::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengejar Kesejahteraan di Dunia dan Kebahagiaan di Akhirat

Ahad, 20 Januari 2019 13:00 Risalah Redaksi

Bagikan

Mengejar Kesejahteraan di Dunia dan Kebahagiaan di Akhirat
Ada sebagian umat Islam yang memiliki pandangan menjauhi dunia, hanya memikirkan akhirat dengan melakukan ibadah-ibadah ubudiyah. Hari-harinya diisi dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dan sejumlah ritual ibadah lainnya. Apakah demikian sesungguhnya kebahagiaan akhirat dikejar? Apakah hanya dengan rajin melakukan ritual peribadatan formal, maka Islam akan berjaya di dunia? 

Ajaran Islam sesungguhnya menegaskan perlunya keseimbangan antara aktivitas ibadah dan keduniaan, tetapi banyak di antara kita yang masih timpang dalam melaksanakannya. Islam mengajarkan bahwa tugas manusia di bumi adalah sebagai khalifah di muka bumi. Dan itu tidak cukup hanya dengan melakukan shalat, puasa, haji atau ibadah formal lainnya. 

Pandangan yang memisahkan aktivitas keduniaan dan keakhiratan ini yang menyebabkan lambatnya kemajuan umat Islam. Mereka ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat hanya menyibukkan diri dengan segala macam ibadah ubudiyah sedangkan mereka yang mengejar dunia tidak dianggap memberi kontribusi kepada tujuan hidupnya di akhirat nanti. 

Para inovator dalam bisnis, para ilmuwan yang menghabiskan hari-harinya di laboratorium, para politisi yang memperjuangkan kepentingan rakyat, para petani yang menghasilkan pangan atau para pedagang yang mendistribusikan barang, serta profesi lain yang memiliki dampak kepada perbaikan hidup manusia seolah-olah tidak memiliki nilai ukhrawi. Sementara mereka yang hanya sibuk dengan ubudiyah, merasa menjadi orang yang paling dekat dengan Allah, sekalipun tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan publik. Bahkan masih menggantungkan hidupnya dari pemberian orang lain. 

Bahkan sesama umat Islam yang merasa menjadi orang saleh ribut soal tata cara yang benar dalam menjalankan ibadah ubudiyah seperti apakah niatnya cukup dalam hati atau dilafadzan, bagaimana posisi sedekap yang benar dan sejumlah persoalan yang khilafiyah yang tidak terhitung jumlahnya. Seolah-olah di luar tata cara peribadatan yang diyakininya, tidak sah atau tidak diterima amalnya. Persoalan lain, seperti kemiskinan di sekeliling masjid, malah kurang mendapat perhatian.

Sementara itu di sisi lain, kita temui orang-orang yang terlihat religius, rajin menjalakan ibadah tetapi ternyata terlibat dalam kasus korupsi atau pelanggaran hukum lainnya. Indonesia merupakan negara Muslim yang pengikutnya rajin menjalankan ibadah. Di sisi lain, tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. 

Segala aktivitas di dunia ini dapat menjadi ladang untuk menuju keridhaan Allah. Segala sesuatu bernilai ibadah atau tidak, tergantung pada niatnya, bukan pada aktivitas itu sendiri. Shalat, puasa, haji dan ibadah formal lainnya ketika diniatkan untuk sesuatu selain Allah, seperti untuk membangun citra islami dalam politik sama sekali tidak memiliki nilai ibadah di hadapan Allah. 

Atau hidup sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki ambisi sangat besar untuk mengejar materi yang diusahakan secara mati-matian tetapi tidak tercapai bukan cerminkan kedekatan dengan Allah. Kaya raya dengan gaya hidup sesuai dengan harta kekayaan yang dimiliki tetapi hatinya tidak terikat dengan harta yang dimilikinya menunjukkan harta tidak membuatnya jauh dari Allah.

Sikap profesional dalam menjalankan aktivitas di tempat kerja sehingga hasil kerja memuaskan sesungguhnya bernilai ibadah sangat tinggi, dibandingkan kerja ogah-ogahan tetapi sangat rajin melakukan ibadah ubudiyah di kantor atau menunjukkan penampilan yang sok islami.

Dalam aspek-aspek keduniawian inilah umat Islam jauh tertinggal dengan umat lainnya. Kontribusi umat Islam dengan jumlah 1.6 miliar jiwa dalam ilmu pengetahuan masih sangat kecil dibandingkan dengan umat agama lainnya yang meskipun jumlahnya lebih kecil, mampu memproduksi ilmu pengetahuan baru.  

Demikian pula dalam perekonomian. Negara-negara berpenduduk Muslim yang sejahtera bukan karena inovasi teknologi dan industri atau hasil dari kerja keras, tetapi lebih karena kekayaan alam berupa minyak bumi. Dan celakanya, kekayaan minyak tersebut malah menjadi sumber konflik. Sumber kekayaan yang akan habis tersebut digunakan untuk membeli senjata untuk membunuh sesama Muslim, bukan untuk mensejahterakan rakyat atau membantu sesama Muslim di wilayah lain yang membutuhkan.

Pesan dan ceramah yang menekankan bahwa aktivitas ibadah hanya yang bersifat ritual formal inilah yang terlalu dominan menghiasi ruang publik sehingga masyarakat menilai untuk mencapai kedudukan sebagai orang saleh harus rajin melakukan ritual peribadatan sementara mereka yang bekerja keras, kreatif dan tangguh dalam urusan dunia tidak dianggap menjalankan upaya mencapai kedudukan tinggi di hadapan Allah. 

Kita bekerja, ya seperti biasa karena kita perlu melakukannya untuk bisa mendapatkan penghasilan guna mencukupi hidup. Belajar, ya karena itu penting untuk mendapatkan nilai baik sehingga nantinya mudah mencari kerja pada zaman yang sangat kompetitif ini. Berolahraga ya, karena biar sehat, tidak ada hubungannya dengan ibadah. Sejumlah pekerja bahkan memiliki pandangan, saat ini waktunya bekerja keras, biar nanti pansiun bisa tenang beribadah di masjid. Ini berarti menganggap bahwa kerja yang dilakukan tidak bernilai ibadah. 

Apabila aktivitas duniawi tersebut diberi nilai religius maka akan ada energi besar yang diarahkan untuk melakukan hal-hal tersebut karena diberi sentuhan ukhrawi. Bagi Muslim, kebahagiaan akhirat adalah tujuan utama dalam kita menjalani hidup di dunia. Dengan demikian, energi yang dikerahkan untuk mencapai hal tersebut akan berlipat ganda. Dari situlah kita akan mampu memberi kontribusi yang lebih besar kepada umat manusia atas persoalan-persoalan yang kini semakin kompleks. (Achmad Mukafi Niam)