Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Ubudiyyah

Berziarah ke Makam Rasulullah
20/11/2007

Saat melaksanakan haji merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya.  Beribadah di Haramain (Makkah dan Madinah) mempunyai keutaman yang lebih dari tempat-tempat lainnya. Maka para jamaah haji menyempatkan diri berziarah ke makah Rasulullah SAW.

Berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah sunnah hukumnya. Rasulullah SAW sendiri bersabda:

مَنْ جَائَنِي زَائِرًا لَمْ تَدْعُهُ حَاجَةٌ اِلاَّ زِيَارَتِي كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ تَعَالَى أنْ أكُوْنَ شَفِيْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa saja yang datang kepadaku untuk berziarah, dan keperluannya hanya utnuk beziarah kepadaku maka Allh SWT memberikan jaminan agar aku menjadi orang yang memberi syafa’at (pertolongan) kepadanya di hari kiamat nanti. (HR Darul Quthni)

ِApalagi ziarah itu dilakukan pada saat melakukan ibadah haji. Dalam hadits lain disebutkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ مَوْتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِهِ

Dari Ibn 'Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal dunia, maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku ketika aku masih hidup.” (HR Darul Quthni)

Atas dasar ini, pengarang kitab I'anatut Thalibin menyatakan:

“Berziarah ke makam Nabi Muhammad merupakan salah satu qurbah (ibadah) yang paling mulia, karena itu, sudah selayaknya untuk diperhatikan oleh seluruh umat Islam. Dan hendaklah waspada, jangan sampai tidak berziarah padahal dia telah diberi kemampuan oleh Allah SWT, lebih-Iebih bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW yang harus diberikan oleh umatnya sangat besar. Bahkan jika salah seorang di antara mereka datang dengan kepala dijadikan kaki dari ujung bumi yang terjauh hanya untuk berziarah ke Rasullullah SAW maka itu tidak akan cukup untuk memenuhi hak yang harus diterima oleh Nabi SAW dari umatnya. Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan Rasullullah SAW kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.” (I'anatut Thalibin, juz II, hal 313)

Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran Rasulullah SAW yang melarang umat Islam menjadikan makam beliau sebagai tempat berpesta, atau sebagai berhala yang disembah.. Yakni dalam hadits Rasulullah SAW:

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَتَتَّخِذُوْا قَبْرِي عِيْدًا وَلا تَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا عَلَيَّ فَاِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي

Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. Maka bacalah shalawat kepadaku. Karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada.” (Musnad Ahmad bin Hanbal: 8449)

Menjawab kekhawatiran Nabi SAW ini, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Maliki al-Hasani menukil dari beberapa ulama, lalu berkomentar:

“Sebagian ulama ada yang memahami bahwa yang dimaksud (oleh hadits itu adalah) larangan untuk berbuat tidak sopan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW. Yakni dengan memainkan alat musik atau permainan lainnya, sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ada perayaan. (Yang seharusnya dilakukan adalah) umat Islam berziarah ke makam Rasul hanya untuk menyampaikan salam kepada Rasul, berdo’a di sisinya, mengharap berkah melihat makam Rasul, mendoakan serta menjawab salam Rasulullah SAW. (Itu semua dilakukan) dengan tetap menjaga sopan santun yang sesuai dengan maqam kenabiannya yang mulia.”  (Manhajus Salaf fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat-Tathbiq, 103)

Maka, berziarah ke makam Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat dianjurkan karena akan mengingatkan kita akan jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi salah satu bukti mengguratnya kecintaan kita kepada beliau.

KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Ketua PCNU Jember

« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share


Komentar:


