::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Para Pendekar Bertarung di Harlah Pagar Nusa Nganjuk

Senin, 14 Januari 2019 13:00 Daerah

Bagikan

Para Pendekar Bertarung di Harlah Pagar Nusa Nganjuk
Pencak Dor

Jombang, NU Online
Peringatan Hari Lahir Pagar Nusa ke-33 di Padepokan Mojopahit, Kelurahan Cangkringan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Ahad (13/0) dimeriahkan dengan pertarungan antar pendekar diatas ring yang terkenal dengan nama Pencak Dor.

Peserta adalah para pendekar dari sejumlah pondok pesantren, baik dari dalam dan luar Kabupaten Nganjuk seperti dari Kediri, Jombang, Tulungagung, dan Madiun.

"Pencak Dor adalah panggung tarung bebas, tapi tetap menjunjung sportivitas dengan semboyan Di Atas Lawan di Bawah Kawan. Pertandingan ini juga diikuti pendekar dari perguruan lain," ujar panitia pelaksana, Zaini.

Kehadiran pendekar dari perguruan lain yang tertarik untuk mencoba ‘empuk’nya panggung pertarungan membuat panitia puas. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi panitia. Karena dapat membuat ajang silaturahim dan menyatukan perguruan pencak silat lewat Pencak Dor.

"Melihat antusiasnya peserta, maka tahun depan akan kita gelar lagi. Apalagi kegiatan ini bisa menyatukan beberapa perguruan. Ini tujuan lain dari acara ini. Semoga semakin banyak yang gabung untuk bertanding," pungkas Zaini.

Sementara itu Ketua Pimpinan Cabang (PC) PSNU Pagar Nusa Kabupaten Nganjuk Agus Johanoko mengingatkan pendekar Pagar Nusa untuk tidak memutuskan silaturrahim dengan rekan seperguruan maupun perguruan lain. Dengan silaturrahim maka semua akan saling memahami dan mengerti.

"Pendekar pencak silat Pagar Nusa itu tidak boleh memutuskan silaturahim kepada siapapun. Selain itu harus tawadlu, tidak memamerkan kekuatan yang dimilikinya. Hal inilah yang dicontohkan oleh guru besar kita Kiai Ma'shum Lirboyo," katanya.

Silaturrahim baginya merupakan sebuah upaya menciptakan kedamaian dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Komitmen ini harus terus diwujudkan supaya meresap kehati masyarakat.

"Seluruh pendekar Pagar Nusa harus mempertahankan komitmen serta tujuan selama ini, yaitu menjaga ulama dan Indonesia. Karena ini tujuan utama, maka membela agama serta menjaga keutuhan NKRI tak boleh ditawar lagi," terangnya.(Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)