Selasa, 25 November 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Hal Kesaksian Kepada Jenasah
Selasa, 22/12/2009 12:34
Warga NU sudah tidak berbeda pendapat dalam memahami hadits tentang isyhad atau minta kesaksian agar yang hadir diajak bersaksi bahwa, “Almarhum ini orang baik”. Hanya teknis penyampaian isyhad itu yang sering mengundang kritik.

Misalnya, ada pak kiai yang mamberi sambutan dalam rangka memamitkan jenasah dengan mengatakan: “Meniko jenasah sae nopo awon para rawuh?” (jenasah ini baik apa jelak hadirin?) Otomatis para hadirin serempak menjawab “sae” (baik)!

Biasanya bahkan diulang sampai 3 kali. Persaksian semacam ini masih sering kita dengar di kalangan masyarakat kita. Bagi yang kurang sependapat dengan kebiasaan semacam ini, mungkin akan bilang: “Minta persaksian kok dipaksa!” Artinya, teknis persaksian di atas dipandang ada unsur pemaksaan. Akan tetapi, orang-orang NU punya alasan: Bagaimana tidak menjawab “sae” (baik) kalau kita sedang berada di muka umum!

Mungkin tampak terasa lebih halus bila memilih redaksi bernada “saran”, misalnya: “Hadirin, marilah kita bersama bersaksi bahwa jenazah ini jenasah yang baik…” atau mungkin redaksi lain yang mirip dengan itu, sebab kita hidup dalam budaya timur, dan kita tidak hidup di tahun 40-an.

Mengenai Isyhad yang kita bicarakan ini tentu ada dasar hukumnya.

Dalil Pertama:

Dalam kitab Fathul Wahab, Juz I disebutkan bahwa nunnah hukumnya menyebut kebaikan si mayit bila mengtahuinya. Tujuannya tiada lain untuk mendorong agar lebih banyak yang memintakan rahmat dan berdoa untuknya. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dan Hakim:

اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساويهم

Sebutlah kebaikan seorang yang meninggal dunia dan hindari membuka aibnya.

Dalil kedua:

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Abi Bakrah Nafi’ bin Harits, Rasulullah bersabda: Maukah kalian aku beri tahu tentang dosa yang besar? (Rasulullah mengulang sampai 3 kali). Para sahabat menjawab: Bersedia, wahai Rasulullah. Nabi lalu bersabda lagi: Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua (nabi sedang berdiri sambil bersandar, lantas duduk, dan bersabda lagi): Hindarilah kata-kata keji/ bohong dan beraksi dengan kata-kata itu. (Nabi mengulang-ulang perkataan itu sampai kamu berharab dia diam). Saya (Imam an-Nawawi) berkata: hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, tetapi cukuplah apa yang sudah saya sebutkan di atas.

Dalil ketiga :

Nabi bersabda: Setiap muslim yang disaksikan sebagai orang baik oleh 4 orang, Allah akan memasukkan ke surga. Kami (para sahabat) bertanya: Kalau disaksikan 3 orang? Nabi menjawab: Kalau disaksikan 3 orang juga masuk surga. Kalau disaksikan 2 orang? Nabi menjawab: Dua orang juga. Kami tak menanyakan lagi bagaimana kalau hanya dipersaksikan oleh satu orang. (HR. Bukhari)

KH Munawir Abdul Fattah
Pengasuk Pondok Pesantren Kerapyak, Yogyakarta
Komentar(10 komentar)
Sabtu, 14/08/2010 08:30
Nama: didik
MNS
Buruk dihadapan manusia belum tentu buruk dihadapan 4JJI
Senin, 08/03/2010 13:39
Nama: Fitri
JENAZAH
baik dhdapan manusia blum tentu baik di hdapan 4JJI
Selasa, 26/01/2010 09:11
Nama: MUSLIM PEKALONGAN
Komentar

TETAP MAJU NU MUHAMMADIYAH DI BUMI INDONESIA

Assalamu'alaikum, untuk admin maaf saya share artikel ilmiah dari NU Online ini untuk facebook saya: darul wuled pekalongan. Selama ini saya consern beberapa artikel bertemakan dinamika Islam dunia

Untuk temen-temen silakan sharing juga atau add pertemanan dengan FB Pekalongan ini untuk menjalin silaturhami, Insya Allah kami tidak akan membahas ikhtilaf

Wassalamu'alaikum

MUSLIM PEKALONGAN
Sabtu, 23/01/2010 01:54
Nama: Amar
Bisa berat jadi saksi
Allah lebih tahu, karena memiliki catatanlengkap. Kita disunahkan mendoakan mayit. Tapi membuat kesaksian palsu karena jelas ketika hidup si mayit emang jelek kelakuannya, ga ubahnya Allah di demo atau di ajak sekongkol sebagaimana mafia hukum.. Yang jadi masalah adalah, kenapa ulama NU cenderung lebih menyukai "mensyari'atkan tradisi" dari pada mentradisikan syari'at....... gitu aja kok repot !
Jumat, 22/01/2010 18:50
Nama: achmed
repot amat
apa catatan roqib atid tdk cukup?
Jumat, 22/01/2010 18:47
Nama: achmed
menulis
repot amat, apa catatan raqib atid tdk cukup?
Kamis, 21/01/2010 09:56
Nama: AL HAMBRA
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=20988
meminta kesaksian sebagaimana dimaksud, kok rasanya terlalu membelokkan makna hadits, saya kok meragukan jika hadits itu harus diterjemahkan seperti itu. Trims.
Ahad, 10/01/2010 23:23
Nama: kacong
ishad
ishad ma ishad,tapi manusia yg dihisap amalnya,kalau amalnya baik insyaalloh masuk sorga,kalau amalnya jelek neraka tempatnya.
Rabu, 06/01/2010 16:52
Nama: kuncoro
Apakah dari hadist Shahih
Semoga dalil yang di sampaikan oleh admin adalah dalil yang benar-benar dari hadist yang shahih. yang jelas dari segi periwayatannya.
Selasa, 05/01/2010 04:24
Nama: irpan maulana
gt aja kok repot
Assalamu'alaikum....
maksud pk kyai diatas tiada lain hnya mengatakan bahwa isyhad itu ada dalil'y supaya orang yg belum tau jd tau itujg klw spendapat klw gk spendapat y ra opo2 so jgn pd ribut...gt aja kok repot...
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 269 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::