Ahmad Ghozali menulis:
Assalamu'alaikum.
Berziarah kepada Rasulullah memang disunnahkan, tetapi bagaimana dengan ziarah wali songo yang sudah mendarah daging dalam diri orang NU? Tidak sedikit yang tujuannya mohon do'a kepada para auliya' tersebut. Bahkan, pemimpin rombongan pun ada yang salah dalam pengarahan. Kita minta kepada Pengurus NU pusat maupun daerah untuk meluruskan niat para peziarah.
Wassalam.
Ahmad Suja'i menulis:
argumentasi berziarah kepada Rasulullah sudah jelas tujuan dan manfaatnya. lalu apa tujuan dan manfaat berziarah pada setiap hari kamis sore (malam jum'at)? mohon penjelasannya yang argumentatif
hermansyah jaya menulis:
Wah...masih lom mengerti rupanya, Para Wali itukan juga termasuk aulia jadi kita juga patut menghormatinya anda saja kalo sama guru sekolah ngga hormat bisa2 ngga naik2 kelas. Dan jasa Wali songo juga akhirnya anda Islam sekarang jadi kita kekubur mereka juga bisa dalam rangka mengucapkan terimakasih kepada beliau2 dan mendoakan beliau, dan meminta-minta kepada beliau2 juga saya pikir tidak ada salahnya selama kita menyadari bahwa Allah jua yg memenuhiNya. Nah kalo dah ngerti pasti anda bisa menghargai Guru sekolah anda berkat mereka anda bisa baca dan menulis meskipun bukan kuasa mereka menjadikan bisa menulis dan membaca tapi karena karunia Allah semata.......Gitu aja kok repot
ade menulis:
Ziarah kemakam Nabi atau pun ke para ulama ( wali ) memang dibolehkan, tapi kalau meminta pada orang yg sudah meninggal bagaimana ? apakah rosullullah atau sahabat pernah berziarah sambil meminta minta pada orang yg meninggal,sedangkan kita tidak pernah tahu orang yg didalam kubur itu masuk surga apa tidak, hanya ALLAH saja yg tau dan bukankah yg dijamin masuk surga itu hanya 10 orang sahabat. mohon penjelasannya..........terima kasih
budi menulis:
penghormatan kok dalam bentuk kesyirikan. pergi ke makam wali? duh. apa pada ndak tau to tentang aturan penguburan? bentuk-bentuk laranganya? kalo ndak kunjungi MTA(majelis Tafsir Alqur'an) search aja pke google dangan "MTA" paling atas tuch.. dalil2 nya udah di bahas. mbok jangan Taqlit.
abdul menulis:
Ziarah merupakan salahsatu pupuk untuk memupuk keimanan kita agar tumbuh "subur" artinya lebih meningkat, apabila keimanan kita belum cukup untuk menerima pupuk ziarah maka carilah pupuk yang lain, misalnya melalui ceramah-ceramah keagamaan, membaca sejarah perjuangan para nabi/sholihin, dari kitab kuning dan lain sebagainya.
Gin Gin Ginawan menulis:
Untuk Saudaaku Budi yang dirohmati Allah,
Saudaraku Budi, apakah anda mengetahui tentang syirik ? Syirik itu berlepas dari Allah dan bergantung kepada selainNya. Ziarah kubur bukan syirik karena kita disini untuk zuhud terhadap dunia dan ingat akan akhirat sehingga kita tidak terlalu condong kepada duniawi dan selalu ingat Allah karena di sana diucapkan dzikir dan doa. Belajar tawakkal, ikhlas karena di sana kita bisa beramal kepada fakir miskin sehingga akan tercipta rasa persaudaraan yang erat. Taqlid itu penting saudaraku kalau kita-kita ini yang masih awam karena kalau kita menafsirkan ayat al qur'an dan hadits secara sembarangan akan salah karena kurangnya ilmu yang dikuasai. Untuk itu mari kita terus belajar dan belajar.
Semoga rahmat Allah untuk Anda.
ginginginawan@yahoo.co.id
ackie udin menulis:
Buat mas budi bukan TAKLIT tapi TAKLID...he..he..gimana mau berijtihad sendiri dari Qur'an dan Hadits nulisnya aja salah..
yoga menulis:
Buat mas Budi. Berziarah ke makam Wali atau para ulama itu bukan syirik seperti yang di katakan mas Gin Gin bahkan akan mempertebal keimanan kita. Karena kita akan diingatkan bahwa setiap manusia itu wajib hukumnya mengalami kematian untuk itu kita akan lebih rajin ngibadah mendekatkan diri kepada Allah untuk bekal menghadapi kematian. Disamping kita mendoakan orang yang kita ziarahi. Saya sendiri suka berziarah tapi nggak usah ditentukan sitiap kamis sore atau hari hari tertentu. Dan saya yakin saya gak pernah merasa ini syirik. ada beberapa batasan batasan yang saya pegang untuk tidak menjadi syirik dan kufur :
Jangan sekali kali kita:
1. Ragu ragu dengan Allah SWT/Tuhan
2. Menganggap mahluk apapun sebagai
Tuhan
3. Menganggap diri sendiri Tuhan
4. Tidak percaya adanya Tuhan

Den Bagus menulis:
Ada sebuah kisah ketika zaman Khalifah Harun Al Rasyid. Ada suatu kelompok yang kerjaannya di kuburan terus, ketika ditanya mereka menjawab bahwa dengan berziarah ke kuburan semakin mengingatkan mereka akan kematian dan berusaha dekat dengan Alloh SWT.
Jadi tidak ada salahnya berziarah, kapan pun dan kepada siapa pun terlebih kepada para aulia, orang sholih, keluarga, terlebih para nabi dan makam Rasulullah SAW selama tujuannya adalah mengingat kematian, mendoakan si mayit atau mengenang perjuangannya untuk meningkatkan keimanan.
Kalau ada orang yang ziarah dengan tujuan lain, ya itu menjadi tugas kita bersama untuk mengingatkan bukan menyalahkan golongan lain.
Semoga Alloh selalu menjaga keimanan kita...
mazzini menulis:
Ziarah kubur itu dibolehkan hukumnya kalau tatacaranya sesuai dengan syariat tapi bisa haram hukumnya kalau bertentangan dengan syariat.

Sekarang masalahnya adalah bagaimana ziarah kubur yang sesuai dengan syariat? tugas anda mencari jawabannya.
amamil menulis:
ya saya setuju ziarah itu baik selama bs meningkatkan iman dan membuat kita lebih mendekatkan diri pada Allah swt, tp sayangnya masyarakat kebanyakan termotivasi ziarah karena faktor kesulitan ekonomi bkn awal niatnya karena ingin mempertebal iman, dmn katanya dgn ziarah ke makam2 aulia setelah kita mendoakan para aulia yg tlah meninggal maka InsyaAllah Allah akan mengabulkan permintaan mereka karena mereka sudah mendoakan para aulia yg mana menjadi kekasih Allah, namun saya khawatir dengan orang yg masih tipis imannya akan terjerumus khal2 yg dilarang Allah spt syirik dan musyrik, mohon agar para ulama untuk lebih memahamkan lagi dan memberi penjelasan yg mudah dimengerti namun tepat...
IBnu ridwan menulis:
*diantara tujuan ziarah adlh mndoakan mayyit dan tadzakkur (mengingatkan qt akan kematian).knp tradisi ziarah di kamis malam (malam jum'at)?qt tau jum'at adlh sayyidul ayyam,hari yg mulia,hari istijabah untuk berdoa.jd mendoakan mayyit di hari jum'at adlh tepat.
*ziarah yg bertujuan meminta kpd mayyit itu yg tdk bnar,ini hrs di luruskan
*buat mas budi:vonis syirik thd praktik ziarah mengindikasikan pemahaman agama yg krg dalam.bljarlah di psantren NU dijamin anda tidak akan gegabah lg mensyirikkan sesama muslim.
ibn abi hamzah al jafary menulis:
assalamu'alaikum

sblmnya saya minta maaf kl nanti mngkn kata2 saya ada yang menyinggung perasaan.
buat mas budi belajar sama org NU blm?
sudah pernah mempelajari amaliyah org2 nahdiyyin dan argumentasinya blm?
kl blm.........mbok belajar dulu.......biar tidak salah paham gitu.

coba mas budi tanya sama ust.sukino sudah pernah baca ilmu2 dan dasar2 argumen an nahdyyin blm?
yang asli kitab kuning lho yang tanpa harokat dan tanpa arti........

jgn hanya pntr ngomong tapi saat suruh baca kitab kuning aja blm bisa.....
gimana jadiny mau jd ulama saja tapi baca kitabnya blm bisa.hadihi musykilah.
yumkin antum kudu jg belajar al kutub an Nahdiyyin. biar lebih ngerti scr dalam gitu.

yakfi an aktuba fi hadihil lailah.
al faqir adh dho'if ghofarollahu adh dhunuby
wassalam.
ryan maco menulis:
ass...
seharusnya kita belajar bersama sama baik NU atau yang katanya MTA, atau aliran lain. Penghormatan bisa bentuk apa saja dan sah2, mau nungging, mau keliling lapangan, mau bawa obor terserah yang penting gak merugikan orang, coba umat islam sembahyangnya kan ditembok, hindu,budha pada patung. bukan berarti yang disembah tembok atau patung tapi sebagai bentuk simbol, dan kebetulan teman2 saya banyak yang non muslim jadi ngerti gitu gak asal menyalahkan aliran lain, yang penting tuhanya satu kitabnya sama, agama kok diperdebatkan seperti sudah pada pinter aja he..he.. sorry
setiadi menulis:
assalamu'alaikum
maaf keluar dari topik, bolehkah niat Ihram Umrah dilakukan setelah masuk Makkah dan kembali ke Miqat terdekat. Niat tidak saya lakukan krn alasan waktu itu anak2 kecapekan saat perjalanan selama 23jam ke Makkah. Karena sy disalahkan teman krn hal ini.
Taufiq Hidayat menulis:
Ashsholatu wassalamu 'Alaika Ya Rosulallah.... Sholawat dan Salam yang tak terhingga atas Baginda Nabi....
budi menulis:
maafr saudara2 ku sekalian... mungkin karena fakta yang saya lihat dilapangan " saya telah mensurfe lebih dari 60 makan orang2 yang dianggap ber pengaruh dan memiliki sejarah yang ( bagi mereka ) adalah orang2 yang patut di beri penghargaan" semuanya telah memberikan kontribusi kesyirikan yang luar biasa.. memang daya memandang dari FAKTA entah kalo saudara2 sekalian yang mengerti.. ziarah sesuai dengan DALIL memang benar... tidak ada yang salah... tetapi lihat lah saudara2 kita yang belum mengerti " seperti saya" telah jauh dalam kesyirikan
NB. saya dulu adalah pimpinan salah satu kelompok yang belajar tentang tenaga dalam, murid saya lebih dari 250 orang. bisa pukul orang jarak jauh... sampai saya mengerti ternyata ini adalah " menjual ayat2 Alloh dengan harga yang sangat murah" jadi saya memandang dari segi fakta yang ada adalah kebatilan. dalam tanda kutib " mereka2 yang mencampurnya dengan kesyirikan."
moch rosi menulis:
padahal rosulullah melaknat orang berziarah kemakam nabi-nabi sebagai sesembahan, ketika rosulullah menjelang wafatnya 5 hari. coba lihat di you tube "Kiat Sukses Berda'wah As-Sunnah Part#11"
moch rosi menulis:
mohon maaf yang benar "Kiat sukses berda'wa assunnah #8"

[1 of 2]   1, 2 >|

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku