IMG-LOGO

Film Pendek: Katanya Mulai Suka?

Jumat 27 September 2019 07:57 WIB
Apa yang mesti kita perhatikan agar terhindar dari rasisme yang menjerumuskan itu? Setidaknya ada tiga poin yang harus diterapkan. Pertama, menyadari bahwa standar kemuliaan manusia bukanlah fisik melainkan ketakwaan. Pemahaman ini merujuk pada firman Allah:
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
 
Artinya: "Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti" (QS al-Hujurat: 13).

Dengan demikian, di luar ketakwaan setiap manusia adalah setara. Tidak boleh didiskriminasi atau pun dilecehkan hak-haknya, baik karena kemiskinanannya, ketidaktahuannya, serta identitas agama, suku, atau rasnya. Bagaimana kita mengukur ketakwaan orang lain? Tidak ada parameter paling akurat kecuali Allah sendiri yang Mahatahu. Takwa seseorang lebih banyak berasal dari kedalaman hati, dan inilah yang paling diperhitungkan Allah dalam diri manusia. Selaras dengan ayat di atas adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
 
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُم
 
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan badan dan rupa kalian, melainkan Dia memperhatikan hati kalian."
 
Jamaah Shalat Jumat hafidhakumullah,

Poin kedua yang juga penting dicatat adalah: lebih banyaklah fokus pada kekurangan diri sendiri dari pada kekurangan orang lain. Muhâsabah atau introspeksi akan menjadikan orang lebih sibuk dengan ikhtiar memperbaiki diri ketimbang mengoreksi orang lain. Keuntungannya, yang terjadi kemudian adalah berlomba dalam kebaikan (fastabiqûl khairat; berkompetisilah dalam kebaikan!), bukan berlomba saling menjatuhkan. Menghina atau meremehkan orang lain sama sekali tak membuat diri kita semakin mulia, justru mungkin sebaliknya. Sebab, kemuliaan manusia sejatinya lebih sering tersirat daripada tampak secara kasat mata.

Syekh Muhammad Ali al-Bakri dalam Dalîlul Fâlihîn li Thuruq Riyâdlis Shâlihîn mengatakan:

فربّ حقير عند الناس أعظم قدراً عند الله من كثير من عظماء الدنيا
 
"Kadang, orang ‘remeh’ di mata manusia memiliki kapasitas lebih besar di sisi Allah dari pada kebanyakan orang yang diagung-agungkan di dunia."
 
Jamaah Shalat Jumat hafidhakumullah,
 
Ketiga, penting bagi kita untuk mengasah kepekaan terhadap nilai-nilai kesetaraan dengan memperbanyak bergaul atau berdialog dengan orang lain yang berbeda. Betapa banyak ketersinggungan, kebencian, dan tindak menyakiti orang lain dilatari komunikasi yang buntu. Dengan membuka komunikasi, kita akan terhindar dari kecurigaan, salah paham, atau perbuatan menyinggung yang (meskipun) tak disengaja. Inilah nilai utama dari potongan surat al-Hujarat yang disebut tadi:
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
 
Lita'ârafû atau supaya saling mengenal menjadi tujuan kunci dari diciptakannya manusia yang bermacam-macam jenis kelamin, suku, dan bangsa. Semangat ini pula yang dicontohkan Nabi saat hijrah beliau sampai pertama kali di Madinah. Beliau mencairkan perbedaan kabilah dan dikotomi pribumi-pendatang dengan mempersaudarakan mereka dalam satu ikatan.

Author

Tonton Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG