::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketua NU Sumedang: Waspadai Pengancam Jamiyah dan Indonesia

Ahad, 10 Februari 2019 20:30 Daerah

Bagikan

Ketua NU Sumedang: Waspadai Pengancam Jamiyah dan Indonesia
Konsolidasi PCNU Sumedang jelang seabad jamiyah.
Sumedang, NU Online
Tujuh tahun lagi Nahdlatul Ulama (NU) akan memasuki usia satu abad. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat menggelar konsolidasi organisasi, Sabtu (9/2).

Haji Sa'dulloh mengatakan bahwa dalam satu rangkaian konsolidasi ini diisi pemaparan materi tentang identifikasi ancaman terhadap jamiyah, Islam moderat dan stabilitas keamanan nasional. “Hal ini dilakukan supaya para pengurus NU mengetahui ancaman terhadap NU dan terhadap keamanan Indonesia,” kata Ketua PCNU Sumedang tersebut.

Selain itu, Haji Sa'dulloh juga memaparkan bahwa konsolidasi dilaksanakan supaya NU tetap eksis dalam melayani masyarakat. “Malahan eksisnya tidak sampai di usia satu abad saja, mudah-mudahan sampai yaumil akhir,” harapnya di hadapan hadirin. 

Ada beberapa agenda di tahun ini dalam rangka menjaga eksistensi NU ke depan. Di antaranya akan menyelenggarakan PCNU Sumedang Award. “Tujuanya untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dan peran pengurus Majelis Wakil Cabang atau MWCNU yang ada di Sumedang dalam mengelola organisasi,” ungkapnya. MWC NU yang masuk nominasi juara, nanti akan diberikan penghargaan, lanjut Haji Sa'dulloh. 

Selain itu dirinya turut berpesan kepada seluruh pengurus MWC NU untuk segera membentuk kepengurusan ranting. “Bulan Maret diharapkan semua pengurus ranting sudah terbentuk dan sudah memiliki SK,” tandasnya. 

Konsolidasi dihadiri Bupati Sumedang, fungsionaris PCNU, lembaga, badan otonom, pengurus MWCNU, dan pengurus ranting di Sumedang. (Ayi Abdul Kohar/Ibnu Nawawi)