::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU Harus Jangkau Milenial

Sabtu, 13 April 2019 23:00 Nasional

Bagikan

NU Harus Jangkau Milenial
Muskercab NU Bekasi, Sabtu (13/4).
Bekasi, NU Online
Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdalla mengatakan NU harus bisa tampil dengan kemasan yang menarik agar dapat menjadi organisasi yang sesuai dengan konteks zaman. 

"NU harus bisa tampil dengan kemasan yang keren. Harus itu," tegasnya dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) NU Kota Bekasi, di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja, Bekasi Selatan, Jawa Barat, Sabtu (13/4).

Ia mengajak pengurus NU Bekasi, agar tidak mengabaikan peran penting generasi milenial. Menurutnya, tidak ada cara lain yang bisa ditempuh, kecuali NU harus hadir di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Tetapi, kata Gus Ulil, keren itu bukan semata-mata harus mengikuti gaya generasi milenial. Dicontohkan, sarung misalnya. Kini, banyak sarung yang diberi corak batik sehingga menarik untuk diminati banyak orang. Padahal, sarung merupakan bagian dari kebudayaan yang kurang diminati oleh masyarakat, terutama di luar lingkungan pesantren.

"Jadi, kita bermain simbol. Itu perlu dihadirkan ke ruang publik dengan tampilan yang lebih keren di mata anak milenial. Begitu juga peci, tasbih, serban, dan simbol-simbol yang menjadi khas NU," terang Gus Ulil.

Menurutnya, agar NU bisa hadir kembali di masyarakat perkotaan, maka perlu dihadirkan simbol-simbol yang menjadi khas NU dengan kemasan yang keren.

"Contoh lainnya juga soal pendidikan pesantren. Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU juga sudah melakukan dengan jargon Ayo Mondok. Akhirnya mondok itu tidak menjadi sesuatu yang kampungan," kata menantu KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus ini.

Simbol-simbol tersebut, jika tidak segera digarap oleh NU maka besar kemungkinan akan digunakan oleh kelompok lain, bahkan kelompok yang bertentangan dengan NU.

"Simbol itu kita butuhkan untuk mengenalkan NU di perkotaan. Sekalipun simbol itu hanya bagian permukaan saja. Tapi simbol adalah wasilah untuk memperkenalkan tradisi atau kekhasan NU. Jangan sampai simbol kita direbut orang lain," pungkas Gus Ulil yang pada kesempatan tersebut juga menegaskan kesiapannya untuk membantu mengembangkan NU Bekasi. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)