::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Jenazah Pengurus NU Setelah Puluhan Tahun Dimakamkan

Selasa, 05 Maret 2019 11:30 Daerah

Bagikan

Kisah Jenazah Pengurus NU Setelah Puluhan Tahun Dimakamkan
KH Ubaidillah Shadaqah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah
Magelang, NU Online
Suatu hari ada permasalahan di sebuah daerah terkait Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang harus dipisahkan antara muslim dan non-muslim. Masyarakat sepakat untuk membuat tembok pemisah antara kedua lokasi tersebut.

Namun pembangunan tembok tersebut harus membongkar salah satu makam warga yang bernama Mujiono. Makam itu sudah ada sejak sepuluh tahun lalu.

Setelah disiapkan segala sesuatunya untuk membongkar makam tersebut, termasuk kain kafan yang nantinya akan digunakan untuk membungkus kembali jenazah, dimulailah penggalian makam tersebut.

Namun ketika digali, jenazah Mujiono masih utuh terbungkus kain kafan dan kainnya pun masih terlihat putih.

"Saya tanya sebenarnya siapa itu Pak Mujiono?," tanya Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shadaqah kepada saudaranya yang tinggal di daerah tersebut.

Ternyata, Pak Mujiono adalah seorang pengurus Ranting daerah tersebut yang posisinya dibagian A'wan (Anggota). Dia sering membantu ketika ada acara NU dengan menyiapkan tenda dan menata kursi.

Kisah kondisi jenazah seorang pengurus Ranting NU di daerah Donorejo, Sragen, Jawa Tengah ini disampaikannya saat memberi sambutan pada Konferensi Cabang NU Kabupaten Magelang di Pesantren Raudlatut Thullab Wonosari, Tempuran, Ahad (3/3).

Sosok Mujiono ini menurut Kiai Ubaidillah bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi segenap pengurus NU untuk berkhidmah di NU dengan niat yang benar. Seorang Pak Mujiono yang semasa hidupnya hanya pengurus A'wan, tidak pernah di panggil "Romo Kiai" apalagi "diciumi tangannya" saja bisa seperti ini.

"Mari tata niat berkhidmat di NU untuk agama Islam," ajaknya pada pada acara yang mengangkat tema Meneguhkan Kemandirian Jama'ah dan Jam'iyyah Menuju Satu Abad NU.

Prestasi dan kenaikan karir di NU menurut Kiai Ubaidillah bukanlah diukur dari kenaikan posisi karir disetiap levelnya. Bukan karir kepengurusan dari tingkat ranting NU naik sampai dengan PBNU.

"Kenaikan karir di jam'iyyah diukur dari bertambahnya waktu bersama jama'ah. Yang tadinya (berkunjung) ke ranting satu jam, sekarang jadi dua jam, tiga jam dan seterusnya," katanya. (Red: Muhammad Faizin)