::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Eksistensi Gender dalam Islam Jadi Pembahasan PMII Putri Mempawah

Ahad, 17 Februari 2019 06:00 Daerah

Bagikan

Eksistensi Gender dalam Islam Jadi Pembahasan PMII Putri Mempawah
Peserta Sekolah Islam Gender Kopri Mempawah, Kalbar.
Mempawah, NU Online
Sejumlah cara dilakukan demi mempererat dan perkuat kaderisasi. Salah satunya yang dilakukan Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri atau Kopri Cabang Mempawah, Kalimantan Barat dengan menggelar Sekolah Islam Gender (SIG).

Kegiatan yang berlangsung di Yayasan Al-Ma’arif NU, jalan Bardanadi, Antibar, Mempawah Timur, Mempawah, Kalimantan Barat tersebut mengusung tema Eksistensi Gender dalam Konsep Islam.

Dalam pandangan Suci Andriati, kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk lebih memantapkan konsep gender, yang mana materinya telah diberikan waktu Pelatihan Kader Dasar(PKD). "Setiap kader harus memiliki komitmen dan konsep terhadap nilai-nilai pergerakan, sehingga siap bergerak demi PMII,” katanya, Sabtu (16/2).

Sedangkan Ustadz Hamid mengemukakan bahwa yayasan yang dipimpinnya selalu siap untuk ditempati kegiatan PMII. “Selama ada koordinasi, kami selalu siap,” kata Ketua Yayasan Al-Ma'arif NU ini.

Nurul Hidayah selaku Ketua Korps PMII Putri Cabang Mempawah menuturtkan bahwa acara ini sudah dikonsep jauh hari sebelumnya. “Dengan kegiatan ini diharapkan peserta memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai terkait masalah kesetaraan gender,” ungkapnya.

Umam selaku Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Mempawah berharap kepada seluruh peserta agar serius dalam mengikuti pengkaderannya. “Karena ini sangat penting dan akan menjadi sebuah momentum berharga bagi peserta,” tandasnya.

Kegiatan dihadiri mantan Ketua Umum PC PMII, Fatayat NU, IPPNU dan sejumlah badan otonom lain. (Ibnu Nawawi