::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Doa Pertama yang Diajarkan Allah

Rabu, 06 Februari 2019 22:45 Nasional

Bagikan

Doa Pertama yang Diajarkan Allah
Jakarta, NU Online
Al-Fatihah merupakan urutan surat pertama di dalam kitab suci Al-Qur’an. Di dalam surat yang disebut sebagai ummul kitab tersebut, terdapat doa pertama yang diajarkan Allah SWT dalam Al-Qur’an.

Hal itu diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim. Doa tersebut terkait dengan memohon petunjuk jalan lurus yang dibahasakan sebagai shirathal mustaqim.

“Doa pertama yang diajarkan Allah di Surat Al-Fatihah adalah, Tunjukkan kami Shirathal Mustaqim,” ujar Kiai 
Luqman dikutip NU Online, Rabu (6/2) lewat twitternya.

Lebih lanjut, Direktur Sufi Center Jakarta itu merinci maksud doa shirathal mustaqim, yaitu jalan lurus menuju Allah, jalan istiqomah, jalan para Nabi, Wali, orang-orang shaleh, serta jalan berlimpah nikmat-Nya.

“Nikmat kita dilahirkan di dunia dan nikmat dilimpahi Islam, Iman, Ihsan,” imbuhnya.

Kiai Luqman juga mencatat, shirathal mustaqim sebagai jembatan yang harus dilalui manusia secara hakikat bukan hanya ada di akhirat, tetapi juga ada di dunia.

Menurutnya, saat ini di dunia, manusia sedang melintasi shirathal mustaqim. Jalan yang dipilih manusia akan mengantarkannya untuk mendapat nikmat atau sebaliknya, neraka.

Neraka di dunia yang berada di bawah jembatan shirathal mustaqim menurut penulis buku Jalan Ma'rifat ini ialah neraka caci maki, jilatan api fitnah, dendam, jahanam kemungkaran, dan kegelapan kekufuran.

“Sekarang, di dunia ini, kita sedang melintasi shirathal mustaqim. Di bawah ada neraka caci maki, jilatan api fitnah, dendam, jahanam kemungkaran, bahkan kegelapan kekufuran,” jelas Kiai Luqman. (Fathoni)