IMG-LOGO
Nasional

Dua Kumpulan Cerpen Santri Jombang Dibedah di PBNU

Kamis 6 Desember 2018 18:34 WIB
Bagikan:
Dua Kumpulan Cerpen Santri Jombang Dibedah di PBNU
Jakarta, NU Online 
Dua buku kumpulan cerpen karya santri Jombang, Jawa Timur dibedah di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (6/12). Dua kumpulan cerpen tersebut adalah Kucing Makan Koran (Boenga Ketjil bekerja sama dengan Diandra Kreatif, Jombang, 2018) karya Zainuddin Sugendal dan Trik Ahli Neraka (Penerbit Mitra Karya, Tuban, 2018) karya Hilmi Abedillah.

Bedah buku bertema Menggerakkan Sastra Nahdliyin yang diupayakan NU Online, Omah Aksoro, dan Lesbumi PBNU tersebut menghadirkan pengamat sastra, Hudori Husnan. Hudori menelisik kedua buku tersebut setelah dua penulisnya bercerita proses kreatif mereka dalam berkarya.

“Bagaimana Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah lebih memilih jalan ‘mengambang’  dari pada  menulis cerpen sesuai selera  kebanyakan pembaca cerpen? Persoalan ini menarik untuk didalami,” tanya Hodori dalam diskusi itu. 

Menurutnya, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah diikat oleh benang merah, sama-sama menjadikan khazanah pesantren NU, sebagai titik pemberangkatan. 

Cerpen Hilmi Abedillah, kata dia, Daenuri Ketemu Dinawari yang berkisah tentang ambisi Daenuri berziarah ke makam Syekh Dinawari di Baghdad, pekat dengan istilah-istilah khas pesantren termasuk kitab Jurumiyah, Rihlah Ibnu Bathuthah dan seterusnya. 

“Istilah-istilah khas pesantren juga banyak dijumpai di cerpen lain termasuk cerpen Sya’ban yang penokohannya memakai nama-nama bulan dalam penanggalan Hhijriyah, serta cerpen Barokah,” katanya.  

Sama seperti cerpen-cerpen Hilmi Abedilah, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal juga banyak memakai istilah-istilah pesantren misalnya pada cerpen Ziarah dan Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim yang berkisah tentang kecurigaan santri senior terhadap santri mualaf yang diduga penganut aliran sesat. 

Tak seperti Hilmi, kata dia, Zainuddin Sugendal mulai memasuki tema-tema berbalut teka-teki  seperti terdapat di cerpen Angsana dan Sebelas Macan Tuan Hasan yang memasukan unsur-unsur mitologi dan jampi-jampi. 

“Sudah barang tentu Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal bukan yang pertama menjadikan tema-tema pesantren sebagai sudut pandang. Gus Mus, salah satunya, pernah menulis cerpen tentang Gus Jakfar,” jelasnya. “Lebih jauh lagi, kata dia, ada nama Djamil Suherman sastrawan angkatan 60-an dan 70-an yang banyak mengangkat kehidupan pesantren,” lanjutnya. 

Bedanya, tema-tema pesantren lebih dijadikan inspirasi dan bukan sebagai intensitas apalagi sebagai kesadaran untuk merontokkan dominasi kebahasaan yang datang dari luar  bahasa pesantren. 

Kegiatan tersebut diawali dengan pembacaan dua cerpen dari masing-masing buku oleh Abdullah Wong yang diawali dengan kidung Ki Ardhi yang diiringi petikan gitar Sastro Adi. Diskusi tersebut juga menghadirkan narasumber lain yaitu dosen linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Faris Alniezar, dan penyair Abdullah Wong. (Abdullah Alawi)
 

Bagikan:
Kamis 6 Desember 2018 23:5 WIB
NU PEDULI SULTENG
NU Peduli Kembali Bantu Warga Sigi Biromaru
NU Peduli Kembali Bantu Warga Sigi Biromaru
Sigi, NU Online
Nahdatul Ulama (NU) Peduli bermitra dengan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) menyerahkan secara simbolis bantuan logistik berupa perlengkapan mandi (hygiene kits) dan perlengkapan keluarga (family kits) di Desa Lolu dan Jono Oge, Kabupaten Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah (Sulteng). Penyerahan dilakukan Kamis (6/12).

Ketua PWNU Sulteng, Abdullah Latopada dalam sambutanya mengatakan, NU Peduli bermitra dengan DFAT mendapatkan kepercayaan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi untuk menyalurkan bantuan non pangan kepada warga penerima manfaat di wilayah Sigi Biromaru.

"Untuk itu hari ini kami dari NU Peduli Sulteng dan mitra DFAT membawakan serta menyalurkan bantuan langsung khusus ke Desa Lolu dan Jono Oge yang terdampak gempa dan likuifaksi di wilayah Sigi Biromaru, tanpa memandang ras, suku dan agama," bebernya saat sambutan di depan masyarakat.

Sementara itu, mewakili Bupati Sigi Biromaru Moh Irwan Lapatta, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Kemasyarakatan dan SDM, Ahmad Labaso mengungkapan terima kasih mendalam kepada NU Peduli Sulteng, dan LPBI NU Pusat bersama mitra yang begitu peduli terhadap warga Sigi dan sekitarnya. Ia mengatakan daerah tersebut masuk wilayah terparah terkena dampak bencana di Sulteng.

"Insyallah dengan kehadiran bantuan NU Peduli bersama mitra sebuah kesyukuran di mana membantu meringankan sekaligus mengurangi beban masyarakat dengan harapan bisa menjadi pelajaran, kesyukuran bahwa hikmah dari musibah pada 28 September 2018 lalu di mana harta, kekayaan, status si miskin dan kaya semua dikembalikan kepada Allah Swt," tutupnya.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua LPBI NU Muhammad Ali Yusuf, Wakil Ketua LAZIS NU M Wahib Emha, beserta jajaran pengurus NU Peduli  serta duta besar DFAT Australia, Louis Henley dan Riri. Di lokasi dan hari yang sama, NU Peduli juga menyalurkan bantuan berupa air layak konsumsi dan pemeriksaan serta pelayanan kesehatan gratis. (Ibrahim/Kendi Setiawan)
Kamis 6 Desember 2018 22:30 WIB
Kerja Sama dengan NU Perkuat Hubungan Indonesia dan Tiongkok
Kerja Sama dengan NU Perkuat Hubungan Indonesia dan Tiongkok
Peresmian fasilitas MCK oleh Dubes Tiongkok Xiao Qian
Cirebon, NU Online
Hubungan baik antara negaraTiongkok dan Indonesia yang sudah berjalan sekian lama, semakin dipererat oleh hubungan Tiongkok dengan NU. Hal itu dibuktikan pada pertemuan peringatan lima tahun kerja sama strategi pembangunan lima tahun antara Tiongkok dan Indonesia, NU paling dipercaya oleh Tiongkok untuk dalam pengembangan kerja sama aspek sosial budaya.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU, H Maksum Mahfoedz di Pesantren Khas Kempek Cirebon, Jawa Barat, pada kunjungan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian, Kamis (6/12).

Menurut Maksum, pada pertemuan peringatan lima tahun kerja sama tersebut, H Imam Azis, salah satu Ketua PBNU memaparkan kerja sama bidang sosial budaya antara NU dengan Tiongkok.

"Karena kerja sama sendiri sudah lama terjalin baik di bidang politik, pendidikan, dan teknologi," kata pria yang juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia). 

Dalam bidang pendidikan, lanjutnya, saat ini ada belasan dosen Unusia yang tengah meneruskan belajar di sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok.

Waketum juga mengatakan NU dengan pesantrennya sangat spesial karena para santri adalah Nahdliyin yang setia dan konsisten menyangga hubungan strategis Indonesia dan Tiongkok. "Karena keberadaan Indonesia juga terletak pada pada konsistensi NU untuk menjaga negara," ujarnya.

Kerja sama dengan Tiongkok dalam bidang pendidikan menjadi sangat penting. Pasalnya Nahdliyin juga berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan, tidak hanya dalam pengetahuan keislaman. Dengan belajar ke Tiongkok, Nahdliyin dan santri dapat belajar tentang bahasa dan berbagai keilmuan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk kekokohan agama.

Ia menyebutkan Tiongkok dengan Islam bukanlah hal asing, karena ada lebih dari 50 juta penduduk Tiongkok yang beragama Islam.

"Kita berharap kerja sama terus dijalin dan ditingkatkan dalam membangun pesantren dan budaya," imbuhnya.

Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok Xiao Qian berkunjung ke Pesantren Kempek untuk meresemikan fasilitas mandi, mencuci dan kakus (MCK) di Pesantren Khas Kempek tersebut. Pembangunan fasilitas MCK kerja sama Tiongkok dan NU juga dilakukan di empat wilayah lainnya di Kabupaten Karawang dan Indramayu.

Pada kesempatan yang sama Dubes Tiongkok juga menyerahkan bantuan buku untuk Pesantren Khas Kempek. Hal itu menjadi bukti bahwa hubungan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia dapat memberikan kemanfaatan. (Kendi Setiawan)

Kamis 6 Desember 2018 21:5 WIB
Kiai Musthofa Aqil Tegaskan Persaudaraan Tak Membedakan Etnis
Kiai Musthofa Aqil Tegaskan Persaudaraan Tak Membedakan Etnis
KH Musthofa Aqil (berdiri)
Cirebon, NU Online
Islam memegang prinsip bahwa persaudaraan dan persahabatan sesama manusia tanpa melihat perbedaan etnis, suku, agama. Pasalnya semua manusia dimulaikan oleh Allah Swt. 

Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pesantren Khas Kempek Cirebon, Jawa Barat, KH Musthofa Aqil Siroj pada kunjungan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian, Kamis (6/12).

Kiai Musthofa menyebutkan dengan rakyat dan negara Tiongkok, Indonesia sudah menjalin hubungan baik sejak lama. Demikian juga negara Tiongkok dengan NU dan pesantren.

Pada kunjungan untuk peresmian fasilitas mandi, mencuci dan kakus (MCK) di Pesantren Khas Kempek tersebut, kata Kiai Musthofa, menjadi bukti bahwa hubungan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia dapat memberikan kemanfaatan. 

Mengutip hadits Rasulullah Muhammad Saw, Kiai Musthofa menyebutkan sebaik-baik manusia adalah yang dapat membawa manfaat bagi manusia lainnya. Kiai Musthofa juga berharap kerja sama tersebut dapat mempererat hubungan negara Tiongkok dan Indonesia, hubungan masyarakat kedua negara, dan dunia pendidikan dengan dunia Pendidikan.

"Semoga Tiongkok menjadi negara yang aman dan baik," imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Msuthofa menceritakan Pesantren Khas Kempek saat ini membimbing empat ribu santri. “Para santri mencari ilmu untuk kemanfaatan dunia dan kehidupan manusia,” kata Kiai Musthofa.

Selain di Pesantren Khas Kempek, bantuan fasilitas MCK juga dibangun di Desa Dadap dan Krangkeng di Indramayu; serta Desa Wanakerta dan Wanasari, Karawang.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, pengurus LK PBNU, para pengasuh dan santri Pesantren Khas Kempek, serta perwakilan dari desa-desa lokasi bantuan pembangunan fasilitas MCK. (Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG