::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lima Guru Inspiratif Raih Penghargaan dari Menteri Agama

Ahad, 09 Desember 2018 07:40 Nasional

Bagikan

Lima Guru Inspiratif Raih Penghargaan dari Menteri Agama
Bandung, NU Online
Sebanyak lima guru madrasah yang dinilai paling menginspirasi di Indonesia mendapat penghargaan dari Kementerian Agama RI. Secara simbolis penghargaan diberikan oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, dalam acara Talkshow dan Penghargaan Guru Inspiratif, di Hotel Harris, Jalan Peta 241, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/12).

Di seluruh Indonesia terdapat 49.337 madrasah dari tingkat madrasah Ibtidaiyah sampai Madrasah Aliyah. Sebanyak 92,1 persen diantaranya merupakan madrasah milik swasta, sisanya merupakan Madrasah Negeri. Di antara madrasah tersebut selalu muncul profil-profil istimewa yang mendedikasikan hidupnya untuk sekolah dan siswa yang diampunya serta pendidikan islam secara umum.

"Mereka adalah profil istimewa yang spirit dan perjuangannya menginspirasi kita semua. Negara dan bangsa ini berhutang kepada mereka," kata Menag yang menjadi host dalam talkshow yang mendatangkan lima guru dengan kisah-kisah unik yang menginspirasi tersebut.

Menurut Menag, para penerima penghargaan ini memiliki kesamaan, yaitu menghadapi keterbatasan fasilitas, minim kesejahteraan, dan bergelimang kisah-kisah menyedihkan. 

"Tetapi mereka menaklukkan semua tantangan itu dengan kekuatan keikhlasan tingkat tinggi. Kalau kita refleksikan kepada diri kita, belum kita sanggup melakukannya," kata Menag. Kekuatan mereka, kata Menag, dibentuk oleh kecintaan mereka kepada anak-anak didik yang luar biasa.

Para guru yang mendapat penghargaan seluruhnya berasal dari daerah-daerah terpencil. Ahmad Haris misalnya, harus menempuh jarak berkilo-kilo meter dari rumahnya ke sekolah tempatnya mengajar di MI Pulau Bua, Alor, Nusa Tenggara Timur.

Setiap hari pria 40 tahun ini harus keluar rumah pada pagi buta, berjalan 3 kilometer melewati hutan, lalu berenang menyebrangi selat sejauh satu mil hanya untuk mengajar. Hal ini dilakukannya selama 15 tahun terakhir dengan gaji guru madrasah yang tak seberapa nilainya.

Indra Ariwibowo, guru MI Luar Biasa Budi Asih, Semarang, Jateng mengungkapkan, ia harus berjuang bersama muridnya yang pada awalnya hanya berjumlah empat orang di kelas yang selalu banjir jika musim hujan tiba. 

Bersama beberapa rekannya ia berhasil menghidupkan kembali sekolah tua yang sudah hampir tutup, mengubahnya menjadi sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yang kini telah memiliki gedung tanah dan sendiri.

Para pendidik istimewa tersebut dihadirkan dalam di hadapan 500 undangan yang memenuhi Convention Hall, Hotel Harris, Bandung. Suraidah, seorang guru yang juga kepala sekolah MI Darul Furqan, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara mengungkapkan, daerahnya merupakan kawasan terpencil yang bergelimang kemiskinan.

"Ada murid saya kakak beradik yang harus memekai satu baju seragam secara bergantian dengan adiknya yang mengambil kelas sore," katanya. Secara umum siswa di daerahnya merupakan siswa miskin yang masih menghadapi masalah dengan baju seragam, sepatu, dan alat-alat sekolah.

Direktur Guru Dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemenag, Suyitno, meminta guru terus berinovasi dalam menyebarkan ilmu dan moderasi Islam untuk masa depan agama dan negara yang baik. "Teruslah melahirkan inovasi dalam menebarkan ilmu kepada anak didik. Anda tidak sendirian karena kami selalu mendorong dan mengafirmasi di tingkat kebijakan," katanya.

Lima orang guru Madrasah berprestasi dari seluruh Indonesia yang menerima penghargaan dari Kementerian Agama tersebut selengkapnya adalah Ahmad Haris, guru MI Pulau Bua, Alor, Nusa Tenggara Timur, Untung, guru MI Miftahul Ulum, Sumenep, Jawa Timur, Suraidah, guru MI Darul Furqan, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, Indra Ariwibowo, guru MI Luar Biasa Budi Asih, Semarang, Jateng dan Supena dari MI al-Ishlah, Bani Menoy, Lebak, Banten. (Red: Fathoni)