 22:45 WIB
Menjadi Penulis dan Penerjemah Buku, Awaludin Marwan Lulus S3 di Utrecth University
Menjadi Penulis dan Penerjemah Buku, Awaludin Marwan Lulus S3 di Utrecth University
Utrecth, NU Online
Dengan menggunakan peci hitam, Awaludin Marwan melenggang menuju sidang. Dengan penuh percaya diri, dia berhasil lulus dan mempertahankan disertasinya di Utrecth University, Belanda, Senin (3/12).

Pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini, memulai perjuangan membayar kuliah dengan tulisan dan menerjemahkan buku, hingga memperoleh beasiswa. Disertasinya menyangkut Hukum, Masyarakat, dan Hak Asasi Manusia memperoleh pujian dari pemikir Hukum Internasional.

Kader Nahdlatul Ulama itu resmi meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) di Utrech University (Belanda) setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Good Governance and Ethnic Minorities in Indonesia. Isi disertasinya menceritakan masih banyaknya kebijakan yang mendiskiriminasi kaum minoritas terutama dalam hal pelayanan publik.

Padahal, paradigama hukum adminitsrasi di era negara modern ini beroreintasi pada kesejahateraan, sehingga negara bukan lagi pasif melainkan aktif dalam memberikan pelayan yang baik bagi warganya, dengan tidak memandang suku, ras dan agama.

Awaludin Marwan memang sejak mahasiswa dikenal sebagai seorang aktivis yang mengedepankan sisi kemanusian. Jiwa kemanusiaan selalu tergerak ketika melihat permasalahan sosial, keterlibatannya terhadap masyarakat kecil sudah tidak bisa dihitung lagi, seperti membela petani Kendheng dan pembelaan lainnya yang dia lakukan.

Nilai-nilai kemanusiaan itu bisa tumbuh dalam jiwanya karena tidak bisa dilepaskan dari latar belakangnya sebagai seorang Nahdliyin, yang begitu menjadi mahasiswa juga aktif sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kemudian Awaludin juga tercatat sebagai pendiri lembaga Satjipto Rahardjo Institute (SRI), sebuah lembaga yang mengembangkan pemikiran Profesor Satjipto Rahardjo, yang terkenal dengan sebutan 'hukum progresif'.

Satjipto Rahardjo merupakan begawan hukum dari Semarang, yang sudah meninggal dunia. Oleh karena itu banyak juga yang mengatakan Awaludin Marwan adalah penerus Profesor Satjipto Rahardjo.

Kesuksesannya ini bisa menginspirasi siapa pun. Bahwa, keterbatasan itu harus didobrak. Selama kita memiliki mimpi dan niat yang tulus, semuanya bisa terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin.

Para pakar hukum berharap, Awaludin Marwan bisa turut mewarnai khazanah pemikiran hukum di Indonesia. Caranya berdialektik dan berpikir, memiliki keunikan tersendiri yang itu dinilai menjadi daya tarik pemikir hukum di Indonesia.

Bakhrul Amal, penulis buku Hukum dan Masyarakat yang juga dosen Ilmu Hukum di UNU Indonesia, menyebut bahwa pola pikir progresif dan kebiasaan Awaludin Marwan berdiri di garis depan melawan kezaliman, membuat pemikirannya akan hukum sebagai teropong menuju keadilan amatlah lengkap. Amal juga menilai, Awaludin Marwan ini penulis produktif sehingga apa yang dia sampaikan itu dapat dilacak dan dipertanggung jawabkan.

Sementara itu, Muhtar Said, peneliti Pustokum dan Tim Asistensi Bawaslu RI menilai kepulangan Awaludin Marwan ini perlu disambut gembira anak-anak muda Nahdlatul Ulama. "Luluk, dengan penggunaan peci khas santri, telah membuat bangga warga NU karena pecinya adalah lambang ketawadhuan ilmunya yang tinggi," ujarnya. (Red: Kendi Setiawan)


Selasa 4 Desember 2018 13:30 WIB
Di WhatsApp, Khashoggi Gambarkan Putra Mahkota Saudi ‘Pac-Man’ yang Haus Kekuasaan
Di WhatsApp, Khashoggi Gambarkan Putra Mahkota Saudi ‘Pac-Man’ yang Haus Kekuasaan
Foto: Jamali/AP
Montreal, NU Online
Kolega Jamal Khashoggi yang juga merupakan aktivis Arab Saudi Omar Abdulaziz mengungkapan, Khashoggi menggambarkan Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman (MBS) sebagai ‘binatang buas’ dan ‘pac-man’ yang haus akan kekuasaan. MBS disebut akan mengganyang siapa saja yang menghalangi jalannya, meskipun itu pendukungnya sendiri.

“Semakin banyak korban yang dia (MBS) makan, semakin banyak yang dia inginkan. Saya tidak akan terkejut bahwa penindasan akan menjangkau bahkan mereka yang mendukungnya," kata Khashoggi yang dikirimkan kepada Abdulaziz pada Mei lalu, dilansir dari laman edition.cnn.com, Senin (3/12).

Pengakuan Abdulaziz tersebut merupakan hasil percakapannya dengan Jamal Khashoggi. Keduanya berkirim pesan melalui aplikasi WhatsApp sejak Oktober 2017 hingga Agustus 2018. Abdulaziz lantas membagikan percakapannya dengan Jamal Khashoggi kepada CNN. Kurang lebih ada 400 pesan WhatsApp, termasuk pesan suara, foto, dan video. 

Jamal, kata Abdulaziz, dalam salah satu pesannya juga menyebut kalau MBS tidak segan-segan menghancurkan siapapun yang menghalanginya. Bagi Khashoggi, MBS adalah masalah dan harus dihentikan. 

“(Jamal) Percaya bahwa MBS adalah isu serta masalah itu sendiri, dan dia mengatakan anak ini harus dihentikan,” kata Abdulaziz yang mengasingkan diri ke Kanada.

Sebagaimana diketahui, diskusi semacam ini terlarang dan dianggap sebagai sebuah bentuk pengkhianatan di Arab Saudi.

Membentuk ‘pasukan lebah’

Selama saling berkirim pesan tersebut, Jamal Khashoggi dan Omar Abdulaziz memiliki rencana untuk membentuk ‘pasukan lebah.’ Sebuah pasukan siber yang melibatkan anak-anak muda Saudi untuk memaparkan pelanggaran-pelanggaran HAM melalui media sosial, khususnya Twitter.

Khashoggi bertugas mencari dana untuk mendukung gerakan tersebut, sementara Abdulaziz membuat program rencana dan kerjanya. 

Namun sayang, pada Agustus lalu Abdulaziz menerima informasi bahwa pemerintah Saudi telah mengetahui proyek mereka. Abdulaziz langsung mengirimkan pesan tersebut kepada Khashoggi.

“Bagaimana mereka bisa tahu? Tuhan ampuni kami,” kata Khashoggi dalam percakapannya WhatsApp-nya dengan Abdulaziz.

Ponsel Abdulaziz diretas

Pada November, sebulan setelah Khashoggi dibunuh, Abdulaziz diberitahu kalau ponselnya telah diretas. Salah satu peneliti Lap Warga Universitas Toronto Bill Marczak mengungkapkan bahwa telepon Abdulaziz diretas pemerintah Saudi dengan menggunakan aplikasi yang dikembangkan perusahaan asal Israel, NSO Group.

Marczak juga mengungkapkan bahwa ada dua orang Saudi lagi yang menjadi target untuk diretas, yaitu Yahya Assiri dan seorang lagi yang bekerja di Amnesty International. 

Atas kejadian itu, Abdulaziz menggugat NSO Group. Ia menuduh perusahan asal Israel tersebut telah melanggar hukum internasional karena telah menjual pirantinya kepada Saudi untuk memantau para aktivis.

Sementara itu, NSO Group mengatakan kalau produknya ‘dilisensikan bagi pengguna dalam menyediakan pemerintah dan lembaga penegak hukum untuk secara sah melawan terorisme dan kejahatan.’

NGO Group menegaskan, jika ada penyalahgunaan perangkatnya tersebut maka pihak perusahaan akan mengambil tindakan. Entah itu menangguhkan atau mengakhiri kontra dengan kliennya. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG