IMG-LOGO

Sejarah Filantropi NU (1916-Sekarang)

Senin 28 Oktober 2019 16:40 WIB
Sejarah filantropi NU beriringan dengan sejarah NU itu sendiri, yang dimulai dari tahun 1916 ketika terbentuknya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah air), sebagai semangat kebangkitan rakyat yang sadar atas penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain.

Tahun 1918 berdiri Tashwirul Afkar (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana sosial politik dan keagamaan kaum santri.

Di tahun yang sama, hadir Nahdlatut Tujjar sebagai kebangkitan kaum saudagar, yang memiliki tujuan untuk memperbaiki perekonomian rakyat.

3 pilar itu menjadi embrio lahirnya NU di tahun 1926, yang dipimpin oleh Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar, yang merumuskan kitab Qanun Asasi dan kitab I'tiqod Ahlussunnah wal Jamaah, yang menjadi dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Tahun 1937 NU berjuang untuk kemerdekaan Palestina, lewat konsolidasi dan gerakan filantropi berupa pengumpulan dana untuk yatim dan janda di Palestina.

Pada tahun 1938 muncullah Syirkah Muawanah (Koperasi), yang didirikan di setiap PCNU, yang diinisasi oleh Kiai Mahfudz Shiddiq.

22 Oktober 1945, lahir Resolusi Jihad, yang menegaskan bahwa hukum membela tanah air adalah fardhu ain bagi setiap muslim Indonesia. Para santri berjuang melawan penjajah pasca diproklamirkannya kemerdekaan. Santriwati dan ibu-ibu membantu pengadaan logistik, yang dihimpun dari sumbangan hasil bumi rakyat.

Pada tahun 2004 lahirlah LAZISNU, sebagai lembaga nirlaba milik perkumpulan Nahdlatul Ulama, yang berkhidmat membangun kesejahteraan serta kemandirian umat melalui pendayagunaan dana zakat, infaq, shadaqah, waqaf dan dana sosial lainnya.

Secara yuridis-formal, tahun 2005 LAZISNU dikukuhkan dengan SK Menteri Agama No. 65/2005.

Tahun 2016, LAZISNU melakukan re-branding menjadi NU CARE-LAZISNU dan menerapkan standar manajemen mutu ISO yang dikeluarkan oleh badan sertifikasi NQA dan UKAS Management System dengan nomor sertifikat: 49224. Dengan terbitnya ISO, NU CARE-LAZISNU berkomitmen dalam jargon M.A.N.T.A.P (Modern, AkuNtable, Transparan, Amanah dan Profesional).

Melalui Rakornas tahun 2017 di Sukabumi, NU CARE-LAZISNU kembali menghidupkan tradisi filantropi NU, seperti tradisi perelek di Sunda atau jimpitan di Jawa, yang merupakan cikal bakal lahirnya program Koin (kotak infaq) NU.

Koin NU diresmikan oleh Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj, di Sragen tahun 2018. Kemudian digalakkan lewat kegiatan Kirab Koin NU Raksasa, yang dilepas oleh KH Ma'ruf Amin di Banten, sampai Banyuwangi selama 3 bulan dan menghimpun dana Rp1,8 miliar.

Saat ini, NU CARE-LAZISNU fokus dalam aksi-aksi kemanusiaan skala besar, yang bersinergi dengan lembaga dan Banom NU dalam bendera NU Peduli.

Skrip: Wahyu Noerhadi (diolah dari berbagai sumber)
Editor: Fuad Hasim dan Ahmad Sofyan
Pengisi Suara: Kendy Setiawan
Backsound: Yaa Lal Wathan karya KH Wahab Hasbullah
 

Author

Tonton Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG