::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Teliti Ajaran Kiai Asrori, Musyafa' Raih Gelar Doktor di UINSA

Senin, 14 Januari 2019 11:30 Daerah

Bagikan

Teliti Ajaran Kiai Asrori, Musyafa' Raih Gelar Doktor di UINSA
M Musyafa' (kiri) di hadapan para penguji di pascasarjana UINSA.
Surabaya, NU Online
Fenomena hedonisme dan keduniawian serta keringnya jiwa esoterik manusia membuat resah seorang Muhammad Musyafa'. Karenanya, ia melakukan penelitian atas tafsir yang dilakukan mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah, KH Ahmad Asrori al-Ishaqy.

Dalam sidang promosi yang dipimpin oleh M Nur Fuad dan enam anggota penguji tersebut, Musyafa berhasil mempertahankan disertasinya. Karya berjudul Relevansi Nilai al-Thariqah pada Kehidupan Kekinian: Studi Penafsiran atas al- al-Muntakhabat Karya KH Ahmad Asrori Al-Ishaqy itu mendapat apresiasi dari para guru besar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut. 

Pada sidang tersebut Musyafa menjelaskan bahwa al-Ishaqy, sebutan KH Ahmad Asrori al-Ishaqy, memilih corak tafsir wasatiyah yang beraliran tradisional responsif.

“Aliran ini bertitik pada karakter dalam keislaman berupa hilm atau welas asih, keadilan, dan ihsan atau berbuat baik,” katanya di hadapan para penguji di gedung pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. 

Dalam pandangannya, ketiganya bersinergi dengan tiga tingkatan keagamaan yaitu syariat, tariqah, dan hakikat. “Corak tafsir al-Ishaqy tersebut menjadikannya tidak tekstualis dan tidak liberalis, tapi berada di antara keduanya,” jelasnya.

Dalam pandangannya, tafsir sufistik sangatlah relevan dalam suasana saat ini. “Apa yang dilakukan oleh al-Ishaqy ini dibutuhkan dalam konteks kehidupan kekinian yang mana orang cenderung lupa atas nilai luhur yang sebenarnya diajarkan dalam moral agama,” tandasnya.

Al-Ishaqy sendiri menjadi ikon tasawuf urban di Surabaya. Jamaahnya saat ini tersebar tidak saja di sejumlah kota di Indonesia tapi juga hingga ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand Selatan. (Ibnu Nawawi)