::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Halal bi Halal dan Sarasehan Kebangsaan NU Australia Barat

Selasa, 11 Juni 2019 08:30 Internasional

Bagikan

Halal bi Halal dan Sarasehan Kebangsaan NU Australia Barat

Australia, NU Online
Konflik adalah hal yang wajar dalam sebuah negara yang multi etnis dan agama seperti Indonesia. Namun sayang,  agama kerap dijadikan ‘alat pembeda’ yang justru berfungsi  sebagai angin besar untuk meniup bara konflik hingga terbakar.

Demikian dikemukakan dosen Psikologi Universitas Indonesia dan Universitas Pertahanan, Ichsan Malik saat menjadi nara sumber dalam Halal bi Halal dan Sarasehan Kebangsaan di Manning Community Hall, Western Australia, Ahad (9/6).

Menurutnya, riak-riak konflik jamak terjadi di negara sebesar Indonesia. Namun yang mesti diwaspadai adalah bagaimana konflik itu tidak menjadi konflik yang mengarah pada kekerasan. Karena itu, konflik seharusnya  disikapi secara dewasa, misalnya  dengan cara-cara dialog, pendekatan sosial dan sebagainya.

“Umumnya kita mendekati konflik dengan cara ngamuk dan lari dari konflik, itu yang bahaya,” tukasnya.

Ichsan menambahkan, salah satu sumber konflik adalah munculnya gerakan radikal yang diakibatkan oleh pemahaman yang hitam putih dalam menafsirkan perintah agama. Sehingga pemahaman agama secara benar teramat sangat penting untuk menghindari ‘salah tafsir’ terhadap perintah agama. Karena itu,  ‘pelurusan sejarah’ atas  pemikiran yang keliru itu harus dilakukan, dan itu merupakan tanggung bersama. Selain itu, kebersamaan segenap anak bangsa tak boleh diacuhkan.

“Mari kita fokus pada masa depan (Indonesia) dengan mengedepankan kebersamaan, mengatasi sekat perbedaan etnik dan agama,” jelas pria yang pernah menjadi fasilitator perdamaian di Asia itu.

Sementara itu, Konsulat Jenderal RI,  Dewi Gustina Tobing mengajak warga Perth (Australia) untuk menjaga toleransi dan memupuk kerjasama lintas agama.

“Toleransi penting  untuk mempuk kebersamaan,” terangnya seraya  memberikan apresiasi dan berharap  agar kegiatan-kegiatan semacam itu terus dilakukan.

Dalam acara yang digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU) Western Australia bekerja sama dengan  AIPSSA (Association of Indonesian PostGradute Student and Scholars in Austtalia), dan KJRI Perth tersebut dihadiri oleh sekitar 100 peserta, termasuk pimpinan ormas di wilayah Perth.  

Bertidak selaku moderator sarasehan itu adalah  Presiden AIPSSA dan juga Koordinator Kajian dan Diskusi di Western Australia , Ridwan al-Makassary. (Red: Aryudi AR).