::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Angka Kesalehan Sosial 2018 Sebesar 75,79 Persen

Rabu, 08 Mei 2019 19:00 Balitbang Kemenag

Bagikan

Angka Kesalehan Sosial 2018 Sebesar 75,79 Persen
Relawan membagikan kurma menjelang puasa salah satu tanda kesalehan (foto: LAZISNU Cilacap)
Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama merilis survei terbaru tentang Indeks Kesalehan Sosial (IKS) pada 2018. Hasil survei menunjukkan bahwa secara nasional, IKS sebesar 75,79 persen. Selanjutnya dengan simpangan baku 7,15 persen, maka IKS Tahun 2018 signifikan di angka 76,00 persen dengan cut off di angka 65,00 persen.

Survei IKS ini difokuskan pada sepuluh dimensi kesalehan sosial, yaitu sikap memberi (giving), sikap peduli (caring), sikap menghargai perbedaan nilai-nilai kehidupan, sikap tidak memaksakan nilai, sikap tidak menghina atau merusak nilai yang berbeda, keterlibatan dalam demokrasi, keterlibatan dalam perbaikan kinerja pemerintahan (good governance), pencegahan kekerasan fisik, budaya, dan struktur, konservasi lingkungan, dan restorasi lingkungan.

Secara rinci, dari sepuluh dimensi tersebut ditemukan fakta bahwa skor dimensi kesalehan sosial tertingi adalah dimensi keterlibatan dalam demokrasi dengan nilai 90,47 persen. Kemudian diikuti dengan dimensi tidak menghina dengan nilai 88,26 persen. Sedangkan dimensi kesalehan sosial terendah (di bawah skor nasional) adalah sikap menghargai perbedaan dengan nilai 50,10 persen; kemudian di atasnya adalah sikap peduli (caring) dengan nilai 61,09 persen. 

Aspek-aspek yang memengaruhi IKS di masyarakat antara lain aspek status perkawinan, perbedaan layanan keagamaan, pendidikan, pendapatan, habituasi keluarga, dan kegiatan kementerian. Sementara aspek-aspek yang tidak memengaruhi IKS di masyarakat, adalah aspek jenis kelamin dan pengetahuan.

Selain itu, hasil survei IKS Tahun 2018 juga menemukan bahwa kategori dimensi internal umat beragama berada pada skor terendah, 66,18 persen, di bawah kategori dimensi eksternal umat beragama (72,73 persen) dan kategori dimensi komitmen pada negara (81,00 persen).

Survei ini menggunakan instrumen kuesioner. Teknik yang digunakan adalah teknik sampling heterogen, Stratified Random Sampling, dengan PSU kabupaten dan kota tempat berkumpulnya umat beragama. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error persen. Survei ini menyasar pada 30 kabupaten/kota yang tersebar di seluruh Indonesia yang mewakili enam agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Survei dilaksanakan pada tanggal 15 Mei sampai 4 Juni 2018.

Skala pengukuran survei ini menggunakan skala sikap Thurstone 1- 10, dengan melibatkan 30 responden setiap kabupaten/kota, yang berasal dari unsur rohaniwan, pengurus rumah ibadah, dan umat. Adapun data yang dihasilkan kemudian dianalisis menggunakan statistik Inferensial Structural Equation Modeling (SEM).

Berdasarkan hasil survei tersebut, setidaknya terdapat dua rekomendasi yang harus menjadi perhatian ke depan. Pertama, sikap menghargai perbedaan dan sikap peduli harus menjadi dimensi prioritas pembinaan masyarakat yang dilakukan semua Direktorat Jenderal Bimas Agama dan pihak-pihak terkait. Pasalnya, skor dua dimensi tersebut menjadi terendah hasil survei IKS 2018.

Kedua, beberapa aspek yang mempengaruhi IKS pada survei tahun 2018 ini seyogianya menjadi perhatian para pemangku jabatan di lingkungan Kementerian Agama juga kementerian terkait, agar indeks kesalehan sosial masyarakat Indonesia lebih meningkat. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)