::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (3 Habis):Shalat 5 Waktu dan Adab Laki Perempuan

Jumat, 22 Februari 2019 03:00 Esai

Bagikan

Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (3 Habis):Shalat 5 Waktu dan Adab Laki Perempuan
Oleh Ali Makhrus 

Dialog guru Durno dan Petruk semakin memanas. Selain, karena Durno kalah debat dan tanya soal ilmu iman, ilmu triguna yang tidak dimengerti oleh
Durno. Durno semakin malu, tidak terima, lantas dia mengajukan pertanyaan.

Durno: “Hayo Petruk, sekarang saya yang bertanya. Apa yang saya bawa?” pintanya emosi.

Petruk: “Tasbih, bukan?

Durno: “Ada berapa jumlahnya?”

Petruk: “Jumlahnya ada 120!”

Durno: “Kalau saya buang separo, sisa berapa?”

Petruk: “Sisa 60 biji!”

Durno: “Ke-60 itu kemana?”

Petruk: “30 ke dewa, 30 ke wuku!”

Durno: “60 biji saya buang 10, sisa berapa?”

Petruk: “Sisa sepuluh!”

Durno: “Yang 50, kemana?”

Petruk: “30 ke aksara Arab, 20 ke aksara Jawa, betul atau tidak?”

Durno: “Iya, memang benar”.

Ternyata, apa yang ditanyakan ke Petruk berhasil terjawab dengan tepat. Durno semakin jengkel. Kemudian, Petruk kembali bertanya kepada Guru

Durno tentang keharusan sebagai seorang muslim sehari semalam. Dengan dialog sebagai berikut:

Petruk: “Sekarang, saya bertanya sekali lagi. Guru Durno, anda sering membawa tasbih, kopiah, jubah dalam setiap penampilan, apa agama yang Anda anut?”

Durno: “Saya menganut agama Islam!”

Petruk: “Baik, lantas Anda menganut agama Islam, ada berapa kali orang Islam menjalankan kewajiban ritual kepada Tuhan sehari semalam?”

Durno: “Lima kali dalam sehari semalam!”

Petruk: “Kapan saja waktunya?”

Durno: “Pertama itu maghrib, kedua isya’, ketiga subuh, keempat dhuhur dan kelima ashar!”

Petruk: “Baiklah, saya balik bertanya lagi. Adanya shalat waktu di waktu maghrib, lantas maghrib itu maksudnya apa? pengertiannya ada dimana? Petunjuknya apa? Sastranya apa? Nabinya siapa? Ada berapa rakaat?"

Durno: “Ya emboh, pokoknya aku tidak nabi-nabian, pokoknya yang lain merunduk, aku merunduk, yang lain sujud, saya ikut sujud, kebutuhanku yang
penting jidatku ngapal dan biar kelihatan hitam, begitu!”

Petruk: “Loh, berarti shalat Anda itu tidak beres!?”

Durno: “Ya wes ben, shalat saya seperti robohnya pisang!”

Petruk: “Loh, seorang kiai shalat asal robohnya pisang. Kalau kiai seperti itu berarti anda mencelakakan orang lain, tapi Anda tidak merasa!”

Durno: “Loh, apa Anda tahu, maghrib itu maksudnya apa? Pengertiannya ada dimana? Petunjuknya apa? Sastranya apa? Nabinya siapa? Ada berapa rakaat?”

Petruk: “Nyuwun sewu, Anda kasih tebakan atau bertanya?”

Durno: “Ya, kali ini saya bertanya sedikit saja,” bisiknya lirih ke telinga Petruk.

Petruk: “Kalau ini tebakan, tidak apa-apa. Hanya saja kalau tidak ada taruhannya kurang seru?”

Durno: “Memang kamu butuh uang berapa?”

Petruk: “Tidak mau, buat apa uang? Bagi Petruk uang tidak penting! begini saja, bagi yang kalah diludahi bagaimana?”

Durno: “Baiklah, kalau memang Anda tahu!” jawabnya jengkel.

Petruk: “Maghrib itu adalah ngauripi (menghidupi)”

Durno: “Pengertian maghrib ada dimana?”

Petruk: “Ada di punggung.”

Durno: “Petunjuk maghrib hari apa?”

Petruk: “Hari senin!”

Durno: “Apa sastra maghrib?”.

Petruk: “Lam!”

Durno: “Nabi maghrib siapa?”

Petruk: "Baginda Nabi Nuh."

Durno: “Ada berapa rakaat?”

Petruk: “Ada tiga rakaat.”

Durno: “Loh, Anda bisa mengatakan maghrib ada tiga, menetapnya ada dimana?”

Petruk: “Ada di ahadiyah, wahdah dan wahidiyah!”

Durno: “Baiklah, sekarang yang kedua, kalau shalat isya, bagaimana!” tanyanya lagi.

Petruk: “Waktu isya’ adalah demang (langgeng/sentosa)”

Durno: “Pengertian isya ada dimana?”

Petruk: “Ada di otak.”

Durno: “Petunjuk isya’ hari apa?”

Petruk: “Hari Kamis!”

Durno: “Apa sastra isya?”

Petruk: “Nun!”

Durno: “Nabi isya siapa?”

Petruk: "Baginda Nabi Isa."

Durno: “Isya’ ada berapa rakaat?”

Petruk: “Ada empat rakaat.”

Durno: “Loh, Anda bisa mengatakan isya ada empat rakaat, menetapnya apa?

Petruk: “Rasa wadi, madi, mani dan maningkem!”

Durno: “Anda bisa mengatakan ada rasa madi, wadi, mani dan maningkem, maksudnya apa biar hati puas?”

Petruk: “Rasa wadi, madi, mani dan maningkem itu berkaitan dengan hubungan antar suami istri, akan melewati rasa madi. Pertama rasa wadi adalah ketika berhubungan suami istri pertama melewati rasa wadi atau malu! Artinya ketika dua insan hendak berhubungan suami istri baiknya di tempat yang tertutup, tidak serta merta halal lantas ugal-ugalan di pinggir jalan. Kemudian kedua rasa madi artinya rasa samar dan khawatir. Khawatir tentang bagaimana kelanjutan kehidupan ekonomi, anak, dst. Ketiga adalah mani artinya rasa enak. Maksudnya adalah ketika suami istri terjadi proses keluarnya itu merupakan kenikmatan yang biasa dirasakan. Keempat adalah rasa maningkem (urip). Artinya, manusia itu harus punya rasa hidup.

Durno: “Iya, baiklah! Sekarang yang ketiga?”

Petruk: “Subuh, maksudnya sawiji tan kena kawoworan. Pengertiannya ada di ngalam tumpak, maksudnya ngalam itu cahaya, tumpak itu pusar, petunjuknya hari Jumat, sastranya Kaf, nabinya baginda Adam as, jumlahnya dua rakaat berupa zat dan sifat! Keempat, waktu dhuhur, maksudnya cahyo, pengertiannya ada di salam, sebelum salam adalah jasad, petunjuknya adalah hari Rabu, sastranya alif, nabinnya baginda Musa as, ada empat rakaat berupa wujud ilmu nur syuhud. Kelima, adalah ashar, maksudnya ma’rifat, petunjuknya qalbu, sebelum qalbu itu fuad, sebelum fuad itu jasad, sebelum jasad itu rasa, sebelum rasa itu puji, tan kena dipegat tan keno diucap, sudah tersimpan di alam samiyat atau sama.

Durno: “Iya, iya, iya saya mengerti!”

Petruk: “Ohya, yang salah tebak-tebakan diludahi kan! juhh, juuhh, juuh! Klomoh pora kowe!?”

Durno: “Aduh biyung, aduh biyung!”

Melalui dialog terakhir ini, kita dapat memperoleh suatu nilai luhur perihal shalat lima waktu yang tidak banyak diketahui orang. Shalat tidak hanya persoalan legal-formal sebuah perintah agama, namun ada nilai historis dan filosofis yang patut direnungkan oleh setiap orang Muslim, dan itu diamanatkan kepada sang Nabi terakhir, Muhammad SAW dan umatnya. Selain itu, pada dialog ketiga ini, kita juga diingatkan perihal jalinan laki-laki dan perempuan yang beradab dan beretika.
Baca bagian sebelumnya: Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (2): Petruk dan Durno Berdebat Soal “Sifat Manusia”

Wallahu a’lamu bis shawab... 


Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta