::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Diskusi Santri Al-Muayyad Windan; Kita Bukan Cebong dan Kampret!

Selasa, 25 Desember 2018 16:30 Daerah

Bagikan

Diskusi Santri Al-Muayyad Windan; Kita Bukan Cebong dan Kampret!
Moh Yasir Alimi dikelilingi para santri
Klaten, NU Online 
Santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan bersemangat mendiskusikan post truth dan bagaimana caranya bisa selamat di era tersebut. Diskusi berlangsung di Pondok Pesantren Husnul Khotimah yang juga diasuh oleh KH Dian Nafi pada 24 Desember 2018.

Para santri penasaran mengapa begitu banyak hoaks di Indonesia? Mengapa banyak hoaks dan ujaran kebencian tersebut mengeksploitasi agama? Mengapa banyak anak muda menjadi korban hoaks dan apa kaitan semua itu dengan post truth? Mengapa masyarakat terbelah? 

Kegiatan diformat dalam bentuk diskusi buku Mediatisasi Agama, Post Truth dan Ketahanan Nasional (2018) dengan berdiskusi langsung dengan penulisnya yaitu Moh Yasir Alimi, dosen Universitas Negeri Semarang yang merupakan Wakil Ketua Pengurus Wilayah PWNU Jawa Tengah.

Eco Chambers
Yasir menjelaskan, radikalisasi terjadi karena proses algoritmik media sosial yang menempatkan manusia pada klik dan klan yang satu selera saja. Akibatnya masyarakat terbelah secara ideologis pada ruang ideologis yang tertutup (eco chambers) dan saling berhadapan satu sama lain.

"Masyarakat menjadi terbelah antara cebong dan kampret. Penyebutan dengan nama binatang tersebut adalah tanda pengerasan ideologis dan pengelompokan yang ekstrem. Kalau dulu hanya bani daster dan bani serbet, Sekarang lebih parah menjadi cebong dan kampret," katanya.

Eco chambers ini, menurut dia, berbahaya karena menyebabkan menjadi radikal yaitu cebong kampret bukan sekadar pilihan politik, tapi juga kita menganggap bahwa pihak lawan adalah malapetaka bagi bangsa dan negara. Bahkan menganggap lawan sebagai binatang.

“Dulu cebong kampret hanya tentang pilihan pilpres saja. Kita dalam segala hal masyarakat menjadi terbelah antara cebong dan kampret. Dulu hanya persoalan politik saja sekarang ke persoalan personal,” katanya. "Dengan derasnya arus informasi yang kita akses di medsos kita merasa bahwa kita meluas, padahal sejatinya kita menyempit dan dialienasi dari kemanusiaan dan keragaman kita," tegasnya.

Manusia Dimuliakan Allah
Dalam kesempatan tersebut Yasir dan para santri mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali pada jatidiri kita sebagai manusia sebagai hamba Allah. Kita manusia bukan cebong dan kampret.

Allah saja Yang Maha Agung memuliakan manusia dengan sebutan yang indah yaitu "wahai orang orang yang beriman", "wahai manusia", masak kita merendahkan makhluknya dengan memandang rendah sesama dengan memberi sebutan yang buruk.

“Janganlah kita membiarkan diri menjadi korban algoritma, eco chambers dan propaganda para provocation enterpreneur dengan menyebarkan hoaks dan kebencian,” ajaknya. 

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayad Windan KH Dian Nafi mengapresiasi kegiatan bedah buku tersebut dan mengajak pada santri untuk terus mencari ilmu, dan ikut menyelamatkan kehidupan dengan berbuat baik dan memberikan kemanfaatan bagi sesama, alam dan bangsa dan negara. 

Buku Mediatisasi Agama, Post Truth dan Ketahanan Nasional yang ditulis kader NU ini adalah buku pertama tentang post truth di Indonesia yang mendedah bagaimana hate speech dan hoaks berbasis agama beroperasi di media sosial dan memecah belah masyarakat. Buku ini sangat bermanfaat untuk menjaga kewarasan kita agar tidak disorientasi dalam derasnya arus informasi dan kembali menggelorakan semangat cinta Tanah Air. (Red: Abdullah Alawi)