::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pertanyaan Cak Nun yang 'Menampar' Nahdliyin di Karanganyar

Kamis, 07 Februari 2019 11:00 Nasional

Bagikan

Pertanyaan Cak Nun yang 'Menampar' Nahdliyin di Karanganyar
Harlah NU di Karanganyar bersama Cak Nun (3/2)
Karanganyar, NU Online
Muhammad Ainun Najib alias Cak Nun menyempatkan datang dan bermesraan bersama masyarakat Karanganyar, Jawa Tengah pada peringatan Harlah ke-93 NU yang digelar PCNU Karanganyar.

Dibuka dengan shalawat dari Gamelan Kiai Kanjeng, gerimis menyambut para jamaah yang datang dari beberapa penjuru daerah di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar. Penuh sesak dengan jamaah yang duduk bersila mendengarkan dengan hikmat acara yang berlangsung Ahad (3/2) malam itu.

Cak Nun dan NU

Uniknya malam itu, Cak Nun mencoba inovasi baru dalam konsep Sinau Bareng. Karena mengusung tema Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama, Memperkokoh Ukhuwah Wathoniyah, ulama penggagas maiyah ini merangsang jamaah, khususnya Nahdliyin untuk kembali belajar tentang ke-NU-an.

Pembahasan pertama pun dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu lekat dengan NU. Dengan  imbalan uang untuk memancing jamaah ikut berkontribusi dalam pelajaran dasar ke-NU-an. Menariknya adalah beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Cak Nun gagal dijawab oleh jamaah. Seolah hadirin diajari mulai dari dasar materi yang seharusnya mendarah daging.

Sementara Cak Nun yang sedari kemunculannya tidak mengatakan sebagai NU atau Muhammadiyah (motor MuhammadiNu), menjadi guru yang sabar dan bijak untuk kembali meningkatkan kecintaan jamaah kepada Nahdlatul Ulama.

Beberapa pertanyaan yang cukup menggelitik di antaranya, "Di mana KH Hasyim Asy’ari dilahirkan?, siapa penggagas atau yang memberi restu kepada KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Nahdlatul Ulama?, siapa yang mengantarkan tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Mbah Hasyim Asy’ari?, kapan resolusi jihad digaungkan?, apa motif seruan untuk resolusi jihad?”

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang seharusnya lekat dangan para Nahdliyin. Namun, banyak yang gagal menjawab dengan benar. Seperti ternyata Hadratusyekh Hasyim Asy’ari lahir di Demak 10 April 1875 atau 24 Dzulqaidah 1287 H.

Kemudian Syaikhona Kholil Bangkalan menyuruh KH As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari sebagai bentuk restu pendirian Nahdlatul Ulama. Bentuk fundamental NU dalam kemerdekaan adalah diperingatinya hari santri nasional yang merupakan peringatan resolusi jihad 22 Oktober 1945 di Surabaya.

Selain itu, Cak Nun juga menjelaskan tentang sejarah Muhammadiyah sebagai 'saudara' Nahdlatul Ulama. Mengenalkan pengaruh Kiai Ahmad Dahlan dan kisah perjuangan dakwah di Keraton Yogyakarta.

Ulama yang hampir menginjak usia 66 tahun ini juga mengajak jamaah, khususnya Nahdliyin untuk membentengi diri dari sikap provokatif dari pihak luar. NU harus menjadi pondasi penebar benih toleransi. Menciptakan kedamaian dari intervensi yang bertujuan memecah umat beragama dan bernegara. Wujudnya bisa dengan menghilangkan sifat benci atau kebencian terhadap kelompok lain. 

Pesan KH Ahmad Muzammil

Pada kesempatan tersebut, KH Ahmad Muzammil, pengasuh Pondok Pesantren Rohmatul Umam Kretek, Bantul, Yogyakarta turut memberikan pesan-pesan kepada para jamaah tentang empat prinsip dasar Nahdlatul Ulama.

Pertama adalah tawassuth yang artinya tengah-tengah atau tidak ekstrem kanan dan ekstrim kiri. Kedua, adalah tawazun, sebagai penyeimbang. Ketiga, tasamuh atau toleran yang kemudian ditafsirkan sebagai sikap empati. Terakhir adalah amar ma’ruh nahi mungkar atau sikap al-i’tidal atau adil dan bersikap lurus.

Tak lupa KH Ahmad Muzammil yang juga santri dari KH As'ad Syamsu Arifin ini menjelaskan tentang pengaruh Cak Nun dalam belantika perjalanan Nahdlatul Ulama. Dimulai dari santri seperjuangan KH Hasyim As’ari dan KH Ahmad Dahlan, yakni Kiai Imam Zahid yang merupakan kakek dari Muhammad Ainun Najib. Pesan pemberian simbol cincin oleh Syaikhona Kholil Bangkalan yang bertujuan untuk 'mengawinkan' Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah agar tidak mudah diadu domba untuk senantiasa menjaga NKRI.

Selain itu juga diceritakan bahwa paman dari Kiai Ahmad Muzamil menjadi penengah saat terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama NU tahun 80-an.

Sebelum acara puncak Sinau Bareng Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng, PCNU Kabupaten Karanganyar mengadakan rangkaian acara di pagi hari dengan Istighotsah Akbar dan Pelantikan PC Pergunu. Acara dihadiri banom dan lembaga NU seperti IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Ansor, Banser, dan lain sebagainya.

Dipimpin oleh Ketua Tanfidiyah PCNU Karanganyar, KH Khusaini Hasan, acara menyambut satu abad Nahdlatul Ulama berjalan lancar hingga tengah malam. Selain Cak Nun, di panggung juga dihadiri oleh Bupati Karanganyar, Juliatmono, Kapolres, Danramil. (Joko Yuliyanto/Kendi Setiawan)