::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mencari Barokah Guru Sama Penting dengan Mencari Ilmu

Selasa, 11 Juni 2019 17:30 Daerah

Bagikan

Mencari Barokah Guru Sama Penting dengan  Mencari Ilmu

Buleleng, NU Online
Menjadi orang pintar dan memahami ilmu agama secara mendalam adalah tugas mahasantri di Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IPKHAC) Mojokerto, Jawa Timur. Sebab tugas mereka memang untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal hidup dan kejayaan NU.

Hal tersebut diungkapkan Koordintor Wilayah IV Pengurus Pusat Pergunu (wilayah Bali, NTB dan NTT), Lewa Karma saat memberikan sambutan dalam Halal bi Halal Mahasantri IPKHAC PP Amanatul Ummah dengan Pergunu Bali di kediaman H Maksum Amin, kavling Jalak Putih Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali, Ahad (10/6).

Menurut Lewa, puluhan mahasantri yang dikirim PW Pergunu Bali untuk belajar di IPKHAC Mokoerto dengan beasiswa merupakan bagian dari upaya untuk mencetak kader NU yang mumpuni, karena selama ini Bali memang kekurangan SDM (sumber daya manusia). Oleh karena itu, para mahasantri tersebut harus fokus dalam melaksanakan tugasnya agar misi beasiswa tercapai.

“Tapi jangan lupa bahwa apapun yang terjadi di pondok dan kampus,  prinsipnya tidak boleh lupa dengan tujuan utama, yaitu mencari ilmu dan mencari barokah kiai,” tukasnya.

Lewa mengingatkan bahwa mencari barokah kiai tak kalah pentingnya dengan mencari ilmu itu sendiri. Sebab, barokah guru dan kiai merupakan unsur penting dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat. Kenyataannya, banyak orang pandai, tapi ilmunya tidak barokah, dalam arti tidak bemanfaat sebagaimana lazimnya.

“Yang ada,  malah kecakapan mereka, kepandaian mereka  bukan untuk kemashlahatan umat tapi justru melahirkan kegaduhan di tengah-tengah masyarkat. Bukan karena mereka tidak pandai, tapi ilmunya tidak barokah,” ucapnya.

Di bagian lain, Lewa menyatakan bersyukur kepada Allah atas  bantuan beasiswa yang diberikan kepada kader  NU Bali.  Dikatakannya, KH Asep Saefuddn Abdul Chalim selaku pemberi beasiswa, layak menjadi teladan karena  komitmennya yang tinggi dalam mencetak kader NU yang qualified. Langkah besar kiai asal Mojokerto itu kelak akan menghasilkan mutiara-mutiara  yang sangat berharga bagi masa depan NU dan bangsa.

Halal bi halal tersebut berjalan dalam suasana yang cukup akrab. Selain dihadiri oleh kader NU Buleleng, juga tampak hadir sejumlah perwakilan wali/orang tua mahasantri dari Kabupaten Klungkung dan Karangasem. (Red: Aryudi AR).