::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Santri Hendaknya Manfaatkan Media Dakwah yang Tersedia

Senin, 07 Januari 2019 20:00 Daerah

Bagikan

Santri Hendaknya Manfaatkan Media Dakwah yang Tersedia
A Afif Amrullah (kanan) pada seminar di kampus Stiqnis Sumenep.
Sumenep, NU Online
Banyak peran yang dapat dilakukan santri saat ini. Usai merampungkan belajar agama di pesantren juga terbuka kesempatan untuk berkhidmat dengan keahlian beragam.

Hal tersebut diingatkan A Afif Amrullah saat menjadi narasumber seminar dengan tema Peran Pesantren dan Dunia Penyiaran di kampus Institut Ilmu al-Qur’an Nurul Islam (Stiqnis) Karangcempaka, Bluto, Sumenep, Jawa Timur, Ahad (6/1).

“Kalau diperhatikan saat ini, para penceramah agama yang muncul di media kebanyakan memiliki ilmu keagamaan yang terbatas,” kata A Afif Amrullah di hadapan peserta seminar.

Menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur ini, kondisi tersebut tidak dapat serta merta disalahkan. “Karena yang memiliki konsep dan sumber daya manusia untuk mengisi tayangan televisi dan media sosial adalah dari kalangan ini,” ungkapnya.

Yang justru harus dipertanyakan adalah, mengapa peran seperti itu tidak diisi oleh kalangan yang memiliki pengetahuan dan pengamalan agama mumpuni. “Harusnya, pesantren dapat mengambil peran ini,” jelas alumni Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang ini.

Oleh karena itu, peran strategis seperti itu hendaknya dapat dilakukan para santri. “Karena pengetahuan agama dan pengamalan santri tidak diragukan, hanya saja harus bisa mengambil peran yang lebih strategis,” terangnya.

Sebagai layaknya sebuah industri, para santri juga hendaknya dapat memahami tuntutan yang melingkupi tayangan di televisi. “Dari mulai tampilan diri yang meyakinkan, suara yang memukau, serta tentu saja pengetahuan agama yang memadai,” kata dosen di Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya tersebut.

Afif yakin, semua kriteria tersebut dimiliki oleh santri. “Masalahnya, kapan ada keberanian dan semangat untuk berkiprah di dunia yang lebih luas,” sergahnya.

Kemudahan mengakses internet juga menjadi peluang yang dapat dimanfaat secara optimal. “Ada layanan media sosial yang juga bisa diisi dengan tayangan dan konten khas pesantren,” katanya. Dari mulai kalimat dan gambar, serta video pendek  inspiatif yang sekarang banyak digemari kalangan muda, lanjutnya.

Dengan banyaknya peluang dakwah yang tersedia, sudah saatnya para santri membekali diri dengan metode dakwah zaman now. “Dan untuk bisa menguasai berbagai kemampuan tersebut bisa dilakukan secara autodidak maupun dengan pelatihan,” tandasnya.

Seminar diselenggarakan sebagai rangkaian peluncuran portal Pondok Pesantren Nurul Islam yakni www.nuriska.id. Hadir sebagai narasumber lain yakni Syaifullah Ahmad Nawawi selaku Kepala Biro NU Online Jawa Timur. 

Kegiatan yang berlangsung di salah satu ruangan kampus Stiqnis tersebut juga dihadiri utusan dari lembaga pendidikan yang ada di pesantren setempat. Juga para dosen, mahasiswa, dan santri. (Ibnu Nawawi)