Rabu, 30 Juli 2014
Language :
Find us on:
Syariah 
Tiga Tanda Baligh
Jumat, 19/10/2012 15:00

Dalam wacana fiqih dikenal istilah bailgh. Baligh dapat dimaknai sebagai sebuah masa dimana seorang mulai dibebani (ditaklif) dengan beberapa hukum syara’. Oleh karena tuntutan hukum itulah orang tersebut dinamakan mukallaf. Sebenarnya tidak semua baligh disebut mukallaf, karena ada sebagian baligh yang tidak dapat dibebani hukum syara’ seperti orang gila. Disinilah kemudian muncul istilah aqil baligh yaitu orang yang telah mencapai kondisi baligh dan berakal sehat (mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah).

Dengan kata lain, seseorang yang sudah baligh dibebani hukum syara’ apabila ia berakal dan mengerti hukum tersebut. Orang bodoh dan orang gila tidak dibebani hukum karena mereka tidak dapat mengerti hukum dan tidak dapat membedakan baik dan buruk, maupun benar dan salah.

Rasulullah SAW bersabda, “Diangkatkan pena (tidak dibebani hukum) atas tiga (kelompok manusia), yaitu anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga sembuh." (HR Abu Dawud). Orang gila dalam hadis ini menunjukkan orang yang tidak berakal.

Ulama fikih sepakat bahwa aqil baligh menjadi syarat dalam ibadah dan muamalah. Dalam ibadah, berakal menjadi syarat wajib salat, puasa, dan sebagainya. Dalam muamalah, terutama masalah pidana dan perdata.

Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat penting mengetahui batasan antara baligh dan tidak baligh, karena ini merupakan kunci memasuki hukum syara’. Dalam bahasa keseharian sering dikatakan bahwa baligh menjadi batasan amal seorang anak dihitung pahala dan dosanya.

Adapun tanda-tanda seorang anak dikatakan balig apabila telah mengalami satu dari tiga hal di bawah ini.

Pertama , apabila seorang anak perempuan telah berumur sembilan tahun dan telah mengalami haidh (menstruasi). Artinya apabila anak perempuan mengalami haidh (mentruasi) sebelum umur sembilan tahun maka belum dianggap baligh. Dan jika mengalami (haidh) mentruasi pada waktu berumur sembilan tahun atau lebih, maka masa balighnya telah tiba

Kedua, apabila seorang anak laki-laki maupun perempuan telah berumur sembilan tahun dan pernah mengalami mimpi basah (mimpi bersetubuh hingga keluar sperma). Artinya, jika seorang anak (laki maupun perempuan) pernah mengalami mimpi basah tetapi belum berumur sembilan tahun, maka belum dapat dikata sebagai baligh. Namun jika mimpi itu terjadi setelah umur sembilan tahun maka sudah bisa dianggap baligh.

Ketiga, apabila seorang anak baik laiki-laki maupun perempuan telah mencapai umur lima belas tahun (tanpa syarat). Maksudnya, jika seorang anak laki maupun perempuan telah berumur lima belas tahun, meskipun belum pernah mengalami mimpi basah maupun mendaptkan haid (menstruasi) maka anak itu dianggap baligh.

Hal ini berdasar pada Safinatun Najah

ع„ا…ات ا„ب„ˆغ ث„اث ت…ا… خ…س عشرة س†ة ‰ ا„ذƒر ˆا„ا†ث‰, ˆا„احت„ا… ‰ ا„ذƒر ˆا„أ†ث‰ „تسع س†Š† ˆا„حŠض ‰ ا„ا†ث‰ „تسع س†Š†.

Begitulah selayaknya bagi orang tua harus selalu memonitor anak-anaknya agar dapat menjalankan tuntutan syariat sebagaimana mestinya. 

Redaktur: Ulil Hadrawy

 

Komentar(2 komentar)
Rabu, 31/10/2012 20:20
Nama: M. RIJA
MOHON PENJELASAN KEMBALI
Assalamu'alakum warohmatulloh, Selama ini, saya menganggap bahwa ciri baligh untuk wanita "walaupun belum umur sembilan tahun tapi sudah haid, maka wanita tersebut sudah BALIGH. Hal itu saya mendapat penjelasan dari pengajian-pengajian yang pengajarnya dari kalangan pesantren NU. Mohon penjelasan kembali dari yang menjelaskan "wanita yg telah sembilan tahun ATAU pernah haid. Masalah bagi saya kata "ATAU". Terima kasih
Senin, 22/10/2012 09:15
Nama: ndaru
shalat makmum anak
kalau shalat berjamaah (shubuh, maghrib dan isya') dimakmumi anak yang belum baligh, bacaan surah al-fatihah dan surah pendek-nya dikeraskan apa tidak ?
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefJuli 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online untuk sementara ditutup per 24 Juli-13 Agustus 2014::::