IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Kisah Inspiratif Jelajah Tanpa Batas

Jumat 7 Desember 2018 19:0 WIB
Bagikan:
Kisah Inspiratif Jelajah Tanpa Batas
“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” (Pramoedya Ananta Toer).

Itulah pesan tersirat dalam buku berjudul Jelajah Hidup Tanpa Batas: Jangan Pernah Berhenti Berharap anggitan Budy Sugandi. Buku ini menarik untuk dibaca karena dua alasan. Pertama, buku ini bukan biografi biasa. Namun sebuah catatan perjalanan yang menginspirasi dan menggugah motivasi pembacanya untuk selalu maju dan tanpa lelah mengejar cita-cita.

Dalam bab berjudul  “Beasiswa Master Pemerintah Turki” misalnya Budy Sugandi menceritakan pengalamannya berjuang menembus beasiswa Turki tanpa kenal lelah. Hanya berbekal restu orang tua, usai lulus dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2010, ia mencari beasiswa ke luar negeri.

Bagi Budy, doa orang tua ibarat air yang menyirami pohon cita-cita setiap manusia. Namun demikian, menumbuhkan pohon cita-cita tidak cukup hanya dengan doa, harus didukung oleh ketekunan dan usaha keras pantang menyerah (hlm 71). Singkat cerita, lewat perjuangan dan ketekunan, pada 13 Oktober 2011, kabar baik akhirnya datang. Budy Sugandi menerima beasiswa dari Pemerintah Turki. Sujud syukur pun ia panjatkan.

Kedua, buku ini tidak sekadar cita-cita perjalanan, namun sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Wahid Foundation, Yenny Zannuba Wahid, dalam testimoninya, buku ini juga berisi prinsip, cita-cita intelektual, dan nilai-nilai universal. 

Sebagai contoh, dalam bab “Mengidolakan Habibie Sejak Kecil”, Budy Sugandi mengisahkan perjalanannya di Eropa, saat bertemu orang-orang “pelangi”. Suatu saat, ia hendak menonton pameran IT tahunan tingkat dunia (biasa disebut CeBIT) di Hannover, yakni Ibu kota negara bagian Niedersachen (Jerman adalah negara federasi yang terdiri dari 16 negara bagian). Namun tiket yang dibeli rupanya sudah kedaluwarsa karena berlaku sehari, free one day. 

Di tengah kegalauan itulah, tiba-tiba seorang bule bernama Alessandro menghampirinya dan meminta bantuan dengan meminjam handphone (HP) karena ia kehabisan pulsa. Budy pun meminjaminya. Singkat cerita, keduanya kemudian terlibat perkenalan dan obroran santai. Sampailah pada percakapan tentang cerita Budy yang tidak bisa masuk CeBIT lantaran tiketnya kedaluwarsa. Tanpa pikir panjang, sang bule pun memberikan tiket kepada Budy (hlm 16-20).  

Kisah di atas memberikan pelajaran bahwa nilai-nilai universal dalam pergaulan sesama umat manusia harus didasarkan pada prinsip kemanusiaan. Artinya, apapun latar belakangnya, jika seseorang membutuhkan bantuan kita, sebagai sesama manusia kita harus menolongnya. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), ada tiga jenis persaudaraan, yakni persaudaraan umat Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan umat manusia (ukhuwah basyariyah).

Buku ini tidak hanya berkisah tentang nilai-nilai universal yang patut diteladani. Lebih dari itu, buku ini memiliki energi positif yang mendorong generasi muda untuk terus bermimpi. Kata novelis Vita Agustina (2018), cita-cita tidak hanya berhenti di batas desa, pulau atau negara. Keberanian untuk melangkah, melaju, melihat dunia lebih luas sangat menginspirasi segenap pecinta ilmu untuk terus maju, berkembang dan kembali mengabdi untuk Indonesia. Kata Imam Syafii, “Orang yang punya intelek dan adab tidak tinggal diam di kampung halaman. Berhijrahlah dan menetaplah di negeri asing!”

