Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Bagaimana pendapat anda tentang ulama tidak perlu mensholati koruptor sebagai hukuman moral, termasuk kepada keluarganya

Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Ubudiyyah

Tawassul Apakah Bukan Termasuk Syirik?
01/12/2009

Seorang pembaca NU Online menanyakan fasal tentang tawassul atau mendoakan melalui perantara orang yang sudah meninggal. "Apakah bertawasul/berdo'a dengan perantaraan orang yang sudah mati hukumnya haram atau termasuk syirik karena sudah meminta kepada sang mati (lewat perantaraan)? Saya gelisah, karena amalan ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Apalagi dilakukan sebelum bulan Ramadhan dengan mengunjungi makam-makam wali dan lain-lain sehingga untuk mendo'akan orang tua kita yang sudah meninggal pun seakan terlupakan," katanya.

Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, " (Al-Maidah:35).

Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.

Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan

Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya  yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ إِنَّ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ  اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إَلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتُسْقِيْنَا وَإِنَّا نَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَافَيَسْقُوْنَ. أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137

“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)

Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW  ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya  maupun  setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. "Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat."

Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.

Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

H M. Cholil Nafis
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share

Berita Terkait:


Komentar:


Iman menulis:
Silahkan orang-orang wahabi dan garis keras komentarnya atas masalah ini. Tapi menurut saya pribadi kalau ngga suka bertawasul jangan gampang mengkafirkan atau menafikan warga NU. Lha wong saya udah pernah bercerita khan kalau guru-guru anda sendiri banyak yg kurang bahagia di alam kuburnya. Jadi silahkan anti tawasul, ngga usah komen macem-macem lha wong ilmunya cuma dapat dari buku-buku terjemahan dan internet saja. Wassalam
izmet menulis:
ya kalau takut syirik ya ndak usah tawasul-tawasulan. kalau menurut saya yang ndak tahu dalil dan pendapat ulama tentang hal itu, kalau mau doa minta sama Allah ya langsung aja kepada-Nya. paling kita akan selamat dari syirik.
Warok Jogorogo XV menulis:
to izmet :
kalo sampeyan gak suka tawasul itu hak sampeyan, warga nahdliyin menghormati kok... tapi ketika sampeyan dan orang2 sprti sampeyan menuduh pelaku tawasul itu syirik... itu sudah masuk kategori FITNAH.. Fitnah termasuk dosa besar dlm Islam tapi knp sampeyan dan temen2 smpyan tidak takut ???? Astaghfirulloh... Dari sini aja sudah ketahuan siapa yg lebih dewasa dalam beragama...
ade menulis:
iya, kalo gak tahu dalil belajar dong. jangan cuma ikut-ikutan (sama juga boong). kalo gak tahu dalil gak usah mengkafirkan.
sugi menulis:
kita tawassul karna kita menganggap derajat kita masih terlalu rendah sehingga sulit apa yang kita doakan akan terkabulkan ......so kalo gak tawasul??????? sok...gumede.......
Ony Hendratomo menulis:
@Iman hebat sekali anda bisa tau orang yang sudah meninggal kurang bahagia dikuburnya . Kasih tau saya dunk caranya saya mo belajar..
imam m haz menulis:
sahabat2...jngn emosi donk...teman2 kita memang lagi semangat mendalami ilmu agama nanti kalau sudah faham betul, insyaAlloh akan memahaminya sendiri..kita doakan
Agus Winoto menulis:
hai kawan2 se-Agama sesama muslim, kita tahu diantara kita ada banyak perbedaan pemahaman, tapi janganlah itu menjadikan permusuhan, dengan agama lain aja kita harus menghormati....lakum dinukum waliadin.... kenapa harus saling menyalahkan sesama muslim, kita jangan mau diadu domba pihak2 yg ingin memecah belah Islam.......dengan adanya perbedaan ini, itu suatu hal yg bisa dipake senjata buat memecah belah oleh orang2 yg sesungguhnya kafir....
Slamet H susanto menulis:
Ya Alloh .. atas segala Ke- AgunganMu telah Kau kabulkan do'a2 ku dengan perantara ( tawassul ) para hamba yg menjadi kekasihMu . Berikut ini tempat2 di Yogya yg saya yakini sbg tempat mustajab untuk bertawassul kepa Alloh Ta'ala : Makam Syechk Jumadil Qubro di Turgo puncak Gunung Merapi Sleman, Makam Sultan Agung di giri loyo Imogiri Bantul, Makam Panembahan Bodo makam sewu Bantul, Makam Syech Maulana Maghribi di parangtritis Bantul,Makam Ki Ageng giring di Sodo Gunung Kidul. ( Saya skrng tinggal di Columbus, Ohio, USA )
eskage menulis:
Barangkali sebaiknya hati-hati...Bertawassul kalau dengan niat yang lurus, Insya Allah selamat...Tapi perlu juga diberikan pemahaman yang lebih kepada umat tentang tawassul ini...
Islam itu satu...yuk kita saling mengingatkan dan mengisi, bukan saling caci dan saling curiga...
wildan BIO KMNU UGM menulis:
sahabat diskusi semua, mari kita tawadhu dan tenagkan hati bhwa kita adalah hamba Alloh SWT yg lemah dan hrus trus belajar. Bagi yg blm faham mngenai pasal tawassul, silahkan bsa brtanya dan blajar pada yg ahli (para ulama khususnya). Dan bagi yg sudah mngerti tntg itu, silahkan bsa mndalaminya lagi, mngamalkan dan mngajrkannya dgn baik kpda sesama agar apa yg kita tahu bnr2 dpt diketahui oleh yg lain. Trm kasih.
Ali Fatkan menulis:
Kenapa ya klo kajian yang beginian pasti di ributin....banyak sekali komentarnya yang saling menyalahkan dll...tapi pas kajian IPTEK,Pemberantasan Korupsi, ekonomi Islam,perbaikan organisasi pada diem semua ?
Abu_rey menulis:
Bagi hamba Alloh SWT yg haus ilmu, terutama masalah tawasul, timbalah dr Ulama yg mengikuti sunnah, baik dari dalam maupun luar negeri.
Semisal semua ulama yg mengajar di Masjidil Haram atau di masjid Nabawi. Yang Insya Alloh Kemurnian aqidahnya terjaga dg baik.
Atau ulama d dalam negeri yg menngikuti sunnah.

Perlu d ketahui Salafy di Indonesia adalah banyak bersumber dari Ulama-ulama Mekkah dan Madinah yg tentu adalah kota Nabi SAW yg terjaga Aqidahnya, mereka adalah mengurusi Masjid dg 100.000 dan 1000 keutamaan.

menurut mereka dg dalil-dalil bahwa tawasul dg orang meninggal adalah syirik.

kecuali tawasul Melalui asmaul husna, Amal shaleh, orang shaleh yang masih hidup, Membaca shalawat, waktu dan tempat mustajab( setlh sholat fardhu, antara adzan iqomah, tengah malam,dll).


el-F@QeeR menulis:
saya pernah membaca suatu hadits yang maksudnya kurang lebih ; syetan itu bosen menggoda ummat islam untuk masalah shalt, tetapi syetan lebih mengarah kepada perbedaan pendapat di kalangan sesama ummat Islam. Nah, saya termasuk orang yang bertahlil, bagi saudara2 yang gak bertahlil, gak usah cepet ngebidahin....Qta khan masih awam , belum banyak baca buku, apalagi kita, kalo kita cepet nyalah2in jangan2 tar kita yang salah, giman????OK damai za lah toh hanya Allah khan yang taw....
Wong Jogja menulis:
Ibaratnya gini: Kamu punya kenalan Pak Budi, lalu melalui Pak Budi untuk minta Bu Mul menurunkan 6,2 T. Lalu Bu Mul matur ke Pak Sabar. Keluar deh duitnya....
Coba km langsung datang ke Pak Sabar....
bisa aja sih dikasih... bisa juga dicegat satpam.

he he he......
abdullah menulis:
tawassul yang masyru' ada 3 : 1. tawassul dengan nama dan sifat Allah sepert Ya Rohman Ya Rohim, curahkanlah rahmatmu padaku, 2. tawassul dengan amal sholih seperti Robbana innana aamanna faghfir lana 3. tawassul dengan do'a orang yang masih hidup (minta dido'ain oleh orang lain. seperti pesan kpd yang akan haji " saudaraku jangan lupa do'akan aku agar sukses dunia akhirat". adapun selainnya sebaiknya ditinggalkan.
mustad menulis:
mas agus winoto, hati2 menempatkan .... lakum dinukum waliyadin... belajarlah agar tak salah letak dalil. disinilah terkadang terjadi shg ada yang keliru mahami Al Quran. semkin hari kelihatannya makin kita jauh dari paham agama. Dulu kita bersumber Quran, hadits, Ijma', Qiyas. akhirnya quran hadits tok, terus terakhir ingkar sunnah. hanya quran tok. nanti akhirnya bisa ragu dengan quran karena qur'an ijtihad Usman. akhirnya bahaya jikatidak percaya Qur-an. baiknya belajarlah kesemua sumber. setahu saya di Pesantren NU bhasannya luas tidak terdoktrin. itu lo bedanya belajar formal di IAIN dapat titel asal dah lulus baik selesai lain di Pondok NU luas tak henti, tak dibatasi.
numan menulis:
ya tawasul OK yang tidak tawasul silahkan...yang penting saya lebih afdol tawasul karena saya sadar keimanan saya butuh perantara agar Allah mengabulkan apa yang saya pinta...yang sombong silahkan sorga juga belum menjamin bagi orang yang tidak tawasul....ingat yang berhak sombong hanya Allah....dan menyombongi orang sombong juga ibadah....jadi maju terus yang tawasul Allah lebih tahu dari pada kita semua
mr-mung menulis:
Bismillah, yang tawasul dalam berdoanya punya dasar sendiri dan pemahaman sendiri, yg gak tawasul juga punya dasar sendiri, nah yg salah itu yg gk berdoa. urusan di terima dan tidaknya urusan Pengeran, jangan merasa diri yg paling benar, itu sombong dan di murkai Allah, kecuali benar2 melakukan sesuatu gk ada dasar hukum sama sekali, baru silahkan di ributkan dan di tentang rame-rame. OK!.
masran menulis:
Jika melaksanakan amalan lebih dahulu, baru kemudian mencari dalilnya, maka kecendrungannya mencari dalil yang mendukung. Lebih-lebih kalau amalan itu mendapat protes dari orang lain. Tapi, pahamilah dalil lebih dahulu, baru kemudian mengimpelementasikannya sebagai amalan.

[1 of 5]   1, 2, 3, 4, 5 >|

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (4-Habis)
Penjelasan Sahabat Umar Tentang Bid'ah yang Baik (31/08/2010)
» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (3)
Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah Atau Sendiri? (24/08/2010)
Arsip
» Mengenal Asuransi Syariah (15/06/2010)
» Hukum Sadap Telepon (31/05/2010)
Arsip
» Komitmen Keaswajaan dan Kebangsaan (28/08/2010)
» Hilangnya para Penggede (29/07/2010)
Arsip
» REKOMENDASI
Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi (13/03/2010)
» Rekomendasi Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia (25/12/2009)
Arsip
» Arah Kiblat dari Indonesia (18/07/2010)
» Gerakan Peduli Roshdul Kiblat (27/05/2010)
Arsip
» Kepemimpinan Kiai Anwar Musaddad (23/07/2010)
» Kiai Machfudz Siddiq Sang Pemula (22/06/2010)
Arsip
» MEMBANGUN KEDAULATAN PANGAN
Rekonstruksi Kiblat Kebijakan Ekonomi Politik Nasional (31/08/2010)
» Pesantren dan Wajah Islam Indonesia (24/08/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku