Ahad, 24 Agustus 2014
Language :
Find us on:
Warta 
Depag Siapkan Kurikulum Pesantren Modern
Senin, 23/08/2004 23:34

Jakarta, NU Online
Departemen Agama sedang menggodok cetak biru kurikulum Sekolah-sekolah Islam-Arab dan Pondok Pesantren yang dianggap sudah ketinggalan zaman menjadi lebih modern. "Kurikulum itu kan rencana pendidikan, apa yang harus diberikan kepada siswa lalu diterapkan di sekolah, tetapi ketika ini disusun dan sudah dikira menampung perkembangan saat itu ternyata di luar kemajuan lebih pesat lagi," kata Direktur Pendidikan Tinggi Islam Depag Hari Furqon di Jakarta, Senin (23/08).

Ia mengungkapkan hal itu dalam "Regional Workshop for Modernizing Curricula in Arab-Islamic Schools" yang digelar pada 23-27 Agustus dengan menghadirkan pengalaman dari sejumlah tokoh agama dari Afghanistan, Iran, Pakistan, Azebaijan, Malaysia, Brunei, Bangladesh, dan Maldives. Dikatakannya, lulusan suatu sekolah sudah seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, artinya, kalau memang ahli agama sudah jenuh tentu lulusan yang dihasilkan jangan sampai menambah kejenuhan di masyarakat.

Karena itulah, ujarnya, perlu ada gambaran, ke depan apa yang dibutuhkan masyarakat, keahlian dan ketrampilan seperti apa yang dapat diserap yang semua itu tergambar dalam kurikulum baru. Tetapi karena perubahan itu terus-menerus, maka kurikulum harus dibuat fleksibel, disesuaikan dengan otonomi daerah, otonomi sekolah dan perubahan yang ada, berdasarkan Pendidikan Berbasis Kompetensi. "Itulah mengapa cetak biru bagi kurikulum tersebut diperlukan, jadi kurikulumnya bisa fleksibel," katanya.

Ia mengakui ada kesan Sekolah Islam dan Pondok Pesantren di tengah globalisasi dan modernisasi dunia ketinggalan dan kalah bersaing kalau dibandingkan dengan sekolah umum. "Ada kesan ketinggalan di bidang iptek, tetapi ada juga sekolah Islam yang mengajarnya setengah-setengah, jadi malah dengan pesantren kalah dengan umum kalah. Itulah mengapa perlu ditata ulang bagaimana menghasilkan lulusan yang benar-benar berkualitas dan dapat diserap pasar," katanya.

Sementara itu, Staf Kantor Pendidikan Pondok Pesantren Darul Muttaqien, Bogor Tasirun Sulaiman mengatakan, adalah aneh Sekolah Islam-Arab atau Pondok Pesantren sesudah 11 September 2001 dituduh sebagai sarang teroris. Menurut dia, pesantren tumbuh di desa-desa melalui sejarah panjang dengan semangat ketulusan, kesederhanaan, saling menolong, persaudaraan, dan semangat pembebasan yang tak ada hubungannya dengan persoalan terorisme. "Pesantren tumbuh untuk menelurkan Muslim-muslim yang baik, tidak saja secara budaya, tetapi juga pengetahuan dan juga manfaat dalam masyarakat," katanya.

Kurikulum pesantren, ujarnya, tersembunyi dalam kepala kyai dan guru senior yang tidak berubah, yang sulit dikaitkan dengan perubahan kondisi seiring zaman, namun sekarang pesantren sudah masuk dalam sistem pendidikan nasional dan diharuskan berubah, itu merupakan tantangan tersendiri, ujarnya. (atr/cih)

Komentar(1 komentar)
Selasa, 28/02/2012 22:27
Nama: yus
majuuuuu...
maju terus pantang mundur...
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefAgustus 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::