::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjaga Kedamaian Indonesia Pascapemilu

Sabtu, 20 April 2019 15:00 Risalah Redaksi

Bagikan

Menjaga Kedamaian Indonesia Pascapemilu
Pesta akbar demokrasi berupa pemilihan umum yang diselenggarakan pada 17 April 2019 lalu disambut dengan antusias oleh rakyat Indonesia. Masyarakat berbondong-bondong mendatangi TPS untuk memberikan suaranya. Warga di perantauan juga terlihat mendaftar ke KPUD Kabupaten/Kota agar bisa pindah tempat memilih. Hal yang sama terlihat dari membludaknya pemilih di luar negeri. Tentu saja mereka berharap agar kandidat yang mereka pilih dapat memimpin Indonesia dan menunaikan program beserta janji yang telah diucapkan selama kampanye. 

Secara umum pemilu yang menghabiskan anggaran 24.9 triliun rupiah ini berlangsung sukses. Hitung cepat yang diselenggarakan oleh sejumlah lembaga survey memenangkan pasangan 01, Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin. Namun demikian, hasil hitung cepat hanya berupa prediksi yang tidak dapat digunakan untuk mengambil keputusan sekalipun pada pemilu-pemilu sebelumnya, hasil hitug cepat dapat menjadi prediksi perolehan suara. Resminya, KPU akan memutuskan pemenang pipres pada tanggal 22 Mei 2019. 

Dalam sebuah kontestasi, menang atau kalah merupakan hal yang biasa. Sikap legowo bagi yang kalah akan mendatangkan simpati masyarakat sementara sikap tidak jumawa bagi yang menang akan menghindari adanya permusuhan dari pihak yang kalah. Masing-masing pihak telah mengerahkan strategi terbaik dan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk meraih kemenangan. Sebagai manusia, masing-masing telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi sebagai umat beragama, kita percaya ada kekuatan Tuhan yang menentukan segalanya. Tentu ada hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman tersebut.

Rakyat Indonesia telah banyak belajar bagaimana menghadapi pemilu. Pascareformasi, pemilu sudah diselenggarakan 1999,2004, 2009, 2014, dan 2019. Sikap dewasa telah terlihat dalam proses pelaksanaan maupun menerima hasilnya. Kini, masyarakat sedang menunggu hasil resmi dari KPU yang akan menjadi acuan dari semua pihak yang terlibat dalam proses pemilihan.

Para penyelenggara pemilu pun sekarang lebih profesional dalam melaksanakan tugasnya. Tingkat transparansi penyelenggaraan juga jauh lebih baik karena adanya keterlibatan masyarakat dan dukungan teknologi seperti adanya situs kawalpemilu.org atau aplikasi Ayo Jaga TPS. Berbagai kekurangan tentu saja masih terjadi, tapi jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, tentu lebih baik.

Berbeda dengan pemilu sebelumnya yang memisahkan antara pemilihan pemilu parlemen dan pemilu presiden. Pemilih harus mencoblos lima kertas suara yang meliputi pasangan capres-cawapres, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Kali ini, semuanya dijadikan satu. Akibatnya, penghitungan suara berlangsung sampai malam, bahkan dini hari. Tentu saja, hal seperti ini perlu diperbaiki di masa mendatang.

Mereka yang kalah pasti tidak puas, tetapi hal tersebut tidak boleh dilampiaskan dalam tindakan-tindakan anarkis yang merugikan banyak orang. Cara-cara kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Kalah dalam pemilu, berarti menunjukkan bahwa dukungan yang mereka peroleh tidak sebagaimana yang mereka bayangkan. Kemampuan untuk mengumpulkan massa besar di ibu kota hanya menunjukkan sebagian kecil dukungan yang mereka peroleh karena ada 192 juta rakyat Indonesia yang berhak menentukan pemimpinnya. Dan banyak di antara mayoritas tersebut adalah mayoritas diam. 

Penyelenggaraan pemilu yang transparan dan akuntabel akan membuat hasilnya memiliki kredibilitas tinggi. KPU dalam hal ini beberapa kali mendapat serangan hoaks seperti server sudah didesain untuk memenangkan kandidat 01 dengan kemenangan 57 persen, padahal mekanisme penghitungan dilakukan secara manual dan berjenjang dari bawah, hoaks tujuh kontainer sudah tercoblos, padahal surat suara belum dicetak. Dan banyak lagi. 

Rilis yang disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi menyatakan bahwa penyebaran hoaks meningkat dengan drastis menjelang pemilu. Bahkan setelah usai proses pencoblosan, beragam hoaks tentang hasil pemilu yang beredar di media sosial terus menyebar. Para penyelenggara hitung cepat dianggap melakukan kecurangan atau sudah dibeli pihak tertentu untuk menggiring opini. Padahal, mereka sudah secara rutin menyelenggarakan hal tersebut setiap ada penyelenggaraan pemilu, baik pemilu tingkat nasional atau pilkada. Masyarakat menjadi kebingungan, siapa yang sesungguhnya menang dalam pilpres kali ini.  

Bagi pihak yang memenangkan kontestasi, tentu ini merupakan kepercayaan rakyat yang harus dijaga dengan baik. Janji-janji yang sudah disampaikan dalam kampanye harus segera ditunaikan. Masih banyak sekali pekerjaan rumah bagi para pemimpin Indonesia agar negara ini sejajar atau bahkan lebih maju dibandingkan dengan negara lain. Tingkat kesejahteraan, kualitas pendidikan, kesehatan, dan beragam indikator lainnya menunjukkan bahwa posisi Indonesia belum bagus-bagus amat. Belum lagi jika kita bicara soal korupsi yang masih marak di Indonesia.

Kini saatnya semua pihak menahan diri, mengawasi seluruh proses dan tahapan pemilu yang masih terus berjalan agar semuanya berjalan dengan baik. Sesungguhnya, keberhasilan pemilu ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Bukan kemenangan satu kelompok saja karena seluruh rakyat nantinya yang akan merasakan hasil baik atau buruk dari pemilu ini. (Achmad Mukafi Niam)