::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Berkaca dari Sejarah Madinah, Kiai Syarif: Jangan Khianati Komitmen Kebangsaan

Selasa, 14 Mei 2019 01:10 Nasional

Bagikan

Berkaca dari Sejarah Madinah, Kiai Syarif: Jangan Khianati Komitmen Kebangsaan
Bukber di Kantor PWNU Jakarta
Jakarta, NU Online
Madinah merupakan kota yang berisi ragam etnis dan agama yang dianut oleh penduduknya. Mereka telah lelah menjalani kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian. Tindakan saling menyakiti, bahkan membunuh di antara sesama warganya sering kali terjadi.

Menurut Pengasuh Pesantren Ummul Qura Pondok Cabe, Tangerang Selatan, KH Syarif Rahmat, keadaan tersebut membuat utusan dari Madinah menemui Nabi Muhammad yang kala itu masih di Makkah. Mereka bertanya ke Nabi perihal gagasan dari ajarannya.

"Rasulullah diperintah oleh Allah untuk hijrah ke Madinah," kata Kiai Syarif pada acara silaturahmi dan buka puasa bersama di Gedung PWNU DKI Jakarta, Senin (13/5).

Lantas, Kiai Syarif mengemukakan kondisi politik di Madinah yang disebutnya telah ada sejumlah kekuatan politik, baik yang berbasis agama maupun etnis. "Hal pertama yang dilakukan Rasulullah adalah mengundang tokoh-tokoh agama dan etnis yang ada di Madinah untuk membuat pakta integritas (komitmen bersama)," ucapnya.

Pakta integritas itu pun disepakati oleh semua penduduk Madinah sebagaimana diabadikan oleh Al-Qur'an dalam Surat Al-Baqarah ayat 84.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ لاَ تَسْفِكُوْنَ دِمَاءَكُمْ وَلاَ تُخْرِجُوْنَ أَنْفُسَكُم مِّنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَ أَنْتُمْ تَشْهَدُوْن

Artinya: "Dan (ingatlah) takkala kami perbuat perjanjian dengan kamu; tidak boleh kamu menumpahkan darah kamu, dan tidak boleh kamu mengeluarkan diri-diri kamu dari kampung halaman kamu. Kemudian telah ikrar kamu, dan kamu pun menyaksikannya".

Menurutnya, ketika suku Aus dan Khazraj diserang, maka suku dan agama yang lain juga ikut membela, tapi sangat disayangkan, ketika musuh Islam yang dari luar Madinah menyerang, terdapat orang-orang Yahudi yang mengkhianati.

"Ada sekelompok manusia yang berkhianat, yaitu orang-orang Yahudi. Ketika mereka berperang, umat Islam ikut membela, yang lain ikut membela, tapi ketika orang Islam diserang, orang-orang Yahudi ada yang bergabung dengan pasukan musuh, yang paling kecil membocorkan (rahasia) umat Islam," terangnya.

Atas penghianatan tersebut, kemudian Allah merespons sebagaiamana tertera di Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 85.

ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلاَءِ تَقْتُلُوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَ تُخْرِجُوْنَ فَرِيْقاً مِّنْكُمْ مِّنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَ الْعُدْوَانِ وَ إِنْ يَأتُوْكُمْ أُسَارَى تُفَادُوْهُمْ وَ هُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَ تَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Menurut Kiai Syarif, melalui sejarah pengkhianatan oleh sekelompok Yahudi yang terjadi di Madinah harus menjadi pelajaran bagi Indonesia pada saat ini, yakni ketika ancaman pengkhianatan atau upaya sekelompok orang yang ingin memecah persatuan Indonesia.

Indonesia, sambungnya, merupakan negara yang beragam suku dan agamanya. Namun, para pendiri bangsa telah bersepakat membuat komitmen menjaga NKRI. "Jangan pernah ada di antara kita yang mengkhianati ini (komitmen para pendiri bangsa)," ucapnya. (Husni Sahal/Muiz)