::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Witir

Sabtu, 11 Mei 2019 18:30 Ramadhan

Bagikan

Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Witir
Ilustrasi (via Pinterest)
Ritual yang tidak bisa dilepaskan dari shalat tarawih adalah tiga rakaat shalat witir yang dilakukan setelahnya. Biasanya, setelah tarawih selesai, dibacakan doa kamilin oleh imam dengan diamini oleh segenap jamaah. Setelah membaca doa kamilin, dikumandangkan seruan shalat witir oleh sang bilal sebagai tanda akan segera dilakukan shalat witir. 

Bacaan surat Al-Qur’an shalat witir bisa berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang membaca Surat al-A’la, sebagian membaca al-Ghasyiyah, dan lain sebagainya. Itu untuk dua rakaat awal. Sedangkan untuk satu rakaat terakhir, hampir di setiap tempat membaca surat al-Iklash, al-Falaq dan an-Nas. Sebenarnya, apa bacaan Surat Al-Qur’an yang dianjurkan dalam shalat witir?

Baca juga: 
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Tarawih
Bacaan Bilal dan Jawabannya dalam Tarawih
Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih
Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat bahwa yang disunnahkan dibaca pada dua rakaat awal shalat witir adalah Surat al-A’la (rakaat pertama) dan al-Kafirun (rakaat kedua).

Sedangkan untuk satu rakaat akhir, terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat). Menurut Syafi’iyyah, yang dibaca adalah Surat al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas), sementara menurut Hanabilah cukup Surat al-Ikhlash, tanpa al-Mu’awwidzatain.

Dasar yang dipakai kalangan Syafi’iyyah adalah hadits riwayat an-Nasai dan Ibnu Majah, ketika Sayyidah Aisyah ditanya, surat apa yang dibaca Nabi di dalam shalat witir, beliau menjawab, rakaat pertama surat al-A’la, rakaat kedua surat al-Kafirun, rakaat ketiga al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain.

Syekh Zainuddin al-Malibari berkata:

ويسن لمن أوتر بثلاث أن يقرأ في الأولى {سَبِّحِ} وفي الثانية {الْكَافِرُون} وفي الثالثة الإخلاص والمعوذتين للاتباع

“Dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat, membaca surat Sabbihis di rakaat pertama, surat al-Kafirun di rakaat kedua, surat al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain di rakaat ketiga, karena mengikuti Nabi,” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 290).

Mengomentari referensi tersebut, Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad mengatakan:

ـ (قوله: ويسن لمن أوتر بثلاث أن يقرأ الخ) أي لما رواه النسائي وابن ماجة: سئلت عائشة رضي الله عنها بأي شئ كان يوتر رسول الله - صلى الله عليه وسلم -؟ قالت: كان يقرأ في الأولى بسبح اسم ربك الأعلى، وفي الثانية بقل يا أيها الكافرون، وفي الثالثة بقل هو الله أحد والمعوذتين

“Ucapan Syekh Zainuddin; “dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat dan seterusnya”; karena hadits riwayat Imam an-Nasai dan Ibnu Majah, bahwa Sayyidah Aisyah ditanya, dengan apa Nabi melakukan witir? Aisyah menjawab, Nabi di rakaat pertama membaca Sabbihi Isma rabbikal A’la, di rakaat kedua membaca Qul Ya Ayyuhal Kafirun, dan di rakaat ketiga membaca Qul huwa Alllahu Ahad dan al-Mu’awwidzatain,” (Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad al-Bakri, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 290).

Ulama Hanabilah berargumen dengan hadits riwayat Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi membaca di dalam shalat witir surat al-A’la, al-Kafirun dan al-Ikhlash, tanpa menyebutkan al-Mu’awwidzatain. Menurut kalangan Hanabilah, hadits yang disampaikan Syafi’iyyah terdapat Yahya bin Ayyub yang notabenenya lemah riwayatnya.

Syekh Ibnu Quddamah menjelaskan:

فصل: ويستحب أن يقرأ في ركعات الوتر الثلاث، في الأولى ب {سبح} ، وفي الثانية {قل يا أيها الكافرون} [الكافرون: 1] ، وفي الثالثة {قل هو الله أحد} [الإخلاص: 1] . وبه قال الثوري، وإسحاق، وأصحاب الرأي. وقال الشافعي: يقرأ في الثالثة {قل هو الله أحد} [الإخلاص: 1] ، والمعوذتين. وهو قول مالك في الوتر. وقال في الشفع: لم يبلغني فيه شيء معلوم

“Fasal, disunnahkan membaca di beberapa rakaat witir yang tiga, di rakaat pertama membaca surat Sabbihis, rakaat kedua qul ya ayyuhal kafirun dan rakaat ketiga qul huwa Allahu Ahad, ini adalah pendapatnya al-Tsauri, Ishaq dan para pemilik pendapat (Hanafiyyah). Imam al-Syafii berkata, di rakaat ketiga membaca qul huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain, ini adalah ucapannya Imam Malik dalam kasus rakaat ganjil. Sedangkan untuk rakaat genap, Imam Malik berkata, tidak ada hadits yang diketahui menerangkan hal tersebut.”

وقد روي عن أحمد، أنه سئل، يقرأ بالمعوذتين في الوتر؟ قال: ولم لا يقرأ، وذلك لما روت عائشة، «أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان يقرأ في الركعة الأولى " بسبح "، وفي الثانية " قل يا أيها الكافرون "، وفي الثالثة " قل هو الله أحد "، والمعوذتين» ، رواه ابن ماجه

“Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau ditanya, apakah beliau membaca surat al-Muawwidzatain di dalam witir? Beliau menjawab, kenapa tidak dibaca surat itu? Yang demikian ini berdasarkan hadits Nabi, bahwa Rasulullah membaca di rakaat pertama surat sabbihis dan qul ya ayyuhal kafirun, di rakaat ketiga surat Qul Huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain. Hadits diriwayatkan Ibnu Majah.”

ولنا: ما روى أبي بن كعب، قال «كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يوتر " بسبح اسم ربك الأعلى و " قل يا أيها الكافرون " و " قل هو الله أحد» رواه أبو داود، وابن ماجه. وعن ابن عباس مثله. رواه ابن ماجه

“Dan menunjukan kepada pendapat kami, hadits riwayat Ubay bin Ka’ab beliau berkata; Rasulullah melakukan witir dengan membaca Sabbihisma rabbikal a’la, Qul ya ayyuhal kafirun dan Qul huwa Allahu ahad. Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah. Dan dari Ibnu Abbas terdapat riwayat yang senada, hadits riwayat Ibnu Majah.”

 وحديث عائشة في هذا لا يثبت؛ فإنه يرويه يحيى بن أيوب، وهو ضعيف. وقد أنكر أحمد ويحيى بن معين زيادة المعوذتين

“Dan haditsnya Aisyah di dalam kasus ini tidak tetap (kesahihannya), sesungguhnya hadits tersebut diriwayatkan oleh Yahya bin Ayyub, dan ia tergolong lemah. Imam Ahmad dan Yahya bin Muin mengingkari penambahan surat al-Muawwidzatain,” (Syekh Ibnu Quddamah, al-Mughni, juz 2, hal. 121).

Demikianlah penjelasan mengenai bacaan surat Al-Qur’an dalam shalat witir. Ikhtilaf ulama dalam hal ini tidak untuk bahan saling menyalahkan. Silakan mengikuti pendapat yang kita yakini benar, tanpa harus mencela pendapat lain. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.