::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ramadhan adalah Bulan Dzikir

Kamis, 16 Mei 2019 12:30 Ramadhan

Bagikan

Ramadhan adalah Bulan Dzikir
Sekarang kita akan membahas Ramadhan menggunakan kacamata Prof. Dr. Syekh Abdul Halim Mahmud (1910-1978 M), Grand Syekh al-Azhar yang ke-46. Syekh Abdul Halim Mahmud memandang Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, tapi juga bulan dzikir dan doa. Beliau menempatkan dzikir (mengingat Allah) sebagai salah satu hikmah diwajibkannya puasa Ramadhan (laqad dzakara Allah SWT min hikmah fardlih). (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadlân, Kairo: Darul Ma’arif, tt, h. 99). Dasar argumentasinya adalah firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS al-Baqarah [2]: 183)

Dalam ayat di atas, terdapat kalimat “agar kalian bertakwa”, artinya takwa menjadi salah satu alasan diwajibkannya puasa. Takwa sendiri sangat terkait dengan, “imtitsâl awâmirillah wa ijtinâb nawâhîhi—menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya” (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr Jalalain, Kairo: Darul Hadits, 2018, h. 3). Karena itu, untuk bertakwa, seseorang harus berlatih keras untuk selalu mengingat Allah (dzikir), sehingga dapat merasakan karunia dan pengawasan-Nya. Ketika kita hendak melakukan keburukan, kita merasakan pengawasan-Nya, dan ketika kita hendak melakukan kebaikan, kita tak lupa bersyukur kepada-Nya.

Dalam pandangan Syekh Abdul Halim Mahmud, dzikir berperan penting dalam menjaga ketakwaan seseorang, atau minimal menstabilkannya. Beliau membagi pendekatan anjuran dzikir dalam dua kelompok (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadlân, h. 100-101):

1. Allah menganjurkan dzikir dalam bentuk amar (perintah)

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut) nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS al-Ahzab [33]: 41)

Firman Allah lainnya yang menunjukkan amar (perintah):

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raf [7]: 205)

2. Allah menganjurkan dzikir dalam bentuk âkhkhâdz (pikatan/memikat)

Dikatakan “âkhkhâdz” karena Allah menjanjikan secara langsung imbalannya, atau ada janji timbal balik yang sangat jelas. Tidak hanya itu, Allah menjanjikan imbalan yang jauh lebih besar dari dzikir yang diungkapkan hamba-Nya. Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku maka Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan jangan kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS al-Baqarah [2]: 152)

Janji Allah ini dipertegas dalam hadis Qudsi yang mengatakan:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُكَ، فِي مَلَأٍ خَيْرٌ مِنْهُ وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي شِبْرًا دَنَوْتُ مِنْكَ ذِرَاعًا، وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي ذِرَاعًا دَنَوْتُ مِنْكَ بَاعًا، وَإِنْ أَتَيْتَنِي تَمْشِي أَتَيْتُكَ هرولة"

"Hai anak Adam, jika kamu mengingatKu di dalam dirimu, Aku ingat pula kepadamu dalam diri-Ku. Jika kamu mengingat-Ku di dalam suatu golongan, Aku ingat pula kepadamu di dalam golongan yang lebih baik dari golongan itu. Jika kamu mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadamu satu hasta. Jika kamu mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadamu satu depa. Dan jika kamu datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadamu dengan berlari.” (HR Imam Bukhari)

Bagi Syekh Abdul Halim Mahmud, diwajibkannya puasa untuk memastikan ketakwaan seseorang dan merealisasikannya. Beliau menggambarkan takwa sebagai komitmen terhadap sesuatu yang telah ditetapkan Allah (iltizâm mâ rasama Allah) dalam segala sesuatu, misalnya dalam kekayaan dan kemiskinan; dalam sehat dan sakit, dalam gerak dan diam (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadlân, h. 100).

Memang Allah telah menetapkan segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang luput dari ketetapan-Nya. Meski demikian, Syekh Abdul Halim Mahmud memandang ketakwaan seseorang bisa menjadi jalan keluarnya. Dengan alasan, Allah yang menetapkan, maka Allah pula yang dapat mengubahnya. Dalam hal ini, menurut Syekh Abdul Halim Mahmud, kuncinya adalah ketakwaan. Ia mengatakan:

فإذا التزم الإنسان التقوي فإنّ الله سبحانه وتعالي يجعل له من كل ضيق فرجا, ومن كل هم مخرجا, ويرزقه من حيث لا يحتسب

Karena itu, jika seseorang berkomitmen dalam ketakwaan, Allah akan menjadikan untuknya kelapangan di setiap kesulitan, jalan keluar di setiap kesusahan, dan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadlân, h. 100)

Dasar pendapatnya adalah firman Allah yang mengatakan:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan mengadakan jalan keluar untuknya. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS al-Thalaq [65]: 2-3)

Ayat tersebut oleh Syekh Abdul Halim Mahmud digunakan sebagai jalan pembuka ketetapan (takdir) Allah. Dengan takwa semua jalan akan dibuka, diluaskan dan diberkahi. Karena itu, jangan lupa perbanyak dzikir dan doa di bulan Ramadhan ini. Siapa tahu kita mendapatkan jalan keluar dan rizki yang tak disangka-sangka. Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.