::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hukum Penggunaan Pakaian Berlafal Tauhid

Selasa, 25 Desember 2018 03:00 Bahtsul Masail

Bagikan

Hukum Penggunaan Pakaian Berlafal Tauhid
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pakaian berlafal tauhid belakangan marak. Pakaian berlafal tauhid di kaos, topi, cincin, ikat kepala, dan atribut lain yang melekat di tubuh mudah ditemukan di jalan-jalan dan ruang publik. Bagaimana kalau pakaian tersebut menempel dengan keringat atau saat dicuci dicampur dengan pakaian kotor lainnya? Mohon penjelasan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Rizal/Tangerang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Belakangan ini setidaknya 2 tahun terakhir pakaian dan aneka atribut berlafal tauhid marak digunakan. Pemandangan orang mengenakan pakaian berlafal tauhid di jalan-jalan tampak biasa.

Penggunaan pakaian yang mengandung lafal-lafal mulia yaitu kalimat tauhid dan lafal sejenis sempat mengemuka pada Muktamar Ke-25 NU di Surabaya pada 20-25 Desember 1971 M.

Para kiai peserta muktamar ketika itu dihadapkan pada masalah pembuatan sajadah dengan bertuliskan kalimat tauhid. “Dapatkah dibenarkan pembuatan sajadah yang dijual kepada umum dengan bertuliskan kalimat tauhid dan sesamanya?”

Setelah melalui kajian mendalam, para kiai memutuskan bahwa “Membuat/menjual sajadah yang bertuliskan kalimat tauhid dan sesamanya tidak bisa dibenarkan karena mumtahan (dihina), sebab sajadah itu disediakan untuk alas shalat.”

Para ulama juga membahas masalah terkait ini. Bagi mereka, lafal tauhid dan lafal mulia lain harus diperlakukan secara terhormat. Oleh karena itu, mereka mengharamkan seseorang menelan sesuatu yang mengandung kalimat dalam Al-Qur’an karena akan bercampur dengan cairan di dalam tubuh sekali pun itu tidak najis.

ويحرم بلع ما كتب عليه قران لملاقاته للنجاسة وقال سم لا يقال إن الملاقاة في الباطن لا تنجس لأنا نقول فيه امتهان وإن لم ينجس كما لو وضع القرآن على نجس جاف يحرم مع أنه لا ينجس

Artinya, “(Seseorang) diharamkan menelan catatan mengandung Al-Qur’an karena akan bercampur dengan najis. Sulaiman Bujairimi mengatakan, tidak bisa dikatakan bahwa pertemuan tulisan itu di dalam perut membuatnya najis karena kami mengatakan bahwa demikian itu terkandung penghinaan sekalipun tidak menjadi najis. Hal ini serupa dengan peletakan Al-Qur’an di atas benda najis yang telah kering sebagai tindakan haram meski tidak membuat Al-Qur’an menjadi najis,” (Lihat Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [tanpa catatan kota, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 69).

Sementara ulama lainnya membolehkan tindakan tersebut dengan asumsi bahwa bentuk lafal tauhid atau lafal mulia lainnya pada benda yang ditelan tersebut telah berubah sehingga tidak bisa lagi disebut sebagai lafal tauhid.

وقال في النهاية وإنما جوزنا أكله لأنه لا يصل إلى الجوف إلا وقد زالت صورة الكتابة اه ومثله في التحفة وزاد فيها ولا تضر ملاقاته للريق لأنه ما دام بمعدنه غير مستقذر

Artinya, “Di dalam An-Nihayah Syekh Ar-Ramli mengatakan, kami membolehkan menelannya karena tulisan Al-Qur’an itu takkan sampai ke dalam perut kecuali bentuk tulisannya telah hilang. Selesai. Serupa dengan pandangan ini adalah komentar Syekh Ibnu Hajar di Tuhfah. Ia menambahkan di dalamnya, pertemuan tulisan Al-Qur’an dan air liur tidak masalah karena air liur itu selama berada di dalam tubuh bukan barang kotor,” (Lihat Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [tanpa catatan kota, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 69).

Lalu bagaimana dengan lafal tauhid dan lafal mulia lain yang melekat pada pakaian? Sementara tubuh seseorang itu mengeluarkan keringat. Bagaimana juga ketika pakaian berlafal tauhid itu kotor dan dicampur dengan pakaian kotor lainnya?

Keterangan terakhir dari Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi di atas sudah menjawab kedua pertanyaan ini sekaligus. Air liur dan cairan lain selama berada di dalam tubuh tidak terbilang sebagai benda kotor.

Sebaliknya, ketika berada di luar tubuh, maka cairan tersebut yaitu air liur, riak, keringat terbilang benda kotor (meski tidak najis) yang haram melekat dengan lafal tauhid dan lafal mulia lainnya.

Kami menyarankan sebaiknya kita menghindari sajadah dan pakaian yang mengandung lafal tauhid atau lafal mulia lainnya agar kita tetap dapat menjaga kehormatan lafal tersebut.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)