Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Ubudiyyah

FASAL TENTANG WASILAH DAN TAWASSUL (1)
Mengapa Bertawassul?
07/08/2007

Wasilah (=perantara) artinya sesuatu yang menjadikan kita dekat kepada Allah SWT. Adapun tawassul sendiri berarti mendekatkan diri kepada Allah atau berdo’a kepada Allah dengan mempergunakan wasilah, atau mendekatkan diri dengan bantuan perantara. Pernyataan demikan dapat dilihat dalam surat Al-Maidah ayat 35, Allah berfirman :

يَااَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوااللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اْلوَسِيْلَةَ

Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah, dan  carilah jalan (wasilah/perantara)."

Ada beberapa macam wasilah. Orang-orang yang dekat dengan Allah bisa menjadi wasilah agar manusia juga semakin dekat kepada Allah SWT. Ibadah dan amal kebajikan juga dapat dijadikan wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amar ma’ruf dan nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) juga termasuk wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengenai tawassul dengan sesama manusia, tidak ada larangan dalam ayat Al-Qur’an dan Hadits mengenai tawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah para Nabi, para Rasul, sahabat-sahabat Rasulullah SAW, para tabi’in, para shuhada dan para ulama shalihin.

Karena itu, berdo’a dengan memakai wasilah orang-orang yang dekat dengan Allah di atas tidak disalahkan, artinya telah disepakati kebolehannya. Bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah, senyatanya tetap memohon kepada Allah SWT karena Allah-lah tempat meminta dan harus diyakini bahwa sesungguhnya:

لاَمَانَعَ لمِاَ اَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِى لمِاَ مَنَعْتَ

Tidak ada yang bisa mencegah terhadap apa yang Engkau (Allah) berikan, dan tidak ada yang bisa memberi sesuatu apabila Engkau (Allah) mencegahnya.

Secara psikologis tawassul sangat membantu manusia dalam berdoa. Katakanlah bertawassul sama dengan meminta orang-orang yang dekat kepada Allah SWT itu agar mereka ikut memohon kepada Allah SWT atas apa yang kita minta.

Tidak ada unsur-unsur syirik dalam bertawassul, karena pada saat bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT seperti para Nabi, para Rasul dan para shalihin, pada hakekatnya kita tidak bertawassul dengan dzat mereka, tetapi bertawassul dengan amal perbuatan mereka yang shaleh.

Karenanya, tidak mungkin kita bertawassul dengan orang-orang yang ahli ma’siat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah, dan juga tidak bertawassul dengan pohon, batu, gunung dan lain-lain.

KH A Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share


Komentar:


amin menulis:
assalamu'alaikum

pak kiai tolong jelaskan perbedaan " tawassul " dengan " ja'lu al wasithah ".
sebagai orang awwam saya sangat sulit membedakan keduanya.
.........Katakanlah bertawassul sama dengan meminta orang-orang yang dekat kepada Allah SWT itu agar mereka ikut memohon kepada Allah SWT atas apa yang kita minta......
kalimat di atas menurut hemat saya adalah salah satu bentuk "ja'lu al wasithah" yang justeru bertentangan dengan "tawassul" (= al qurbah).
saya mohon maaf atas kebodohan saya.

wassalam
arif menulis:
Pertama saya mohon maaf terhadap kelancangan saya, ini semata karena kebodohan saya.
Bukankah Allah telah mengatan "Mintalah langsung kepadaku" dan jika kita bertawassul dgn amal perbuatan mereka, ini juga sudah jelas setiap bahwa" setiap manusia menanggung amal ibadahnya masing-masing". seperti halnya kita tidak mengenal istilah dosa turunan. Terimakasih
zainal f menulis:
"unt mas arif mungkin pendapat saya bisa dijadikan renungan" Ayat 'Ud uuni astajib lakum (mintalah ("langsung") kpdku maka aku akan mengabulkan". Pada ayat tsb. yang diperintah Allah untuk "berdo'a/meminta" adalah Nabi Muhammad. Krn Al Qur'an itu adalah kalam Allah yg diturunkan kpd nabi Muhammad, lalu dari Nabi ke umatnya. Jadi jika ada perintah di al qur'an atau ada penunjuk orang kedua ,itu yg dimaksud adalah Nabi Muhammad, bukan kita umatnya. Kecuali ada kalimat "Hai manusia atau hai orang2 yg beriman atau Yaa ulul albab, dll". Jadi yag diperintah berdo'a langsung itu nabi,yg ibadahnya tekun,terhindar dari dosa dll, pantas saja nabi disuruh Allah berdo'a secr langsung, sedang kita ini, dosa kita segunung, ibadah kita tidak sempurna,apakah kita sudah setara dgn kwalitas amal rasulullah. Kalau mas Arif ibadahnya sudah setingkat Rasulullah boleh berdo'a tanpa tawasul. Ingat ayat di atas untuk Rasul,bukan unt kita yg banyak salah dan dosa ini. Unt permasalahan yg kedua "setiap manusia...". Klo pemahaman mas arif spt di atas, maka tidak ada diantara manusia itu salng mendoakan. Padahal Rasul menyuruh kta unt mendoakan orang lain. Tolong pemahamn setiap ayat al qur'an maupun hadits harus hati2. Jangan harfiahnya saja, atau dipikir2 sendiri. Karena maksud yng dikandung dalam setiap teks,antara sang pembuat teks dgn kita apakah sudah sama ?. Perlu dketahui untuk memahami maksud 1 ayat al qur'an,sedikitnya 16 ilmu harus kita kuasai,yaitu ilmu nahwu,sharaf,balaghah,ma'ani,badi',bayan,asbabun nuzul,nasih mansukh,kontek ktk ayat dkumpulkan,kandisi masyart saat ayat tsb diturunkan,kondsi,politik saat ayat tsb diturunkan dll. Begitu juga cara memahami hadits, sedkitnya 10 ilmu harus kita kuasai agar pemahaman kita thd teks al qur'an maupun hadits sama dgn maksud sang pembuat teks tsb. Mungkin itu sharing saya,jika ada yng salah mohon dluruskan.Wassalam.
aris menulis:
Ass....di berbagai blog saya masih mendapatkan pro-kontra mengenai tawassul, ironi memang dengan alasan yang menjadikan ia sebagai subyek diskusi yang bermuara agamis namun miris dimana pesan "sponsor" masih melekat di saat kita. nuansa bendera terus saja menghinggapi hingga mempengaruhi polapikir saya sebagai orang yang awam. terima kasih atas penjelasannya, tolong hujjahnya di perjelas lagi biar saya tidak repot-repot merajut pemahaman mengenai tawassul. was.........
HAVIDZ menulis:
Untuk Mas Aris...
Saya ingin mengajak Mas Aris.. daripada mas mencari ilmu disini.. lebih baik mas belajar langsung.. yang bagusnya seluruh ustadz/ulama/kyai dari berbagai golongan mas belajar dengan mereka.. bukan kita menuntut ilmu hingga ke liang kubur.. Saya sendiri mas masih belajar seminggu sekali (tassawuf dan Tafsir).. walaupun umur saya sudah 33 tahun.. dan setiap permasalahan yang mengganjal dihati saya.. saya tanyakan langsung.. mari mas belajar.. mohon maaf jika saya terlalu lancang.. terima kasih
muhammad khamdi menulis:
beberapa orang kelihatannya pinter, seperti mas zainal f ini, kalau semua penunjukan kepada orang kedua 'hanya dipahami untuk Rasul saw' bagaimana dengan ummatnya? Berapa banyak perintah semisal 'Qul' dalam qur'an? apakah semua khusus untuk Nabi saja? Qul huwallohu ahad; qul a'udzu di robbi annas ; qul a'udzubi rabbi alfalaq; qul ya ayyuha alkafiruun; aqimi assholata wa atu azzakata dll hanya untuk Rasul? terus kita kebagian apa? Kalau nabi dilarang mengharamkan yang halal (at Tahrim ayat 1) apakah hanya khusus Nabi? kalau begini pemahaman ummat, bisa kacaulah islam ini. Bagaimana dengan ayat "in kuntum tuhibbuna Alloha fattabi'uni ............" Mari kita hilangkan fanatik buta, ta'assub pada kelompok maupun golongan. Kita tidak diperintah isyhadu bi anna nahdliyyin atau bi anna muhammadiyin atau bi anna PKS-in atau lainnya tapi hanya diperintah qul isyhaduu bi anna MUSLIMIIIN.
KMNU UGM yogya. menulis:
Ass.kepada muhammad khamdi pelajarilah Islam secara kaffah.maka dengan kaffah anda mengetahui Islam adalah agama roh matallil`alamiin, begitu juga dengan saudara HAVIDZ yang ini sangat menghina kelompok lain melalui Blognya sehingga ia merasa benar sendiri.Mas Hafidz ini selalu fanatik dengan PKS,kepada mas Hafidz bertobatlah untuk mengolok-olok kelompok lain.Maka berhati-hatilah saudara-saudaraku Nahdliyin dengan Blognya HAFIDZ yang mengandung banyak unsur konflik 100%.Jzk.wass
bob menulis:
Pak kyai bisa tolong jelaskan secara nahu sorof ayat ini. kaitannya doa rasulullah itu apakah berlaku forever/seterusnya ataukah hanya dulu.fi'il mudhoreh/madhi

thanks

elbaridi menulis:
buat semuanya. fanatik golongan itu wajar. karena banyak orang juga selalu menghakimi orang lain hanya dengan keyakinannya sendiri. seperti bang Zainal yang di kritik M hamdi. Bukankah Mas M Hamdi ingin mengatakan bang Zainal itu salah. Terus terang, kalau mas M hamdi pernah ketemu Nabi dan pernah ngaji sama beliau (nabi) nbaru 100% saya percaya. Kalau masih katanya dan katanya saya masih sangsi juga. jangan-jangan kita ini ibarat pemain bela diri. pencak silat merasa yang paing hebat dan menyalahkan karate. padahal sama2 seni beladiri. cuma berbeda gerakannya. kalau tujuannya sama-sama sebagai seni bela diri kenapa pusing-pusing salaing menyalahkan. tekuni saja keyakinan anda berdua, biar Allah yang menilai. Kalian berdua juga belum pernah mati, sehingga belum tahu mana amal tawassul diterima atau tidak. selagi itu menjadi khilaf ulama kemungkinan diterima dan ditolak itu masih ada. wassalam

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku