::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Harlah Pagar Nusa, Meneladani Gus Maksum

Jumat, 04 Januari 2019 08:30 Opini

Bagikan

Harlah Pagar Nusa, Meneladani Gus Maksum
Gus Maksum Djauhari
Oleh Ahmad Ali Adhim

Syekh Abdur-Razaq bin Abdul-Muhsin Al-Badrpernah berkata seperti ini dalam Khuthab wa Mawa’izh min Hajjatil-Wada': Jika kaum Muslimin melalaikan jihad melawan diri sendiri, mereka tidak akan mampu jihad melawan musuh-musuh mereka, sehingga dengan sebab itu terjadi kemenangan musuh terhadap mereka”. Perkataan Syaikh Abdur Razaq itu setidaknya bisa digaris bawahi bahwa musuh terbesar manusia sebenarnya adalah dirinya sendiri. Sederhananya kurang lebih “jika ingin menang melawan orang lain, maka menangkanlah melawan diri sendiri terlebih dahulu.

Terkait dengan perlawanan terhadap musuh maupun melawan diri sendiri, ada beberapa hal yang menarik untuk diingat, salah satu diantaranya adalah kisah heroik seorang manusia yang selalu menang melawan musuh-musuhnya. Beliau adalah Gus Maksum Djauhari. Siapa yang tak mengenal Gus Maksu Djauhari? Pendekar Sakti Mandraguna yang berasal dari Pesantren Lirboyo. Banyak peristiwa yang menunjukkan ketegasan dan keberanian beliau dalam bersikap. Hal itu sudah dialaminya sejak masih kecil.

Kesaksian tervalid adalah berasal dari Abdul Latif; salah satu sahabat terdekat Gus Maksum, sebagian kecil contoh ketegasan dan keberanian Gus Maksum adalah ketika beliau mengantarkan kakaknya berbelanja ke pasar. Saat itu sang kakak digoda oleh laki-laki. Tentulah apa yang dilakukan oleh lelaki itu membuat Gus Maksum kecil geram dan tidak terima.

Tanpa basa-basi Gus Maksum mengambil bongkahan cor yang ada di sampingnya. Lalu bongkahan itu dipukul dengan kedua belah tangannya hingga hancur. Melihat kejadian itu, para pengganggu yang jauh lebih besar dan lebih banyak jumlahnya itu lari terbirit-birit. Padahal saat itu beliau belum memiliki ilmu silat.

Keberanian dan ketegasan Gus Maksum dalam menumpas kejahatan tidak bisa diragukan lagi, banyak sekalii kisah-kisah kesaktian dan karomah Gus Maksum yang bisa dilacak di buku-buku, diantaranya adalah buku yang diterbitkan oleh Lirboyo Press yang berjudul Gus Maksum; Sosok dan Kiprahnya atau bisa dilacak di Ensiklopedi NU Karya Cak Nur.

Meski memiliki kesaktian dan kehebatan, Gus Maksum adalah sosok yang sederhana dan sangat tawadhuk kepada kedua orang tuanya. Beginilah kisah ketaatan beliau kepada Ibunya; ketika Gus Maksum disuruh untuk menikahi sepupunya sendiri, Nyai Badi’ah. Tidak ada sedikitpun kesah yang mengalir pada mulut beliau. Tawaran itu langsung diterimanya tanpa kesan berat demi ketaatan kepada Ibunya.

Bagaimana perasaan kita ketika dijodohkan dengan seseorang yang sama sekali tidak kita inginkan? Sementara kita mempunyai kekuatan untuk mengucapkan kata-kata penolakan? Sebagai manusia normal, tentu kita akan mengajukan pertanyaan atau penolakan terhadap tawaran menikah tersebut, sebab urusan jodoh bukanlah sepele, ketika kita memilih seseorang untuk kita jadikan pasangan hidup, maka konsekuwensi selanjutnya adalah kita menerima segala sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita tau. Tapi bagaimana dengan Gus Maksum dengan penawaran dari ibunya tadi? Beliau langsung menerimanya, tanpa berkeluh kesah kepada ibunya.

Diantara ketawadhukan Gus Maksum yang diceritakan dalam Buku Terbitan Lirboyo Press itu adalah manakala Gus Maksum berjalan bersama Ibundanya, Gus Maksum tidak pernah berjalan di depan, apalagi mendahului. Kecuali bila disuruh oleh Ibundanya dan telah meminta izin sebelumnya, saat itu beliau menundukkan kepala, sebagai tanda rasa hormat dan taat kepada sang Ibu. 

Aguk Irawan Mn dalam disertasinya yang berjuul Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara mengutip nasihat luhur Imam Al-Ghazali dalam kitab al Adab fi al Diin “beberapa etika santri kepada Gurunya adalah santri tidak boleh berjalan di depan guru dan berbicara di depan guru dengan lantang.” Dalam konteks etika, tentu nasehat Imam Al Ghazali di atas mempunyai korelasi dengan etika Gus Maksum kepada Ibunya. Hubungan antara Ibu dan Anak tentulah amat berbeda dengan hubungan seorang Guru dan Murid, tetapi bagi Gus Maksum, memuliakan seorang guru adalah sebuah kewajiban, lebih-lebih kepada orang tuanya.

Kembali lagi kepada nasehat Syekh Abdur-Razaq bin Abdul-Muhsin Al-Badrdalam Khuthab wa Mawa’izh min Hajjatil-Wada': “Jika kaum Muslimin melalaikan jihad melawan diri sendiri, mereka tidak akan mampu jihad melawan musuh-musuh mereka,” apakah pelajaran suci ini yang benar-benar dipegang oleh Gus Maksum sehingga beliau tidak bisa dikalahkan oleh siapapun ketika menumpas kejahatan? Wallahu a’lam.

Setidaknya kita bisa meneladani akhlaq beliau, lebih-lebih untuk mengingat kembali penggalan Hadis yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, dan Sahih Ibn Hibban ini.“Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah.” Selamat Ulang Tahun ke-33 Pagar Nusa!


Penulis adalah salah satu santri di Komunitas Gubuk Baca Baitul Kilmah, penulis buku “Gus Maksum Lirboyo”.