::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa

Sabtu, 26 Januari 2019 21:15 Fragmen

Bagikan

NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa
Dalam sejarah NU, Gelora Bung Karno (GBK) mendapat tempat sendiri. Karena melalui lapangan tersebutlah NU mampu menunjukkan kebesarannya. Beberapa kali NU mengadakan kegiatan akbar di lapangan yang didirikan Presiden Soekarno tersebut, yaitu 1966, 1992, 2008, dan 2011.

Untuk pertama kalinya, NU menggunakan GBK pada harlah ke-40 yang digelar pada 31 Januari 1966. Saat itu NU dipimpin duet KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Idham Chalid. Keduanya berpidato di hadapan ratusan ribu warga NU. Presiden Soekarno juga turut berpidato. 

Hajatan besar itu didesain seniman besar yang aktif di Lesbumi NU yaitu Djamaluddin Malik (ayah Camelia Malik), Usmar Ismail (tokoh perfilman nasional) dan Asrul Sani. 

Harlah saat itu, bangsa Indonesia masih dalam keadaan luka setelah peristiwa Gerakan 1 Oktober empat bulan sebelumnya. Tuntutan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai ke akar-akarnya masih sangat kencang digelorakan masyarakat. Kemudian tuntutan itu juga mengarah kepada Presiden Soekarno. 

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara pada buku Api Sejarah 2, harlah NU tersebut mengubah wajah Jakarta yang semula merah dengan gambar palu arit sebab setahun sebelumnya, Partai Komunis Indonesia menyelenggarakan peringatan hari ulang tahunnya, yaitu 23 Mei 1965. 

Kemudian, masih menurut Ahmad Mansur,  saat NU menggunakan GBK, Jakarta menjadi samudera hijau. 

Menurut Abdul Mun’im DZ, setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Lalu, pada masa akhir Orde Baru, NU menggelar Rapat Akbar di Parkir Timur Senayan, 1 Maret 1992. Saat itu NU dipimpin KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sementara Rais Aamnya KH Moh. Ilyas Ruhiat yang ditetapkan di Munas NU Bandar Lampung, 21-25 JANUARI 1992. Kiai asal Cipasung itu menggantikan KH Ali Yafie yang mengundurkan diri setelah ditetapkan jadi Rais Aam karena wafatnya KH Ahmad Shiddiq pada 1991.  

Menurut sejarawan Iip D. Yahya, dari 2 juta yang direncanakan hadir, hanya sekitar 500 ribu yang dapat berkumpul. Hal itu karena pemerintah Soeharto setengah hati dan cenderung menghambat. Padahal acara itu jelas, "Ikrar Kesetiaan Warga NU pada Pancasila dan UUD 1945". 

Masih menurut Iip, butir kedua Ikrar kesetiaan itu menegaskan, "Kami yakin, bahwa Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final negara kami. Karenanya, kami teguhkan tekad kami untuk membangun dan mempertahankan derap dan langkah pembangunan bangsa kami."

Saat itu, NU seolah sendirian mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. Bahkan pemerintah yang punya program P4, penuh dengan curiga. Tetapi NU di bawah kepemimpinan KH Moh. Ilyas Ruhiat dan KH Abdurrahman Wahid, terus maju ke muka dengan segala konsekuensi.

Untuk ketiga kalinya, NU menggelar hajatan besar di GBK pada 2008. Saat itu NU dipimpin KH Ahmad Hasyim Muzadi (Ketua Umum) dan KH Ahmad Sahal Mahfudh (Rais Aam). Saat itu, NU menargetkan 300 ribu massa untuk melaksanakan istighotsah bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. 

Terakhir, pada 17 Juli 2011 NU menggelar Rapat Akbar dalam rangka harlah ke-85 di GBK. Saat itu NU dipimpin Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Rais Aam KH Ahmad Sahal Mahfudh yang diikuti kurang lebih 120 ribu warga NU. Sebelum harlah, NU membicarakan ekonomi, radikalisme agama, dan masalah-masalah kebangsaaan lain. (Abdullah Alawi)