::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH WAHAB CHASBULLAH

Dedengkot NU yang Tak Pernah Lepas Peci dan Sarung

Sabtu, 10 November 2007 06:26 Warta

Bagikan

Dedengkot NU yang Tak Pernah Lepas Peci dan Sarung
Jakarta, NU Online
Selain Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari, dikenal pula nama KH Wahab Chasbullah yang disebut-sebut sebagai ‘dedengkot’ Nahdlatul Ulama (NU). Namanya memang tak setenar KH Hasyim Asy’ari. Namun, kiprahnya dalam membesarkan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Tanah Air ini, tak bisa dikecilkan.

Kiprahnya di panggung politik pada periode awal kemerdekaan pun dicatat sendiri oleh sejarah. Kiai Wahab bersama kaum pergerakan lainnya, seperti, Ki Hajar Dewantoro, Dr Douwes Dekker, Dr. Rajiman Wedyodiningrat, duduk dalam Dewam Pertimbangan Agung, kemudian berkali-kali duduk dalam kursi parlemen sampai akhir hayatnya pada 1971.<>

Namun, Rais Aam NU pertama yang juga pendiri Sarikat Islam (SI) Cabang Makkah itu pun dikenal sangat bersahaja dan sederhana. Ia juga dikenal sebagai kiai yang tak pernah meninggalkan identitas ke-NU-annya. Ia selalu setia mengenakan sarung dan serban. Pakaian semacam itu ia kenakan juga saat berada di parlemen, Istana Presiden atau di front pertemuan.

“Beliau (Kiai Wahab, Red) ke mana-mana selalu pakai peci, kadang serban. Ke luar negeri, kalau diajak Bung Karno, ke Rusia, Eropa, Amerika Serikat, mesti pakai sarung dan peci,” katat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj.

Bahkan, tutur Kang Said—begitu panggilan akrabnya—suatu ketika, Kiai Wahab berbicara dalam sidang parlemen. Sebelum naik podium, ia terlebih dahulu membetulkan letak serbannya. Pada saat itu, katanya, ada mulut usil nyeletuk, “Tanpa serban kenapa sih?” Sambil menunjuk serbannya, Kiai Wahab kontan menjawab, “Serban Diponegoro!”

Ketika berdiri di podium, sang kiai, sambil menunjuk serbannya berkata, “Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Imam Bonjol, Teuku Umar, semuanya pakai serban.” Karuan saja ruangan sidang dipenuhi gelak tawa anggota parlemen.

Peran paling menonjol dari Kiai Wahab dalam hal ini adalah sebagai negosiator antara kepentingan NU dan pihak pemerintah. Tidak heran, dengan fungsinya itu Kiai Wahab sangat dekat dengan presiden dan pejabat tinggi lainnya.

Dalam intern NU sendiri puncak karier Kiai Wahab adalah ketika bersama-sama tokoh muda lainnya, seperti, KH Wahid Hasyim dan Idham Chalid menjadikan NU sebagai partai politik bersaing dengan partai lainnya yang lebih dahulu mapan dalam gelanggang politik Indonesia dan diterima secara bulat dalam Muktamar NU tahun 1952.

Pada waktu itu, situasi hubungan antara NU dan Masyumi dan juga tokoh-tokohnya amat tegang. Meskipun Dr. Sukiman sendiri menyaksikan peristiwa keluarnya NU dari Masyumi, hal itu tidak cukup untuk mengatasi situasi tersebut. Situasi ragu dan tegang juga menghantui pengikut dan pimpinan NU yang semula duduk dan aktif dalam Masyumi. Dalam situasi seperti itu, Kiai Wahab tampil dengan sikap khasnya, yaitu tegas dan berwibawa.

Katanya, “Siapa yang masih ragu, silakan tetap dalam Masyumi. Saya akan pimpin sendiri partai ini (NU). Saya hanya memerlukan seorang sekretaris dan Tuan-tuan silakan lihat apa yang akan saya lakukan!”

Alhasil. Beberapa tahun kemudian, dalam Pemilu 1955 Partai NU keluar sebagai salah satu partai terbesar di samping PKI, PNI dan Masyumi.

Kiai Wahab juga dikenal sebagai pengatur strategi perjuangan NU yang baik dalam kancah pergolakan dan turun naiknya politik Islam, mulai dari pembentukan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia), Masyumi, sampai NU keluar dari partai Islam tersebut. (rif)