::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Melihat-lihat Arsitektur Masjid Kontroversial Kang Emil

Ahad, 02 Juni 2019 15:31 Esai

Bagikan

Melihat-lihat Arsitektur Masjid Kontroversial Kang Emil
Oleh Didin Sirojuddin AR

Masjid Al-Safar rancangan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) mendapat pelbagai tanggapan netizen. Rancangan masjid oleh RK yang sarat dengan simbol segitiga pada sejumlah bagiannya dianggap menyerupai piramida iluminati yang memiliki citra negatif dalam narasi ajaran Islam.

Masjid Al-Safar terletak di rest area KM 88 B Tol Cipularang, Jawa Barat. Masjid Al-Safar menurut RK merupakan desain arsitekturnya sejak 2012 M. Desain arsitektur RK yang penuh dengan nuansa segitiga oleh sebagian netizen dinilai cukup dekat dengan simbol iluminati, terutama pada bagian mihrab masjid yang terdapat sebuah titik besar.

Tidak ada salahnya dengan nuansa segitiga yang memenuhi Masjid Al-Safar rancangan Kang Emil (RK) di rest area KM 88 B  tol  Cipularang. Bentuk triangular atau piramida hanyalah pilihan, sama dengan diagonal, oxtagonal, dan hexagonal.

Arsitektur masjid tidak menentukan bentuk karena yang membuat monumen itu dianggap bangunan Islam bukan bentuknya, melainkan tujuannya. Nabi Muhammad SAW juga tidak melarang atau menyuruh (bentuk tertentu), yang berarti hukumnya boleh (مباح).

Kalau angka atau kata “tiga”-nya yang dipersoalkan, ini lebih tidak logis lagi. Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW bahkan menyebut berkali-kali kata “tiga” sebagai angka favorit. Saya sendiri mencatat lebih 20  hadits Nabi Muhammad SAW yang diawali kata ثلاث/ tsalas yang bermakna tiga. Belum lagi kata ثلاث yang berada di tengah-tengah.

Mempertanyakan "Sebetulnya kita menghadap siapa, menghadap Allah atau segitiga tersebut?" sama dengan menuduh/meragukan atau mencurigai orang yang melakukan shalat. Pasalnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran Muslim untuk menyembah benda apa pun selain Allah.

Meskipun terhalang batu besar, meja, mobil, tembok, atau simbol segitiga, konsentrasi seorang Muslim dalam melaksanakan shalat pastilah hanya kepada Allah. Menghadap Ka'bah pun tidak berarti menyembah benda kubus tersebut seperti disangkakan beberapa kalangan yang tidak paham akan hal ini. Jadi, simbol segitiga atau apa pun tidak ada urusan, tepatnya, tidak akan mengganggu arah kiblat.

Penting sekali kita memahami seni Islam, wa bil khusus arsitektur masjid supaya ibadah menjadi terasa lebih indah dan tidak mudah menyalahkan. Masjid dianggap wakil paling menonjol dari arsitektur Islam yang lain (seperti istana, benteng, pasar, makam, madrasah, dan caravanserai).

Dalam lingkup masjid ada mihrab, mimbar, kubah, menara, dikkah, kursi, sampai pintu dan  jendela yang juga tidak ditentukan bentuknya. Justru kita ditantang untuk mengembangkannya atau menemukan  bentuk-bentuk baru.

Berbeda dengan gaya arsitektur masjid Arab, Moor, Turki, Persia atau India yang ruang tengahnya sering ditutup kubah besar lengkap dengan penyangga-penyangga sisinya, masjid gaya Indonesia dominan beratap puncak piramida yang khas.

Saya lihat hasil karya Kang Emil ini adalah perpaduan atau ramuan yang disesuaikan bentuknya dengan selera daerah lokal. Lebih baik kita sambut ragam variasi hias ini, supaya kita menjadi kaya dan tambah luas wawasan. Insyaallah.


Penulis adalah pendiri Lembaga Kaligrafi (Lemka). Selain mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, ia juga mengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi, Jawa Barat.