::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Saat Rasulullah Shalat Isya Dua Rakaat karena Lupa

Jumat, 11 Januari 2019 06:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Saat Rasulullah Shalat Isya Dua Rakaat karena Lupa
Ilustrasi shalat.
“Manusia adalah tempatnya salah dan lupa,” kata Rasulullah dalam sebuah hadits. 

Rasulullah adalah manusia tetapi tidak seperti manusia biasa. Rasulullah adalah orang yang terjaga dari melakukan dosa dan hal-hal yang tidak baik (maksum). Tidak seperti manusia umumnya yang kerap kali melakukan dosa dan maksiat. Persamaannya, Rasulullah juga bertindak seperti yang lainnya. Beliau makan, minum, tidur, beristri, dan beranak. Juga memiliki emosi seperti manusia kebanyakan. Bahagia, sedih, marah, dan lupa. 

Iya, Rasulullah juga pernah lupa. Alkisah, suatu ketika Rasulullah menjalankan shalat Isya bersama para sahabatnya di Masjid Nabawi. Beliau bertindak sebagai imam. Ketika semuanya sudah siap, Rasulullah memulai shalat dengan takbiratul ihram dan mengakhirinya dengan salam. Setelah shalat, Rasulullah berdiam diri di dalam masjid. 

Hingga saat ini, beliau belum menyadari kalau rakaat shalatnya kurang. Para sahabat yang menjadi makmumnya menjadi bingung. Mengapa Rasulullah shalat Isya dua rakaat? Padahal status mereka tidak musafir. Mereka menjadi menerka-nerka; apakah Rasulullah lupa atau memang ada wahyu yang baru turun dan merevisi jumlah shalat Isya menjadi dua rakaat?

Di tengah kebingungan dan kebimbangan para sahabat itu, seorang sahabat yang dijuluki Dzul Yadain –karena tangannya berukuran panjang- mendatangi Rasulullah. Dia lalu bertanya kepada Rasulullah perihal shalat Isya yang dua rakaat itu.

“Wahai Rasulullah, apakah engkau tadi memang lupa atau kah shalat Isya kini dikurangi menjadi dua rakaat?” tanya Dzul Yadain, dikutip dari buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015). 

Rasulullah masih belum sadar usai mendengar pertanyaan dari Dzul Yadain. Beliau masih keukeuh dan yakin bahwa shalat Isya-nya empat rakaat. Untuk meyakinkan dirinya, Rasulullah lantas bertanya kepada para sahabatnya. Apakah dirinya shalat Isya empat atau dua rakaat? Para sahabatnya menjawab secara serentak bahwa Rasulullah shalat Isya hanya dua rakaat. 

Rasulullah baru tersadar setelah para sahabatnya mengingatkannya. Beliau langsung berdiri lagi untuk memimpin shalat. Menyempurnakan kekurangan bilangan rakaat shalat Isya-nya, agar menjadi empat rakaat. Tidak lupa, setelah salam Rasulullah melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa). Dan ini menjadi praktik sujud sahwi yang pertama. Dengan demikian, lupanya Rasulullah itu juga melahirkan hikmah tersendiri, yaitu sujud sahwi ketika lupa bilangan rakaat shalat. 

Usai menyempurnakan bilangan rakaat shalat Isya dan melaksanakan sujud sahwi, Rasulullah mengatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa yang tidak luput dari lupa. Beliau meminta kepada para sahabatnya untuk mengingatkannya ketika lupa. 

“Apabila seseorang ragu-ragu tentang berapa hitungan rakaat atau rukun shalat yang dilaksanakannya, hendaknya dia memastikan apa yang dianggapnya benar. Lantas, hendaknya dia menyempurnakan apa yang dianggapnya kurang, kemudian mengucapkan salam dan bersujud sahwi dua kali,” kata Rasulullah.

Demikian Rasulullah. Beliau selalu terbuka kepada para sahabatnya. Tidak mentang-mentang. Tidak pula merasa paling benar –padahal keliru, meski beliau seorang Nabi dan Rasul Allah. Beliau bahkan meminta kepada para sahabatnya secara langsung untuk tidak usah takut-takut mengingatkan jika dirinya lupa lagi. (A Muchlishon Rochmat)