Dalam nalar puitik Imam Syafii, mengutip endorsement Zacky Khoirul Umam (PhD Candidate in Islamic Studies and History, BGSMCS Freie Universitat Berlin), di negera asing kita bisa memetik buah manis dari jerih payah, seperti anak panah yang melesat, dinamika karena revolusi bumi mengelilingi matahari, disepuh seperti emas ibriz, mengharumkan diri dan bangsa seperti kayu gaharu. Begitulah hukum alam perjuangan, manusia tak pernah bisa berdiam untuk bergerak, terus menuju pembaruan, menuju “insan kamil”, sebuah metafor dari tradisi Islam.

Karena itu, bagi pelajar ilmu dan pembelajar kehidupan, penting menggali pengalaman dari mereka yang sudah menjelajah tanpa batas, seperti yang terdapat dalam pesan buku Budy Sugandi ini. Budy telah melakukan penjelajahan intelektual tanpa batas, mulai dari Eropa, Turki, Australia, dan lain sebagainya. 

Tak pelak, membaca buku ini mengingatkan saya pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata atau novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Kedua karya tersebut mengisahkan bagaimana usaha keras para tokoh utamanya untuk bisa diterima kuliah di luar negeri. Tak hanya itu, buku saudara Budy Sugandi ini juga mengingatkan saya pada karya Fachmy Casofa berjudul Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah (2014). “Hidup adalah perjuangan. Jangan mudah lelah dan kalah!” begitulah kalimat tersirat di dalamnya. 

Akhirnya, seperti dikatakan Yanuardi Syukur (Alumnus Australia-Indonesia Muslim Exchange Program) dalam endorsement-nya, kehadiran buku ini sangat penting di tengah banyaknya pengalaman para penjelajah yang hanya berhenti di memori atau di blog tapi tidak dibukukan. Membaca buku ini akan memperluas cakrawala pengetahuan, kultur, dan diversitas manusia  di dunia yang sangat luas ini.

Peresensi adalah Ali Rif'an, Alumnus Pascasarjana UI. 

Identitas buku
Judul buku    : Jelajah Hidup Tanpa Batas: Jangan Pernah Berhenti Berharap
Penulis         : Budy Sugandi
Penerbit       : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan       : I, 2018
Tebal            : xvii + 174 halaman
ISBN            : 978-602047845-6

Bagikan:
Rabu 5 Desember 2018 13:30 WIB
Melaju di Jalan Tol Cerpen
Melaju di Jalan Tol Cerpen
Sebagaimana musik, sastra juga merupakan seni. Jika musik memainkan nada, maka sastra bermain kata. Musik nikmat didengar karena ada paduan tinggi rendahnya nada. Pun dengan sastra, sedap dibaca jika ada gelombang kata yang berdampak pada naik turunnya emosi pembaca.

Iya novel, karya sastra yang dapat memainkan hal itu dengan interval yang cukup panjang. Cerpen yang tak perlu waktu banyak untuk membacanya, yang ruang karakternya terbatas, perlu lebih pendek jarak antargelombangnya. Jika tidak, pembaca bisa-bisa kehilangan seleranya.

Gelombang dalam alur cerita ini yang belum terlihat dalam kumpulan cerita pendek berjudul Kucing Makan Koran. Membaca sembilan cerpen ini seakan melaju di sebuah jalan tol, bebas hambatan. Cerpen tersebut tidak menyajikan sebuah lubang besar yang mampu mengagetkan seluruh penumpangnya (baca: pembaca). Kecuali di cerpen yang berjudul Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim.

Itu pun merambat naiknya begitu pelan dan berpuncak pada kekecewaan tokoh Abraham atas laku rekan-rekan barunya di sebuah pesantren. Ia pun meredam api emosi pembaca yang tengah membara itu dengan permaafan antartokoh, dalam hal ini orang pertama memohon maaf pada Abraham. Puncak pendinginan itu terjadi pada permintaan Abraham kepada si aku untuk mengajarkannya shalat.

