::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perintah Nabi Muhammad untuk Bersikap Moderat

Selasa, 23 April 2019 05:30 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Perintah Nabi Muhammad untuk Bersikap Moderat
“Sebaik-baiknya perkara adalah yang tengah-tengah,” kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits.

Nabi Muhmammad saw. mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap moderat atau tengah-tengah dalam berbagai hal, termasuk dalam beragama. Tidak berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga melupakan kehidupan dunia. Ataupun sebaliknya. Semua harus dijalani secara seimbang dang proporsional.

Suatu ketika Nabi Muhammad saw. pernah menegur Abdurrahman bin Amr bin Ash yang karena berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga mengabaikan istrinya. Abdullah bin Amr menghabiskan waktunya hanya untuk shalat –baik wajib ataupun sunnah, puasa, dan dzikir. Dia tidak pernah sekedar beristirahat apalagi bergumul dengan istrinya.

Istri Abdullan bin Amr mengeluh dengan kelakuan suaminya yang lebih mementingkan ibadah dan melupakan dirinya. Istri Abdullan bin Amr lalu mengadu kepada Nabi Muhammad saw. dan menceritakan perilaku suaminya yang seperti itu. Nabi Muhammad saw. kemudian memanggil Abdullah bin Amr dan memerintahkan untuk bersikap moderat. Tidak berlebih-lebihan dalam beragama.

“Abdullah, saya itu juga sering menjalankan ibadah shalat, puasa dan ibadah lainnya. Tapi saya juga istirahat juga 'berkumpul' bersama istriku. Kalau dirimu beribadah terus tanpa memberi perhatian istrimu maka tidak kuakui sebagai umatku,” kata Nabi Muhammad saw. 

Di lain waktu, hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. kepada sahabatnya yang lain, Hanzhalah. Nabi Muhammad saw. memerintahkan Hanzhalah untuk berlaku moderat. Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Musnad karya Imam Ahmad, dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’in al-Hasyimi, 2018), pada saat itu Nabi Muhammad saw. menyampaikan sebuah wejangan kepada para sahabatnya di sebuah majelis sehingga membuat hati mereka tersentuh dan menangis. Hanzhalah yang hadir pada kesempatan itu juga bergetar hatinyya hingga menitikkan air mata.

Setelah majelis selesai, Hanzhalah pulang ke rumah. Ia berbincang-bincang dengan istrinya tentang hal ihwal duniawi. Perbincangan itu rupanya membuat Hanzhalah terbuai sehingga membuatnya melupakan apa yang telah ia rasakan ketika bersama Nabi Muhammad saw. Di tengah percakapan yang begitu seru dengan istrinya, Hanzhalah tiba-tiba tersadar dan segera ingat dengan apa yang dia rasakan ketika bersama Nabi Muhammad saw. di majelis.

Hanzhalah merasa dirinya telah melakukan kemunafikan. Alasannya, sebelumnya dia menangis sesenggukan dan hatinya bergetar ketika mendengar wejangan Nabi Muhammad saw., namun sesaat setelahnya dia dengan istrinya asyik membicarakan hal-hal yang bersifat duniawi dan melupakan apa yang dirasakan ketika bersama Nabi Muhammad saw. Hanzhalah kemudian menghadap kepada Nabi Muhammad saw. Dia mengatakan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa dirinya telah berbuat kemunafikan. 

Di hadapan Nabi Muhammad saw., Hanzhalah mengungkapkan bahwa dirinya seharusnya selalu ingat dan merasakan perasaan yang sama –dimanapun ia berada- seperti ketika berada dalam majelis bersama Nabi Muhammad saw. Yakni selalu bergetar hatinya dan berlinang air matanya karena mendengar mauidzah Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, ia menganggap dirinya telah melakukan kemunafikan karena hatinya ‘yang mudah berubah’ seperti itu. 

“Wahai Hanzhalah, kalau kamu berada dalam kondisi seperti itu terus (hatinya bergetar dan matanya berlinang), maka malaikat akan menjabat tanganmu di jalan dan di pembaringanmu. Tetapi Hanzhalah, bersikaplah moderat, dengan terkadang serius, dan terkadang rileks,” kata Nabi Muhammad saw. (Muchlishon)