::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tanpa Toleransi, Indonesia Hanya Tinggal Nama

Selasa, 28 Mei 2019 06:00 Daerah

Bagikan

Tanpa Toleransi, Indonesia Hanya Tinggal Nama

Jember, NU Online
Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Antirogo, Kecamatan Sumbersari Jember Jawa Timur, tak pernah kering dari prestasi. Tidak hanya murid-muridnya yang langganan juara, tapi ustadzahnya juga tidak mengecewakan dalam sejumlah ajang nasional. Salah satunya adalah Ana Safitri. Staf pengajar tahfidz MTs Unggulan Nuris ini berhasil merengkuh juara 2  dalam Pekan Tilawatil Quran Emas Tingkat Nasional ke-50 untuk Cabang Lomba Tausiyah di Islamic Center Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), pekan lalu.

“Alhamdulillah, kami bisa. Itu sangat membanggakan,” ujar Ustadzah Ana kepada NU Online di kompleks Nuris, Ahad (27/5).

Tak berlebihan kiranya jika Ana mengaku bangga. Sebab, untuk mencapai itu dirinya harus melewati sejumlah tahapan, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, dan terakhir di tingkat nasional.

Setelah meraih juara 1 di tingkat kebupaten, Ana berlanjut ke tingkat provinsi, dan lagi-lagi lolos. Di situ diambil 10 peserta terbaik untuk mewakili Korwil 10 Jawa Timur. Dan Ana mantap menatap juara di level berikutnya (nasional).

“Tak disangka, lolos di Jawa Timur saja sudah syukur,” lanjutnya.

Ana menuturkan, di level nasional terdiri dari dua babak,  yaitu semi final dan  final. Di babak semi final, ia mengusung tema tausiyah bejudul Alquran menjawab tantangan revolusi industri 4.0. Sebuah tema yang sangat menarik. Dengan tema itu, Ana masuk tiga besar, babak final.

“Revolusi industri tidak bisa dibendung, dan cenderung liar jika tidak hati-hati. Karena itu, Al-Quran telah memberi petujuk dalam menyikapi kemajuan zaman,” urainya.

Menurut Ana, babak final cukup rumit. Sejumlah tema materi telah disiapkan oleh juri. Dan juri-lah yang memilihkan tema untuk masing-masing peserta. Ana kebetulan mendapat tema Toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dikatakan Ana, tema tersebut cukup strategis dikumandangkan menyusul munculnya sejumlah kasus yang menisbikan adanya perbedaan.

“Toleransi adalah sebuah keharusan di tengah perbedaan agama, budaya dan golongan. Tanpa toleransi, Indonesia hanya tinggal nama,” pungkasya. (Aryudi AR).