"Sudahlah saudaraku. Aku sudah memaafkanmu. Lebih baik mulai besok kamu ajari aku bagaimana mengerjakan shalat dengan benar. Yah!"  (h. 68)

Imajinasi penulis sudah sangat baik dengan memainkan tokoh binatang, yakni kucing dan macan. Akan lebih hidup, jika binatang itu menjadi tokoh kunci pada cerita. Mereka tidak hanya menjadi pemain pendukung yang fungsi keberadaannya juga tidak memengaruhi cerita sebagaimana dalam Kucing Makan Koran sendiri. Ada tidaknya kucing di situ, tidak memengaruhi rumah tangga tokoh.

Terkait hewan yang menjadi tokoh utama, bisa kita lihat bagaimana Eka Kurniawan memainkan mereka dalam penceritaannya, baik dalam novel seperti O, maupun dalam cerpen-cerpennya, seperti Kapten Bebek Hijau. Eka berani memainkan mereka menjadi tokoh utama. Cerpen dan novelnya itu bak fabel.

Bahkan, penulis yang meraih berbagai macam penghargaan internasional itu juga pernah membuat cerpen dengan tokoh utamanya adalah batu. Ya, batu, sebuah benda mati itu dimainkan sedemikian rupa sehingga menjadi penentu kisah. Hal demikianlah yang belum terlihat dalam Kucing Makan Koran.

Meskipun demikian, tema-tema yang diangkat dalam kumpulan cerpen tersebut menggambarkan kondisi sosial terkini di tengah komunitas ataupun masyarakat terkini. Konflik agama dan tuduhan sesat, misalnya, yang diangkat dalam salah satu cerpen itu, yakni Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim. Penulis menunjukkan bahwa fenomena takfiri yang juga ternyata sampai di tengah komunitasnya sendiri, yakni pesantren.

Di samping itu, penulis juga ingin memberikan gambaran tentang sebuah kemiskinan yang masih menggelayuti bangsa ini melalui cerpen berjudul Kayu Bakar. Pada cerpen tersebut, ia mengisahkan seorang anak yang terpaksa mencari kayu bakar untuk menghidupkan api dapur yang dikelola oleh orang tuanya. Padahal, masyarakat saat ini sudah beralih ke bahan bakar gas.


Peresensi adalah Syakir NF, penikmat sastra, mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta

Identitas buku
Judul: Kucing Makan Koran
Penulis: Zainuddin Sugendal
Tebal: vii + 100
Tahun: 2018
Penerbit: Diandra Kreatif dan Boenga Ketjil
Kamis 22 November 2018 9:0 WIB
Kitab Pembelaan Ulama Betawi atas Perayaan Maulid Nabi
Kitab Pembelaan Ulama Betawi atas Perayaan Maulid Nabi
Sejatinya pro-kontra di seputar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah berlangsung sejak sekian lama. Bagi kelompok yang menolak keabsahannya seperti tidak pernah lelah untuk menggugat di tiap era dan waktu. Kini di era teknologi informasi di mana berbagi informasi begitu mudah, gugatan dan sikap sinis makin kencang dan bertebaran begitu mudah.

Pada sisi lain kelompok yang mendukung perayaan maulid juga tak pernah lelah menyikapi berbagai argumen nynyir terhadap perayaan maulid. Banyak ulama yang telah menulis kitab maupun risalah singkat untuk membangun argumentasi mengenai keabsahan perayaan Maulid Nabi. Termasuk juga para ulama Nusantara yang telah menulis kitab ataupun risalah dengan bahasa lokal agar lebih mudah dipahami masyarakat awam.

Salah satu di antara kitab yang ditulis oleh ulama Nusantara dengan bahasa lokal adalah kitab Misyaktul Anwar fi Bayaani Hukmi Haflati Maulidin Nabiyyil Mukhtar yang ditulis oleh Abuya KH Abdurrahman Nawi, salah satu di antara ulama Betawi yang juga pengasuh pesantren Al-Awwabin Depok.

Oleh pengarangnya, nama ini kita diterjemahkan dengan istilah Bola Lampu Cahaya: Dalam Menerangkan Hukum Perayaan Maulid Nabi al-Mukhtar.

Kitab ini ditulis dengan bahasa Arab Melayu sama seperti kitab-kitab beliau lainnya yang juga ditulis dalam bahasa Arab Melayu. Pada bagian awal kitab ini, terdapat dua sambutan. Pengarangnya menyatakan bahwa kitab ini ditulis sebagai bentuk dukungan dan pembelaan atas perayaan maulid. Beliau mempersembahkan kitab untuk para penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Selain itu ada juga sambutan tertulis dari KH Ali Yafie. Kitab yang ditulis pada tahun 2009 ini oleh beliau dinilai sebagai bentuk respon nyata atas kebutuhan umat yang sangat membutuhkan pegangan dalam hal perayaan mauludan.

“...merupakan upaya pemenuhan suatu kebutuhan nyata dari umat kita, yang telah tumbuh berkembang dalam budaya keagamaan, budaya tersebut berakar kuat dalam sejarah ratusan tahun, di atas pangkuan binaan para ulama dan khulafaurrasyidin, yakni perayaan untuk memperingati kelahiran junjungan besar Nabi Muhammad SAW (acara mauludan)...Buku tersebut memberikan pegangan bagi umat yang mengacu dan dinukil dari kitab para tokoh ulama dan khulafa panutan sepanjang zaman. Dengan membaca dan menelaah buku ini diharapkan umat kita tidak terombang-ambing pengertiannya dalam amalan tersebut,” tulis KH Ali Yafie.

Meski judul kitab ini disebut sebagai penjelasan seputar hukum perayaan Maulid Nabi, tetapi pengarang juga memasukkan berbagai penjelasan beberapa masalah-masalah populer berkaitan dengan persoalan akidah Ahlussunnah wal Jamaah yang kerap digugat dan dikritis oleh sebagian kelompok yang mengaku anti-bid`ah. Dimana masalah-masalah itu antara lain ziarah kubur, tawassul, pahala yang terus mengalir bagi orang yang sudah meninggal, masalah seputar wali Allah, dan lain sebagainya.

Dari delapan fasal, pembahasan seputar maulid secara langsung dibahas dalam tiga fasal. Selebihnya pengarang membahas seputar masalah-masalah akidah yang masyhur diperdebatkan di kalangan umat. Ke delapan fasal tersebut sebagai berikut:

Fasal pertama: Menyatakan tentang Hadis fadhoilul `amal (segala amal kebajikan).

Fasal kedua: Menyatakan masalah bid’ah

Fasal ketiga: menyatakan masalah perayaan Maulid Nabi Muhammad

Fasal keempat: menyatakan tentang dalil sunnah ziarah kubur

Fasal kelima: menyatakan dalil tentang tiada putus tali hubungan yang hidup dengan dengan yang mati.

Fasal keenam: menyatakan tentang masalah tawassul atau washilah.

Fasal ketujuh: menyatakan tentang “Aulia”.

Fasal kedelapan: pada menyatakan tentang keutamaan umat Nabi Muhammad SAW. (Mawardi)

Kamis 15 November 2018 1:10 WIB
Oligarki Media dan Tantangan Kebebasan Pers di Indonesia
Oligarki Media dan Tantangan Kebebasan Pers di Indonesia
Jakarta, NU Online
Salah satu catatan penting dari buku berjudul ‘Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga dan Revolusi Digital’ yang ditulis oleh Dosen Senior di the Australian National University, Ross Tapsell adalah: pemilik media di Indonesia saat ini lebih mempengaruhi kebijakan pemberitaan dibanding masa sebelumnya.

“Pada pemilu 2014, keberpihakan media lebih terlihat jelas dalam mendukung kandidat capres dan cawapres pada dibanding pemilu 2004,” kata Ross Tapsell dalam Bincang Buku 'Kuasa Media di Indonesia' Kedai Tjikini, Jalan Cikini Raya 17, Jakarta Pusat, Rabu, (14/11). 

Pemilik media di Indonesia yang sebagian merupakan pimpinan partai politik secara terbuka mengakui keberpihakannya. Dukungan pemilik media tersebut pada akhirnya berdampak pada independensi media yang bersangkutan. 

Dalam buku tersebut ditulis secara gamblang bagaimana pemilik media seperti Surya Paloh dan Aburizal Bakrie secara terang-terangan menggunakan medianya sebagai kendaraan politiknya masing-masing. 

"Pada 2004 saat ditanya apakah dia akan menggunakan perusahaan medianya untuk memajukan lebih lanjut kepentingan politiknya, Surya (Paloh) menjawab: 'Secara jujur saya harus mengatakan bahwa saya menggunakan Metro TV dan Media Indonesia. Kalau tidak, apa lagi yang bisa saya gunakan? Kalau ada wartawan yang tak senang, salah sendiri mengapa dia menjadi wartawan di Metro TV dan Media Indonesia,'" tulis buku itu mengutip statemen Surya Paloh.  

Aburizal Bakrie juga mengatakan hal serupa. “Saya bersaing dengan Surya (Paloh) untuk menjadi ketua partai. TV One tentu mendukung saya dan Metro TV mendukungnya,” katanya saat diwawancara Ross pada November 2015 silam.

Parahnya lagi, Era Digital mengubah perusahaan media raksasa di Indonesia memiliki kaki tangan dalam platform lain yang pada akhirnnya menjadi oligarki media. Aburizal Bakrie misalnya, selain memiliki TV One juga menguasai Viva. Surya Paloh mengusai MetroTV, Media Indonesia dan Metrotvnews. Hari Tanoesoedibjo menguasai MNC, GlobalTV, RCTI, Koran Sindo, Okezone, Sindonews, Trijaya FM, ARH Global, dan Radio Dangdut. Demikian pula sejumlah nama lain seperti Chairul Tanjung, Eddy Sariaatmmaja, James Riady, Jacob Oetama dan Dahlan Iskan yang memiliki sejumlah platform medianya masing-masing.

Buku ini menulis adanya tiga tren besar yang muncul berkenaan dengan oligarki media: pertama, pemilik media menjadi lebih kuat secara politik. Kedua, pemilik media umumnya semakin kaya. Perusahaan media menyerupai dinasti.

“Dampak dari era digital adalah media besar semakin besar karena mereka bisa membeli media yang lebih kecil. Media besar menguasai surat kabar, media online, media sosial, hingga sektor lain,” kata Ross. “Dan pada akhirnya mereka sangat mempengaruhi iklim politik Indonesia,” katanya.

Dampak lebih luasnya, oligarki media mempengaruhi kebebasan pers seorang wartawan dan pada iklim jurnalisme itu sendiri. Kesimpulan itu dibuktikan dengan keberpihakan media yang secara ‘telanjang’ terjadi pada Pilpres tahun 2014.

Dampaknya tak kalah buruk; yakni berkurangnya kepercayaan masyarakat pada media arus utama. “Masyarakat melihat sejumlah media arus utama sebagai partisan politik. Sehingga mereka kurang percaya terhadap media mainstream. Mereka pada akhirnya mulai mempercayai media alternatif seperti sosial media. Dari sinilah banyak berita bohong muncul,” kata Ross.

Pernyataan dan temuan Ross Tapsell juga dikonfirmasi oleh organisasi Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang pada Agustus 2018 lalu merilis temuan tentang beredarnya fakta hoaks (fakta palsu atau disinformasi) di Indonesia melalui platform media sosial.

Facebook merupakan platform media sosial yang sangat dominan dalam menyebarluaskan hoaks dengan nilai 47.83 persen, disusul Twitter 12.17 persen dan Whatsapp sebesar 11.74 persen. Mafindo juga menemukan bahwa hoaks umumnya didominasi oleh konten politik dengan prosentase sebesar 58.70 persen. Sebagian besar hoaks tersusun dari gabungan narasi dan foto 50.43 persen. 

Edisi asli buku Ross Tapsell ini sendiri menggunakan Bahasa Inggris, dengan judul 'Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution'. Edisi bahasa Indonesia buku ini diterbitkan oleh Marjin Kiri dengan tebal 298 halaman dan diterjemahkan oleh Wisnu Prasetya Utomo. (Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG