::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pemilu 2019, Golput Bukan Sikap Warga NU

Senin, 11 Februari 2019 11:00 Daerah

Bagikan

Pemilu 2019, Golput Bukan Sikap Warga NU
Ilustrasi (Ist.)
Jombang, NU Online
Waktu pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 semakin dekat. Warga Nahdlatul Ulama (NU) diimbau untuk turut menyukseskan perhelatan pesta demokrasi tersebut dengan tidak golput. Sebab golput bukan sikap atau budaya warga NU.

Hal ini disampaikan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kiai Usman Hasan dalam pada acara Pengajian Rutinan Ahad Legi MWCNU Mojowarno, Ahad (10/2) malam di Masjid Al Ikhlas, Catakgayam Selatan, Mojowarno.

"Warga Nahdliyin yang mempunyai hak suara wajib hadir di TPS tanpa terkecuali," jelasnya.

NU dan warganya, menurut dia, hendaknya menjadi teladan bagi masyarakat luas dalam menyukseskan hajatan lima tahunan itu. Caranya adalah dengan menggunakan hak pilihnya dengan baik dan benar. 

"Sebagai Ormas terbesar di Indonesia bahkan terbesar di dunia warga NU harus menjadi pemain bukan lagi menjadi penonton. Oleh karena itu luangkan 10 menit untuk hadir di TPS," ujar dia.

Hak suara setiap warga Negara Indonesia, terlebih warga NU sangat menentukan semakin maju dan atau sebaliknya. Bisa dibilang, tuturnya, nasib bangsa dan negara berada pada bagaimana menggunakan hak pilihnya pada 17 April 2019 mendatang.

"Jika warga NU apatis terhadap Pemilu kemudian golput, dan misalnya orang yang tidak berpihak pada NU memenangkan pertandingan, maka bisa jadi keberlangsungan NU perlahan sirna di Bumi Nusantara ini," ucapnya.

Jika sudah demikian, imbuh dia, tentu kegiatan dan amaliyah serta ubudiyah seperti tahlilan, ziarah kubur, manakib dan lain sebagainya, tak lagi dapat dilestarikan senyaman dan seleluasa seperti saat ini. (M. Khakim/Syamsul Arifin/Muhammad Faizin)