Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Apakah anda setuju pemisahan tegas fungsi syuriyah dan tanfidziyah, syuriyah sebagai pengambil kebijakan dan tanfidziyah pelaksana saja

Saat ini, secara aturan organisasi sudah benar, tinggal kemampuan personal syuriyah dan tanfidziyah
Perlu kembali dipertegas, syuriyah dari para ulama, tanfidziyah para profesional
Semuanya sama saja, asal mau bekerja dan amanah untuk NU
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Warta

PEMBAJAKAN KITAB SIRAJUT THALIBIN
Editor Darul Kutub Al-Ilmiyah Paling Bertanggungjawab
Ahad, 26 Juli 2009 06:22

Jakarta, NU Online
Abdul-Warit Muhammad Ali, editor Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, Lebanon dinilai sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus pembajakan karya ulama Nusantara, Sirajut Thalilibin.

Nama Syekh KH Ihsan bin Dahlan dari Jampes Kediri, atau dikalangan pesantren dikenal dengan Kiai Ihsan Jampes diganti syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi Al-Maki. Abdul-Warit juga melakukan perubahan lainnya dalam kitab itu.

”Selain penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, Lebanon, editornya paling bertanggungjawab atas pembajakan ini. Kita sudah melakukan upaya menghubungi pihak penerbit dan editornya,” kata Ketua PP LTN Abdul Mun’im DZ di Jakarta, Sabtu (25/7).

Editor dinilai melakukan kesalahan besar karena telah mengganti nama pengarang kitab. ”Apapun alasannya, ini tetap tidak dibenarkan. Apalagi syekh Ihsan Dahlan dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan adalah dua ulama besar yang produktif dalam menulis kitab-kitab keislaman. Penggantian ini sangat tidak menghargai mereka,” kata ketua lajnah di NU yang membidangi penelitian, penerbitan dan infomedia itu.

Wakil Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sadid Djauhari mengatakan, menjadi editor penerbitan kembali kitab-kitab klasik di Timur Tengah merupakan profesi yang menjanjikan. ”Banyak sekarang yang ingin menjadi editor atau semacam pen-tahkiq,” katanya.

”Mungkin saja ini kesalahan. Mungkin Abdul-Warit Muhammad Ali tidak tahu daerah Kediri dalam nama Syekh Ihsan bin Dahlan Al-Kadiri itu dimana, jadi lalu dikarang saja. Nah karena sama ada Dahlan-nya jadi dianggap Syekh Ahmad Zaini Dahlan,” kata pengasuh Pondok Pesantren As-Sunniyah, Kencong, Jember ini.

Menurut Ahmad Zaini Dahlan sendiri yang dicatutkan namanya sebagai pengarang sirajut Thalibin adalah seorang ulama besar di Makkah. Ia juga adalah guru beberapa ulama terkemuka di Indonesia. (nam)

« Kembali ke arsip Warta | Print| Share

Berita Terkait:


Komentar:

Belum ada komentar.

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Shalat di Raudhah Nabi Muhammad SAW (28/10/2009)
» Adzan Berangkat Haji (20/10/2009)
Arsip
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
» Doktrin Aswaja di Bidang Sosial-Politik (15/06/2009)
Arsip
» Peralihan Beduk ke Speaker (20/11/2009)
» Pahlawan dalam Perjuangan (12/11/2009)
Arsip
» Conclusion and Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism Strategy among Civil Society in Southeast Asia. (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» 'Pengarang Ilmiah Menurut Mahbub' (17/10/2009)
» Ketika Kiai Saling Nyantri (19/09/2009)
Arsip
» Bom Bunuh Diri Perspektif Maqasid Syari’ah (03/11/2009)
» Pesan Generasi ’28 (28/10/2009)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku