Senin, 15 September 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Hadiah Fatihah
Selasa, 18/12/2007 16:36

Di antara tradisi umat Islam adalah membaca surat al-Fatihah dan menghadiahkan pahalanya untuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Para ulama mengatakan bahwa hukum perbuatan ini adalah boleh.

Ibnu 'Aqil, salah seorang tokoh besar madzhab Hanbali mengatakan: "Disunnahkan menghadiahkan bacaan Al-Qur'an kepada Nabi SAW.

Ibnu 'Abidin berkata: "Ketika para ulama kita mengatakan boleh bagi seseorang untuk menghadiahkan pahala amalnya untuk orang lain, maka termasuk di dalamnya hadiah kepada Rasulullah SAW. Karena beliau lebih berhak mendapatkan dari pada yang lain. Beliaulah yang telah menyelamatkan kita dari kesesatan. Berarti hadiah tersebut termasuk salah satu bentuk terima kasih kita kepadarlnya dan membalas budi baiknya.”

“Bukankah seorang yang kamil (tinggi derajatnya) memungkinkan untuk bertambah ketinggian derajat dan kesempurnaannya. Dalil sebagian orang yang melarang bahwa perbuatan ini adalah tahshilul hashil (percuma) karena semua semua amal umatnya otorrntis masuk dalam timbahan amal Rasulullah, jawabannya adalah bahwa ini bukanlah masalah. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan dalam Al-Qur'an bahwa Ia bershalawat terhadap Nabi SAW kemudian Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi dengan mengatakan:

اَللّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ

Ya Allah berikanlah rahmat kemuliaan buat Muhammd. Wallahu A’lam.” (lihat dalam Raddul Muhtar 'Alad-Durral Mukhtar, jilid II, hlm. 244)

Ibnu Hajar al Haytami juga menuturkan kebolehan menghadiahkan bacaan Al-Qur'an untuk Nabi dalam Al-Fatawa al-Fiqhiyyah.

Al Muhaddits Syekh Abdullah al-Ghumari dalam kitabnya Ar-Raddul Muhkam al-Matin, hhm. 270, mengatakan: "Menurut saya boleh saja seseorang menghadiahkan bacaan Al-Qu'an atau yang lain kepada baginda Nabi SAW, meskipun beliau selalu mendapatkan pahala semua kebaikan yang dilakukan oleh umatnya, karena memang tidak ada yang melarang hal tersebut. Bahwa para sahabat tidak melakukannya, hal ini tidak menunjukkan bahwa itu dilarang.

Jika hadiah bacaan Al-Qur'an termasuk al-Fatihah diperbolehkan untuk Nabi, apalagi untuk para wali dan orang-orang saleh karena mereka jelas membutuhkan tambahnya ketinggian derajat, kemuliaan dan kesempumaan dan tidak ada dalil yang melarang menghadiahkan bacaan Al-Qur'an untuk para wali dan orang­-orang shaleh tersebut.

KH A Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Komentar(10 komentar)
Senin, 07/01/2008 09:42
Nama: Ghanib_64
Belajar Bahasa Indonesia yg baik & benar
Disinilah diperlukan kemampuan berbahasa Indonesia yg baik & benar untuk bisa membedakan setiap kalimat akan artinya seperti misalnya kelapa dgn kepala, keledai dgn kedelai atau memohon dgn memberi/hadiah
Semoga menjadi renungan, Wassalam.
Jumat, 04/01/2008 17:18
Nama: Muluk
Carilah yg terbaik
Kalau mau berdiskusi di rubrik ini, hrs dg kepala dingin, ajukan dalil-2nya, jgn hantam kromo aja. Nurut saya memang apa yg dipaparkan oleh Kh Nuril Huda diatas sangat singkat, sehingga tdk memuaskan bg temen-2 yg "kontra hadiah pahala". Saya sarankan kpd "Gus Nur ", " Hermawan", dan "Ghanib" agar membaca buku 40 MASALAH AGAMA karangan KH Sirajuddin Abbas, di buku itu diuraikan banyak dalil dari Al Qur'an dan Hadist. Kalau anda ingin kebenaran, jauhkan dulu perasaan paling benar sendiri, jauhkan diri anda dari pendapat atau pemikiran golongan/ kelompok, berpikirlah sebebas-bebasnya, timbang-2lah berbagai dalil yg anda terima menggunakan akal pikiran anda. Apabila setelah membaca buku tsb, anda masih tetap kontra hadiah pahala, maka anda harus SEPAKAT UTK BERBEDA dg para Nahdhiyyin . Karena tdk mungkin bermilyar-milyar manusia mempunyai pendapat dan pemikiran yg sama. Begitulah kira-2 cara mencari kebenaran itu. Yg penting kita sepakat dan bersatu dalam perbedaan.
Jumat, 04/01/2008 09:54
Nama: Abu Ahmad
@mas Ghanib_64
@mas Ghanib_64:
Please, belajar dulu kitab-kitab kuning karya ulama-ulama besar itu, baru kasih komentar. Mudah-mudahan dengan belajar lebih dalam bisa membuka pikiran mas Ghanib. Salam Hangat.
Jumat, 04/01/2008 09:54
Nama: Gus Nur
Rancu
Membaca komentar diatas, berarti memang masih terdapat kerancuan pengertian yang sangat mendasar di kalangan umat Islam antara pengertian "mendo'akan" dan "mengirimkan pahala".
Yang terputus setelah mati kecuali 3 perkara itu adalah amal, yang berarti berkaitan dengan urusan pahala. Sedang "mendo'akan" adalah jelas-jelas mengikuti perintah Allah "ud 'uni fastajib lakum". Kalau saya berdo'a "Ya, Allah ampunilah Fulan (yang telah meninggal)" jelas saya berharap agar Allah mengampuni dosa si Fulan, bukannya saya berharap agar pahala si Fulan semakin bertumpuk.

Kalau anda bertanya "apa gunanya mendoakan orang mati?" berarti anda mengingkari perintah Allah.

Hadits-hadits yang berkaitan dengan pembacaan Yaasin untuk orang yang sudah meninggal memang ada beberapa, tetapi secara dzahir hadits tidak berkaitan dengan hadiah-hadiahan pahala.
Belum lagi hadits-hadits tersebut menjadi cukup kontroversi di kalangan ahli hadits mengenai derajat kesahihannya (baca buku Studi Kritis Hadits-Hadits Yasin karya ustad Shofwan Sholahudin Bandung).
Wallahu a'lam
Kamis, 03/01/2008 22:17
Nama: surya
Assalamualaikum.
Kalo pendapat anda saya balik, jika anda hanya mengakui ayat ini :

QS.52:21. “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

QS.28: 84. “Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Terus apa gunanya mendoakan orang mati?
(tentunya gak ada gunanya menurut pendapat anda tersebut)

Kalo pahala al fatihah (alquran secara umum) bisa nyampek dalilnya sebagai berikut:

Dari Ma'qil bin Yasar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bacakanlah surat Yaasiin atas orang yang meninggal di antara kalian. (HR Abu Daud, An-Nasaa'i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Jantungnya Al-Quran adalah surat Yaasiin. Tidak seorang yang mencintai Allah dan negeri akhirat membacanya kecuali dosa-dosanya diampuni. Bacakanlah (Yaasiin) atas orang-orang mati di antara kalian." (ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Mudah-mudahan menjawab.

Wassalamualaikum.
Kamis, 03/01/2008 17:50
Nama: Ghanib_64
Pemakaian hadist/ayat yg tidak sinkron
Yang mengherankan adalah kenapa yg dijadikan rujukan Warga Nahdliyin kok hanya berdasarkan kitab karangan ulamanya aja tanpa disertai dgn hadist dari nabi SAW atau ayat Al Qur'an yg sesuai dgn permasalahan yang tengah dibahas atau kalau pun ada seolah-olah hanya memaksakan saja agar terlihat cocok/benar padahal tidak, seperti contoh di atas membahas tentang pahala hadiah Al Fatihah tp kenapa yg di tampilkan ayat Al Qur'an tentang salawat yg artinya aja sudah lain. bravo Gus Nur.
Wassalam.
Rabu, 02/01/2008 10:44
Nama: anggit
Mas,... Mas,....
Ass,... ojo podho ribut wae mas,...... Solusinya Mungkin Begini : "Kalo Dasar Hukumnya Ada dan Valid Mengapa Tidak?..... Tapi Kalo Nggak Ada ya,... jangan Malu atau Takut Untuk Tidak Membenarkan Hal Tersebut" Sopo Sing Wani Hayo,......... Wasalam
Selasa, 01/01/2008 15:45
Nama: beny hakiem
assalamualaikum
sepanjang pengetahuan saya yang menjadi alasan golongan yg menolak mengirimkan pahala adalah hadits yg emngatakan "iza maatabnu aadama inqathoa amaluhu illa min stalasin...dst, artinya tidak ada yang dapat dilakukan terhadap orang yang telah mati kecuali 3 perkara tersebut, sehingga menurut hemat saya mengirim doa pun adalah sesuatu yang keliru, karena telah terputus..tapi bagaimana jika di hadapkan dengan shalat mayit? tentu ada logika yang lebih masuk akal
Kamis, 27/12/2007 15:46
Nama: faoz
pengiriman pahala
assalamualaikum
berdasarkan kepada kebolehan pengiriman pahala pasa comment diatas dan kebolehan mendapatkan imbalan dengan mengajar quran apakah memungkinkan bila ada seorang yang bisa membayar banyak orang untuk meminta orang2 tersebut membaca quran dengan niat pahalanya dihadiahkan untuk keluarganya yang sudah meninggal. mohon pencerahannya. terimakasih
wassalam
Kamis, 27/12/2007 10:54
Nama: Gus Nur
Hadiah Pahala tidak sama dengan Doa
Hadiah pahala pada prinsipnya adalah mengirimkan pahala atas amal baik yang dilakukan kepada orang yang kita cintai. Warga Nahdliyin rata-rata meyakini bahwa pahala tersebut akan sampai kepada yang dikirimi. Yang jadi masalah adalah terdapat kerancuan pengertian antara "menghadiahkan pahala" dengan "mendo'akan". Keduanya sering dianggap sama, yaitu sama-sama mendo'akan. Padahal jelas-jelas berbeda. Menghadiahkan pahala berhubungan dengan ganjaran suatu amal, sedangkan berdo'a tidak berkaitan langsung dengan urusan pahala-pahalaan. Apabila saya berdo'a; "Ya Allah, ampunilan si Fulan" tentu berbeda dengan "Atas bacaan ini pahalanya saya hadiahkan kepada si Fulan". Dasar-dasar hukum dalam Islam yang telah disepakati oleh seluruh umat Islam tidak pernah mempermasalahkan dan malah menganjurkan untuk saling do'a dan mendo'akan, sedangkan tentang mengirimkan pahala, timbul perbedaan pendapat, tentang boleh tidaknya. Pengertian hadiah tidak selamanya harus bermakna bagus/istimewa, ingat, pernah ada kabar berita suatu demontrasi yang menghadiahkan-maaf-baju dalam wanita kepada anggota parlemen yang dianggap "loyo" pada pekerjaan tertentu.

Pahala dan dosa adalah bentuk ganjaran dari Allah atas suatu amal pekerjaan tertentu.
Logika awam, apabila kita diberi kelonggaran untuk bisa mengirimkan ganjaran pahala kepada orang yang kita cintai, seharusnya kita juga diberi kelonggaran untuk bisa mengirimkan ganjaran berupa dosa kepada orang yang kita benci. Ini bukan logika gila, atau mengada-ada.
Saya sendiri lebih setuju pada "mendo'akan" dari pada "menghadiahkan pahala" yang masih menjadi kontroversi.
Wallahu a'lam...
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefSeptember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930    
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::