IMG-LOGO

Pesan Gus Baha untuk Para Penghafal Al-Qur'an

Kamis 15 Agustus 2019 20:40 WIB
Ketika Nabi wafat, Al-Qur'an ini mahfuudhun fii shuduurir-rijal (terrekam di dada sahabat). Tapi sahabat yang hafal 30 juz itu jarang. Rata-rata riwayat mengira, sahabat yang hafal 30 juz itu sekitar hanya enam sahabat. Termasuk di antaranya: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Sayyidina Ali, Ubay bin Ka’ab. Enam saja. Sementara yang paling spesial cuma dua: Ubay bin Ka’ab dan Abdullah bin Mas’ud. Spesialis Al-Qur'an.
 
Kenapa yang hafal begitu sedikit? Sementara nanti – di zaman akhir saja – yang hafal Al-Quran mungkin jutaan.
 
Pernah suatu kejadian, di mana  yatabaahat at-taabi’un ‘alash-shahabi. Orang-orang tabi’un itu banyak yang hafal Quran. Periode tabi’in itu banyak yang hafal Quran. Itu bangga sekali karena mereka lebih banyak hafal Quran daripada periode sahabat.
 
Ketika puncak tabi’in bangga karena hafal Quran lebih banyak dari sahabat, oleh sahabat diejek, diingatkan: “pantas saja kamu menghafalkan Quran mudah, karena kau menghafalkan doang. Kalau aku, begitu satu ayat diturunkan, kulaksanakan. Jadi tidak menghafal ayat berikutnya. Kalau kamu kan sesudah hafal ayat enam, naik ayat tujuh. Setelah enam kemudian delapan.”
 
Contoh mudah begini: misalnya Anda menemui (masa,ed) Nabi. Ada khithab: "..wa jaahiduu bi amwaalikum wa anfusikum.." (QS. at-Taubah: 41). Kamu harus jihad. Tidak sampai dihafalkan, harus menyiapkan alat perang, harus datang di Badar, di Khaibar, di Khandaq. Itu kan memakan waktu berbulan-bulan. Pantas saja tidak bisa naik kelas (hafalannya,ed.).
 
Kunna na’malul qur-aan qabla an-nahfadzahu, wa anta tahfadzul qur-aan qabla an ta’malahu”. Ini diingat-ingat untuk para hafidh. Biar para hafidh itu tidak besar kepada, tidak sombong, itu ingat-ingat nasehat sahabat. “Kita itu harus melaksanakan (Al-Quran) langsung sebelum kita menghafalnya. Kalau kamu menghafalkan (Quran) dulu, sebelum melaksanakan (isi)-nya.
 
Ada suatu kejadian, di mana sahabat itu – mau tidak mau – harus melaksanakan Al-Quran dulu. Misalnya diminta Hijrah. “Waman yuhaajir fii sabiilillahi yajid fiil ardhi muraaghaman katsiiran wasa’atan…” (QS. An-Nisa’: 100). Untuk sekadar Hijrah, itu susahnya bukan main. Secara teknis, untuk bisa hijrah Kanjeng Nabi harus punya bekal. Saat keluar, harus bisa selamat dari intaian orang kafir (yang memusuhi Nabi, ed). Dan butuh penunjuk jalan Makkah menuju Madinah. Karena Nabi sendiri itu Ummy. Sehingga Abu Bakar mesti menyewa Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan. Harus ada transit. Yaitu yang terkenal, Nabi transit di Gua Tsur. Kalau kelaparan dikirim (makanan, ed.) oleh Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar.
 
Artinya: dari proses sejarah ini tidak mungkin langsung menghafalkan ayat berikutnya. Karena kemudian yang terjadi adalah satu ihwal, satu perilaku. Paham, ya? Sehingga sahabat yang hafal Al-Quran itu jarang.
 

Ditranskrip oleh Ahmad Naufa dari ceramah KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha')

Author

Tonton Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG