::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi

Selasa, 05 Februari 2019 12:30 Ilmu Al-Qur'an

Bagikan

Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Ada tiga nama tempat yang hampir selalu disebut dalam sejarah lahirnya para intelektual Islam: Basrah, Kufah, dan Syam. Nama yang terakhir ini adalah sebuah tempat yang pernah disinggahi oleh Nabi Muhammad bersama Maisarah saat membawa barang dagangan Khadijah. Secara geografis, Syam merupakan sebuah kawasan yang meliputi empat negara, yaitu Suriah (yang merupakan pusat negeri Syam), Palestina, Lebanon, dan Yordania.

Pada masa dahulu, Syam merupakan pusat pemerintahan Umawiyyah, di sana terbangun sebuah masjid megah Umawi sebagai tanda kejayaan Islam. 

Negara Syam ini dikenal dengan sebutan tanah kebaikan atau keberkahan, sebab di sana terdapat sebuah masjid al-Aqsa, yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat pertama, dan menjadi kiblat pertama umat Muslim. Maka wajar bila dari rahim tanah Syam yang berkah ini lahir intelektual Muslim yang berkualitas. 

Dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’at, intelektual Muslim yang dilahirkan dari tanah Syam ini adalah Abdullah bin Amir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Amir asy-Syami al-Yahshabi.

Biografi Imam Ibnu Amir asy-Syami

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah bin Amir al-Yahshabi. Dalam matan kitab “al-Syatibiyyah” karya Abi al-Qasim bin Firruh, Ibnu Amir dinisbatkan ke buyutnya atau kabilah di Yaman, yaitu al-Yahshabi bin Dahman. 

Beliau merupakan murni keturunan Arab, yang tidak tercampur nasabnya oleh keturunan ajami (selain Arab). Ada dua imam qira’at sab’ah yang murni keturunan Arab, yaitu Abu Amr bin al-Ala’ dan Ibnu Amir asy-Syami.

Imam asy-Syami ini merupakan salah satu imam qira’at sab’ah yang paling bagus dan tertinggi sanadnya, dan termasuk tabi’in senior. Di negara Syam, imam asy-Syami ini merupakan panutan dan Imam masyarakat Syam dalam bidang qira’at Al-Qur’an dan menjadi pemungkas masyikhah iqra’ setelah wafatnya Abi Darda’.

Baca juga:
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Aktivitas non-formal beliau sehari-hari, selain mengisi pengajian dan mengajar Al-Qur’an, adalah menjadi imam tetap kaum Muslimin di Masjid Umawiyah pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, baik sebelum dan sesudah kekhalifahnnya dan beliau (Umar bin Abdul Aziz) bermakmum di belakangnya. ini menunjukkan keluhuran dan kemulyaan beliau diangkat menjadi seorang imam shalat di sebuah masjid resmi kenegaraan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Maka wajar beliau mendapat mandat untuk merangkap jabatan sebagai qadi’ (hakim), imam dan maha guru Al-Qur’an di Damaskus. Damaskus saat itu menjadi pusat pemerintahan dan dikelilingi oleh para ulama dan para tabi’in. Mereka semua sepakat menerima qira’at imam asy-Syami ini, membaca dan mempelajarinya, sementara mereka semua adalah generasi awal dan unggul. Ini menunjukkan bahwa qira’at asy-Syami ini adalah mutawatir dan dapat dipertanggung-jawabkan kesahihannya.

Beliau lahir pada tahun 21 H, sebagian sejarah mengatakan beliau lahir pada tahun 28 H.

Imam Khalid bin Yazid al-Murri benceritakan bahwa beliau mendengar Ibnu Amir bercerita: “Nabi menggenggam saya saat saya berumur dua tahun, kemudian saya pindah ke Damaskus saat saya berumur sembilan tahun”. ini artinya bahwa Ibnu Amir sempat bertemu dengan Nabi SAW. namun beliau belum baligh, tidak mengimani kerasulan-Nya, sehingga beliau disebut sebagai tabi’in. 

Perjalanan Intelektualnya

Sebelum menjadi seorang imam dan hakim di Damaskus, imam Ibnu Amir asy-Syami ini pernah mengenyam pendidikan Al-Qur’an kepada ulama ternama di masanya, salah satunya adalah belajar kepada:

1. Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin al-Mughirah al-Makhzumi, al-Makhzumi belajar kepada Utsman bin Affan dari Nabi Muhammad Saw,.

2. Abi Darda’ Uwaimir bin Zaid bin Qais dari Nabi Muhammad SAW.

3. Sebagian ulama mengatakan bahwa Ibnu Amir belajar langsung kepada Utsman sendiri tanpa melalui perantara.

Jika dilihat dari transmisi sanad imam asy-Syami ini, maka imam ini termasuk generasi ketiga dari Nabi dari jalur al-Mughirah. Sedangkan jika dilihat dari jalur Abi Darda’ dan Utsman termasuk generasi kedua. Artinya, transmisi sanad ini yang tertinggi di antara imam qira’at sab’ah yang lain. Maka tak ayal, sebagian ulama qira’at menempatkan Imam asy-Syami ini pada urutan pertama di antara para imam qira’at yang lain karena ketinggian sanadnya, namun sebagian yang lain menempatkan Imam Nafi’ pada ururtan yang pertama karena kemulyaan tempatnya, yaitu Madinah. Di sanalah jasad manusia terbaik dan terluhur akhlaknya di kebumikan.

Komentar Ulama

Imam Yahya bin al-harits berkata: Ibnu Amir adalah ulama yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi, ia tidak mau melihat kebid’ahan yang berlaku di sekelilingnya kecuali ia mengingkari dan mengubahnya.

Murid-muridnya

Kemulyaan dan keluasaan ilmu yang dimiliki oleh Imam asy-Syami ini menjadi magnet untuk penuntut ilmu dari belahan negara Islam saat itu, sehingga mereka datang berbondong-bondong untuk belajar kepadanya secara langsung. Salah satu murid-murid beliau adalah: (1) Yahya bin al-Harits al-Dzimari, ia sebagai pengganti dan menempati posisinya dalam soal kepakaran bacaan Al-Qur’an, (2) Abdurrahman bin Amir, Rabi’ah bin Yazid, saudara Imam Ibnu Amir sendiri, (3) Ja’far bin Rabi’ah, (4) Ismail bin Abdullah bin Abi al-Muhajir, (5) Said bin Abdul Aziz Khallad bin Yazid bin Shabih al-Murri, (6) Yazid bin Abi Malik. 

Setelah banyak berkontribusi dalam bidang kehakiman dan qira’at Al-Qur’an di Damaskus, pada umur sembilan puluh tujuh, Allah sebagai pemilik jiwa dan raga manusia, memanggilnya pada bulan Asyura’ tahun 128 H di kota Damaskus. Semoga Allah menempatkannya di surga-Nya yang paling tinggi dan kita mendapatkan barokah ilmunya. Amin.

Perawinya dalam Bidang Qira’at Al-Qur’an

Dalam ilmu qira’at, setiap imam qira’at memiliki dua perawi dan di antara kedua perawi tersebut memiliki perbedaan soal bacaan yang diterima dari imam qira’at. Perbedaan itu ada yang tajam dan ada yang relatif sedikit perbedaannya. Selain perbedaan bacaan yang diterima oleh perawi, jalur transmisi bacaannya pun ada yang yang langsung diterima dari imam qira’at tanpa perantara dan ada yang melalui jalur perantara murid-muridnya. 

Kedua perawi Imam Ibnu Amir ini nyaris tidak ada perbedaan yang mencolok soal bacaannya dan keduanya juga tidak menerima langsung dari imam qira’atnya, yakni melalui jalur perantara. Kedua perawi Imam asy-Syami tersebut adalah: Hisyam bin Ammar dan Ibnu Dzakwan.

1. Hisyam bin Ammar

Namanya adalah Hisyam bin Ammar bin Nashir bin Maisarah al-Sullami al-Dimasyqi, panggilannya adalah Abu al-Walid. 

Lahir pada tahun 153 H, masa pemerintahan khalifah al-Mansur. 

Beliau adalah seorang panutan dan imam masyarakat kota Damaskus. Selain sebagai imam dan panutan masyarakat kota Damaskus, beliau juga dikenal sebagai khatib, (orator: muballigh), muqri’, muhaddits, dan menjabat sebagai mufti, yang mendapatkan predikat tsiqah, (terpercaya) dhabt (cekatan: kuat hafalannya), adil dalam menjalannya amanah, fasih (penyampaiannya), sangat alim, dan luas ilmunya, baik dari sisi riwayah maupun dirayah-nya.

Imam Hisyam merupakan seorang imam yang mengabdikan diri hanya untuk mengajar Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan Intelektualnya dan Transmisi Sanadnya

Perjalanan intelektual beliau dimulai belajar dari satu guru ke guru yang lain, layaknya seorang penuntut ilmu yang haus akan cahaya ilmu. Dalam catatan sejarah, ia belajar qira’at Al-Qur’an kepada beberapa guru, salah satunya adalah Syaikh Irak al-Murri, dan Ayyub bin Tamim dari Yahya al-Dzimari dari Abdullah bin Amir dari Abu Darda’ dan al-Mughirah hingga sampai kepada Nabi SAW. 

Sebagian riwayat mencatat bahwa beliau belajar sebagian huruf (qira’at) dari Imam Atabah bin Hammad, dan Abi Dihyah Ma’la bin Dihyah dari Nafi’, yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam bidang hadits beliau meriwayatkan dari beberapa para imam besar pada masanya, salah satunya adalah Imam Malik bin Anas, Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid al-Zanji, Ismail bin Ayyasy, Sulaiman bin Musa al-Zuhri.

Imam Hisyam bercerita tentang pribadinya, sebagaimana disampaikan oleh Imam Muhammad bin al-Faidh al-Ghassani: Ayah saya menjual rumahnya dengan harga 20 dinar, untuk bekal haji saya. Ketika saya sampai di Madinah, saya mendatangi majlis imam Malik. Saya punya beberapa pertanyaan (untuk ditanyakan kepadanya). Kemudian saya mendekat kepadanya, sementara beliau sedang duduk di depan seperti layaknya seorang raja. Sementara murid-santirnya berdiri. Banyak orang bertanya kepadanya, dan dijawab oleh beliau. Kemudian saya bertanya kepadanya: Apa yang akan Anda katakan tentang hal ini?. Kemudian beliau hanya menjawab: kita mendapati seorang anak kecil, wahai murid, bawalah ia kemari. Kemudian murid-murid itu membawaku layaknya anak kecil, padahal saya adalah orang yang (mudrik) berpengetahuan. Kemudian beliau mencambuk saya layaknya seorang guru mencambuk muridnya dengan tujuh belas kali cambukan. Saya pun menangis. Beliau bertanya: “Kenapa kamu menangis, apakah ini menyakitkanmu?. saya pun menjawab: “Ayah saya menjual rumahnya dan menasehati saya untuk menemuimu, menyimak pengajianmu tapi kamu malah memukulku. Imam Malik berkata: “Tulislah”...kemudian Imam Malik meriwayatkan tujuh belas hadits kepada saya dan menjawab semua pertanyaan saya.

Cerita di atas, menunjukkan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu hingga harus mengorbankan harta dan raganya.

Imam al-Ahwazi menceritakan bahwa ia mendengar dari imam Hisyam berkata: “Selama kurun waktu dua puluh tahun, saya tidak menyiapkan (teks) khutbah (dalam berceramah)”. Ini artinya bahwa imam Hisyam merupakan orang yang sangat fasih dalam bidang bahasa Arab. 

Imam Ahmad bin Muhammad al-Ashbahani berkata: “Sejak wafatnya Ayyub bin Tamim, kepakaran dalam bidang qira’at berpindah pada dua orang, Hisyam dan Ibnu Dzakwan. Hisyam dikenal sebagai orator yang piawai dan fasih, dianugrahi umur yang panjang, sehat akal dan pandangannya, sehingga banyak penuntut ilmu belajar kepadanya. Sementara Ibnu Dzakwan dikenal sebagai perawi yang dhabit (cekatan) dan menjadi panutan masyarakat dan imam shalat masyarakat Damaskus.

Keistimewaan Imam Hisyam

Imam Hisyam termasuk hamba Allah yang dekat dengan-Nya dan cepat terkabul doanya. Imam Abu Ubaidillah al-Humaidi menceritakan bahwa Imam Hisyam berkata: Saya memohon kepada Allah tujuh permohonan, namun Allah hanya mengabulkan enam permohonan saya. Saya tidak tahu apakah permintaan saya yang ke tujuh dikabulkan atau tidak. Pertama, saya memohon kepada-Nya supaya membenarkan hadits Nabi Muhammad Saw,. Allah mengabulkannya. Kedua, saya memohon kepada-Nya agar saya bisa berangkat haji, Allah mengabulkannya. Ketiga, saya memohon kepada-Nya supaya saya berumur panjang hingga melewati seratus tahun, Allah mengabulkannya. Keempat, saya memohon kepada-Nya supaya dianugrahkan harta 100 dinar yang halal, Allah mengabulkannya. Kelima, saya memohon kepada-Nya agar saya memiliki murid yang banyak, atau mereka datang ke saya untuk menuntut ilmu kepada saya, Allah mengabulkannya. Keenam saya memohon kepada-Nya agar saya dapat berkhutbah di masjid Damaskus, Allah mengabulkannya. Sementara permohonan saya yang ke tujuh agar Allah mengampuni dosa-dosa saya dan kedua orang tua saya, namun saya tidak tahu apa yang akan diberikan oleh Allah atas permohonan saya.

Komentar Ulama

Imam al-Ashbahani berkata: Imam Hisyam dianugrahkan umur yang panjang, sehat akal dan pandangannya, sehingga banyak orang yang belajar kepadanya dalam bidang ilmu qira’at dan hadits.

Imam Yahya bin Ma’in berkata: Hisyam bin Ammar adalah orang yang pintar. 

Ibnu Ma’in juga berkata: Hisyam bin Ammar lebih saya sukai daripada Ibnu Abi Malik.

Karya-karya Imam Hisyam

Karya terbesar seorang ulama adalah generasi yang melanjutkan estafet keilmuannya. Dalam hal ini adalah para murid-muridnya yang menjadi jariyahnya kelak di akhirat. Karya ini dikenal dengan sebutan karya ideologis. Sementara karya yang berbentuk tulisan, penulis tidak menemukannya, hanya saja ada sebuah ungkapannya yang bagus dan fasih sebagai karyanya, yaitu: 

قولوا الحق، ينزلكم الحق منازل أهل الحق، يوم لايقضي إلا بالحق

"Katakan yang haq, kalian akan ditempatkan oleh Dzat yang Maha Haq bersama dengan para penghuni yang haq, di hari yang tidak ada pengadilan kecuali dengan haq."

Murid-murid Imam Hisyam

Sebagaimana telah disinggung di depan bahwa salah satu permohonan imam Hisyam adalah memiliki murid yang banyak, maka Allah mengabulkannya. Salah satu dari sekian murid beliau dalam bidang qira’at Al-Qur’an adalah: Abu Ubaid bin al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Yazid al-Hulwani, Musa bin Jumhur, al-Abbas bin al-Fadhl, Ahmad bin al-Nadhr, Harun bin Musa al-Akhfasy.

Sementara dalam bidang hadits, ulama muhaddisin yang meriwayatkan hadits-haditsnya adalah Imam al-Bukhari dalam kitab shahihnya, Imam Abu Daud, al-Nasa’I, Ibnu Majah dalam kitab “sunan” mereka, Ja’far al-Gharyani, Abu Zar'ah al-Dimasyqi. Sementara Imam al-Turmudzi meriwayatkan dari seseorang atau perawi yang meriwayatkan dari Hisyam.

Para kritikus hadits banyak memuji dan menta’dil-kan riwayat hadits-haditsnya, salah satunya adalah imam Yahya bin Ma’in yang memberi predikat kepadanya “tsiqah” dan al-Daruqatni memberi predikat kepadanya “Sadhuq kabir al-Mahal”.

Setelah mengorbankan harga dan raganya untuk mengabdi pada kitab Allah, pada tahun 245 H beliau dipanggil oleh pemiliknya. Semoga kita dapat meniru kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu dan keberkahannya mengalir kepada kita. Amin. 

2. Ibnu Dzakwan

Namanya adalah Abdullah bin Basyar (sebagian riwayat namanya: Basyir) bin Ibnu Dzakwan bin Amr. Panggilannya adalah Abu Muhammad, ada yang mengatakan Abu Amr al-Dimasyqi.

Ibnu Dzakwan merupakan seorang imam yang tsiqah dan terkenal, juga sebagai syaikh iqra’ di Syam dan menjadi imam masjid di Damaskus. Selain itu, ia juga merupakan pamungkas masyikhah iqra’ di Damaskus setelah wafatnya Imam Hisyam bin Ammar.

Beliau lahir pada bulan Asyura’ tahun 173 H. 

Perjalanan intelektual dan Transmisi Sanadnya

Perjalanan intelektual imam Ibnu Dzakwan ini dimulai belajar satu guru ke guru yang lain. Ada banyak guru dan tempat yang sempat ia singgahi namun dari sekian gurunya yang paling dikenal adalah: (1) Ayyub bin Tamim dari Yahya al-Dzimari dari Ibnu Amir. Kepada imam Ayyub ini beliau belajar qira’at Al-Qur’an secara langsung. (2) Ali al-Kisa’I, seorang imam qira’at ketujuh. Kepada Imam Ali ini, Ibnu Dzakwan belajar qira’at saat beliau berkunjung ke negara Syam. Imam Ibnu Dzakwan berkata: saya menetap bersama al-Kisa’I selama tujuh bulan dan saya membaca Al-Qur’an kepadanya berulangkali. (3) Ishaq bin al-Musayyibi dari Imam Nafi’. Kepada ishaq ini, Ibnu Dzakwan belajar sebagian “huruf” qira’at.

Komentar Ulama

Imam Abu Zar'ah al-Dimasyqi berkata: Menurut saya tidak ada di Iraq, Syam, Hijaz, Mesir dan Kharrasan pada masa Ibnu Dzakwan yang paling mahir soal qira’at dibanding dia.

Karya-karya Ibnu Dzakwan

Karya yang berbentuk tulisan adalah sebagai berikut: (1) Aqsam Al-Qur’an wa Jawabuha, (2) Ma Yajibu ‘Ala Qari’ Al-Qur’an Inda harakati Lisanihi.

Murid-muridnya

Imam Ibnu Dzakwan adalah seorang imam yang sangat terkenal pada masanya, beliau memiliki predikat tsiqah dan sebagai masyikhah iqra’ di Damaskus. Maka tak ayal jika banyak para penuntut ilmu yang datang dari berbagai belahan dunia Islam, salah satunya adalah anaknya sendiri, yaitu Ahmad bin Abdullah bin Dzakwan, Ahmad bin Anas, Ishaq bin Daud, Abu Zar’ah Abdurrahman bin Amr al-Dimasyq, Abdullah bin Isa al-Ashbahani, Muhammad bin Ismail al-Turmudzi, Muhammad bin Musa al-Shuri dan Harun bin Musa al-Akhfasy.

Setelah mengerahkan jiwa dan raga untuk mengabdi kepada kitab Allah dan menorehkan karya yang gemilang, beliau wafat pada tahun 243 H di kota Qita. Semoga kita mendapatkan barokah dan meniru perjalanan hidupnya. Amin.

 
Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa Ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010, hal, 23-25; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin, Jilid I [Bairut: Dar al-Jayl], 1992)