::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rasulullah, Utbah bin Rabi'ah, dan Iming-iming yang Menggiurkan

Kamis, 10 Januari 2019 06:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Rasulullah, Utbah bin Rabi'ah, dan Iming-iming yang Menggiurkan
Mulanya Rasulullah menyebarkan Islam secara sembunyi. Lalu setelah ada perintah, Rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Begitu pun dengan pengikutnya. Awalnya hanya kerabat dan teman dekat Rasulullah yang masuk Islam. Namun kemudian banyak tokoh dan pembesar Quraisy yang menyatakan diri menjadi pengikut Rasulullah.

Saat ‘api Islam’ masih kecil, kaum kafir Quraisy Makkah berusaha untuk memadamkannya. Berbagai macam upaya dilakukan untuk meredam pergerakan Rasulullah. Terutama menjalankan aksi-aksi kekerasan dan penindasan terhadap pengikut Islam yang lemah. Mereka dipaksa untuk keluar dari Islam. 

Usaha itu tidak berhasil. Justru ‘api Islam’ berkobar semakin besar. Terutama setelah beberapa elit kafir Quraisy menyatakan diri masuk Islam. Diantaranya Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. Mereka dikenal sebagai seorang pemberani dan tegas. Mereka juga tidak segan-segan untuk ‘berduel’ dengan kafir Quraisy yang mengganggu Rasulullah dan dakwah Islam. Begitu lah, dulu mereka penentang Islam, tapi kemudian menjadi pelindung dakwah Islam.

Situasi dan kondisi itu membuat kaum kafir Quraisy Makkah kalang kabut. Dulu mereka bebas saja mencemooh dan menghina Rasulullah, serta menindas pengikut Rasulullah yang lemah. Namun, setelah ‘jagoan’ kaum kafir Makkah masuk Islam, mereka tidak bisa lagi berlaku seperti itu. 

Para tokoh kafir Makkah itu akhirnya berkumpul dalam sebuah majelis. Mendiskusikan dan merumuskan sebuah strategi baru untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Salah seorang elit kafir Makkah, Utbah bin Rabi’ah, menyampaikan usul agar menggunakan ‘cara-cara yang lembut’ untuk menghentikan pergerakan Rasulullah. Para tokoh kafir Makkah sepakat untuk mengubah taktik dan menyetujui usulan Utbah bin Rabi’ah.

Utbah bin Rabi’ah merupakan pemuka Bani Abdus Syam. Dia adalah cucu dari Abd Syam, saudara Hasyim (buyut Rasulullah). Utbah dikenal sebagai pribadi yang bijaksana, cerdas, ramah, dan bisa bekerjasama dengan musuh. Oleh karenanya, ketika Utbah menawarkan diri untuk menjalankan strategi baru itu, maka para tokoh kafir Quraisy mengamininya.

Singkat cerita, Utbah bin Rabi’ah lalu menemui Rasulullah yang saat itu tengah berada di dalam kawasan Ka’bah. Ia mendekat dan duduk di samping Rasulullah. Pada kesempatan itu, Utbah langsung melancarkan strateginya yaitu memberikan beberapa iming-iming atau penawaran kepada Rasulullah. Sebagai imbalannya, Rasulullah harus menghentikan dakwahnya.  

Ada empat penawaran yang diberikan Utbah kepada Rasulullah. Pertama, harta. Jika Rasulullah menginginkan harta, maka Utbah dan para tokoh Makkah akan memberikan semua hartanya sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah. Kedua, kemuliaan. Para pembesar Makkah juga siap menjadikan Rasulullah sebagai orang yang paling mulia diantara mereka, jika beliau menghendakinya. Ketiga, kerajaan. Jika yang diminta Rasulullah adalah kerajaan, maka mereka siap menjadikannya sebagai raja mereka. Keempat, obat paling mujarab. Mereka juga siap menyiapkan obat dan tabib yang paling ‘tokcer’ manakala Rasulullah tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati sendiri.

Rasulullah mendengarkannya secara seksama. Setelah menyampaikan beberapa iming-imingan tersebut, Utbah bin Rabi’ah terdiam. Rasulullah bergeming dengan semua iming-iming yang ditawarkan Utbah tersebut. Beliau tidak menginginkan dan tidak tertarik sama sekali dengan semua tawaran yang diiming-imingkan Utbah. Rasulullah lantas bertanya kepada Utbah.

“Apakah engkau sudah selesai bicara wahai Abul Walid?” tanya Rasulullah, sebagaimana dikutip dari buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2012). 

Beliau sengaja memanggil Utbah dengan Abul Walid karena itu adalah sapaan penghormatan. Utbah mengangguk dan menjawab “Iya, sudah selesai.”

Rasulullah kemudian meminta Utbah mendengarkan perkataannya. Lalu Rasulullah membacakan QS. Fushshilat ayat 1-14. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Rasulullah membaca QS Fushshilat hingga ayat ke-38 ketika Utbah memintanya untuk menghentikan bacaannya, lalu kemudian Rasulullah sujud kepada Allah.

Melalui ayat-ayat itu, Rasulullah hendak menegaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan Rasul Allah bertugas untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia. Mereka akan selamat jika mengikuti Rasulullah. Sebaliknya, mereka akan celaka jika menentangnya. 

“Apakah engkau telah dengar, wahai Abul Walid?”

“Iya, sudah,” kata Utbah.

“Jika demikian, silahkan engkau bebas memilih,” kata Rasulullah.

Setelah itu, Utbah bin Rabi’ah langsung menemui pemuka kaum musyrik Makkah. Di hadapan para pembesar musyrik Makkah, Utbah mengaku takjub dengan kata-kata yang disampaikan Rasulullah. Ia tahu jika itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan perdukunan. Ia kemudian meminta para elit musyrik Makkah meninggalkan Rasulullah, tidak mengganggunya lagi.

“Demi Allah, engkau telah disihir dengan kalimat-kalimatnya,” kata para pemuka musyrik Makkah itu kepada Utbah.

“Itu lah pendapatku, maka lakukan lah apa yang kalian hendak lakukan,” jawab Utbah. (A Muchlishon Rochmat)